“Esok hanya bayangan, kumiliki hari ini
Betapa banyak rasa kecewa sebab masa nanti
Tiada kusadari itu hingga aku melihat
Bahwa tak pernah kuamati indahnya dunia ini”

—Puisi Rubaiyat al-Khoyyam

Mari kita sejenak melihat ke belakang bagaimana peradaban islam lahir dan bertumbuh secara gemilang melintasi zaman. Kemajuan peradaban Islam tentunya tidak luput dari peran para ilmuwan muslim yang bernaung di dalamnya. Sebut saja Omar Khayyam (1048-1131), salah satu dari deretan nama besar ilmuwan muslim kita. Omar merupakan seorang ilmuwan dalam bidang astronomi, matematika, filsafat, bahkan kedokteran, yang kehebatanya telah tersohor di manapun. Tak sampai disitu, kepiawaianya dalam bersyair juga tak diragukan lagi, setelah lahirnya mahakarya puisi Rubaiyat yang telah ditulisnya.

Ilmuwan yang hidup pada masa abad pertengahan ini lahir di Nishapur Iran. Memiliki nama lengkap Ghiyasuddin Abulfath Omar bin Ibrahim Khayami. Disebut “Khayyam”, karena keluarganya merupakan pembuat tenda. Dari Samarkand hingga Bukhara telah ia lalui demi pencarian ilmu. Hidup yang berpindah-pindah inilah yang membuat Omar menjadi semakin ahli dan memiliki banyak pengalaman.

Dalam bidang astronomi, pada tahun 1079 ia telah menghitung lama satu tahun sebagai 365,2421985816 hari, yang memiliki selisih hanya terdapat di desimal ke-6, sepersekian detik dari angka yang kita ketahui di masa sekarang yaitu 365,242190. Kemudian dalam bidang matematika Omar telah melahirkan karya dalam bentuk buku, salah satunya berjudul Maqalah fi al-Jabr wa al-Muqabbilah yang membahas tentang al-Jabar yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis pada tahun 1857, dan banyak sekali kegemilangan yang telah diperoleh di berbagai bidang lainya.

Meskipun Omar adalah seorang ilmuwan bidang sains yang populer, namun di barat justru ia dikenal sebagai seorang penyair luar biasa dengan puisinya yaitu Rubaiyat yang menjadi legenda pada setiap zaman, yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Edward Fitzgerald, dan pada akhirnya menjadi rujukan para sastrawan barat tentang karya sastra Persia. Puisi yang berisi kegundahan hati Omar tentang banyaknya kekacauan dan hingar bingar masalah di negerinya. Kritik dan sindiran telah ia ekspresikan ke dalam bentuk puisi.

Sebagai anak muda, tentunya kita perlu meneladani kisah perjalanan sang ilmuwan Omar Khayam ini. Tentang kegigihan dalam menuntut ilmu, yang sumbangsihnya telah diberikan kepada dunia Islam. Mampukah kita menjadi Omar Khayyam selanjutnya?

Sumber :

  1. Buku Rubaiyyat of Hakim Omar Khayyam edisi ke-2, Amir&Kabir, Teheran Iran
  2. Buku Ilmuwan –Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, Ehsan Masood. Kompas Gramedia
  3. Buku Rubaiyat of Omar Khayyam, Edward Fitzgerald, Oxford University Press
  4. Buku Ensiklopedi Islam, Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pebukuan, Penerbit Ikhtiar Baru Van Hoeve Jakarta
  5. https://alif.id/read/moch-royyan-habibi/dibalik-kisah-romansa-omar-khayyam-b219362p/
  6. https://sastraarab.com/2018/09/28/rubaiyat-al-khayyam/

Oleh: Alaina Fatha Nabila

Foto: ancient-origins.net

Leave a Comment