Suhadi Chozin adalah salah satu ustadz yang berperan aktif di lingkungan pondok pesantren Al Munawwir Komplek Q, khususnya di Madrasah Salafiyah III. Pak Suhadi atau Pak Hadi, begitu para santri memanggilnya, merupakan salah satu alumni Komplek L yang dikenal memiliki jiwa wirausaha yang tinggi.

Pengalaman berwirausaha ini dimulainya sejak tahun 1982 pada masa kelas 2 SMA. Beliau memilih berwirausaha karena tidak ingin memberatkan orang tua ketika masuk kuliah nanti. Berbekal niat yang teguh, beliau akhirnya memulai debutnya sebagai pengusaha melalui usaha pembuatan kartu pelajar yang bekerja sama dengan temannya, waktu itu beliau mengambil posisi sebagai marketing sedangkan posisi produksi dikerjakan oleh temannya.

Setelah lulus SMA pada tahun 1983, beliau memutuskan berangkat ke Yogyakarta untuk  menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak dan berkuliah. Namun pada saat itu kegiatan perkuliahan di universitas telah berjalan sehingga beliau terpaksa memendam niat mulia menimba ilmu selama satu tahun. Selama satu tahun tersebut beliau memanfaatkannya dengan berbisnis yang hasilnya dipergunakan sebagai bekal keseharian selama di Jogja. Gairah semangat untuk hidup mandiri tidak bergantung pada orang tua maupun orang lain muncul dari tekadnya yang teguh, beliau percaya bahwa Allah lah yang memunculkan semangat dan keistiqomahan tersebut. Berkat kerja keras dan doa yang tidak terputus beliau bisa mondok dan kuliah dengan biaya sendiri.

Selama menimba ilmu dan mencari rizki di Jogja, beliau tak pernah lupa pada orang tua yang berada di Blitar, kampung halamannya. Beliau selalu menyempatkan pulang ke Blitar setiap satu bulan sekali, selain menebus rasa rindu kepada orang tua, beliau memanfaatkan kepulangannya untuk kulakan bakiak (sandal kayu) untuk dijual pada santri krapyak dan masyarakat di sekitar Jogja. Bahkan ketika hendak pulang ke Blitar pada waktu berikutnya, beliau sempat kulakan tas batik dan kaos khas jogja untuk dijual di kampung halamannya.

Selain berbisnis beliau juga pernah bekerja di Butik Sinta Collection selama 3 tahun . Karena kesibukannya dalam berbisnis tersebut kehidupan akademiknya di kampus menjadi terbengkalai. Meski demikian beliau tidak pernah patah semangat, hari yang terus berganti seolah memompa semangatnya untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi. Setiap hari beliau memasarkan kaos olahraga ke sekolah-sekolah menggunakan sepeda ontel. Kegiatan bisnis yang telah berubah menjadi passion beliau ternyata tidak diketahui orang tua di kampung halaman yang mengira jika pak hadi sibuk dengan kegiatan kuliah dan mengaji selama di Jogja.

Pak hadi sempat melanjutkan usaha pembuatan kartu santri karena mendapatkan pesanan sebanyak 15.000 lembar. Kepiawaiannya dalam bisnis kartu santri memantapkan beliau untuk terjun di dunia percetakan yang sekarang membuahkan hasil sebuah perusahaan bernama Elu Grafika dengan puluhan karyawan.

Beliau mengaku jika tidak mempunyai keahlian pada bidang percetakan namun karena semangatnya yang tinggi beliau bersedia mempelajarinya. Tempat produksi  beliau yang terletak di samping komplek L (sekarang menjadi BRI) merupakan embrio Elu Grafika yang kini memiliki kantor di Krapyak Kulon dekat gedung Madrasah Aliyah Ali Maksum.

Bapak 4 orang anak ini dikenal memiliki kedekatan hubungan dengan beberapa kiai di Krapyak. Salah satunya adalah, legenda kamus bahasa Arab, K.H. A. Warson Munawwir. Pak Suhadi pernah ngangsu kaweruh atau disebut dengan nderek kepada Kiai Warson. Tak hanya sekedar nderek, Kiai Warson juga mempercayakan beberapa tugas kepada beliau. Salah satu pesan yang diingat adalah nasehat Kiai Warson agar santri harus bisa mandiri. Seuil kalimat penuh makna ini yang selalu diingat dan menjadi motivasi bagi Pak Suhadi dalam mengembangkan usahanya.

Kedekatan dengan Kiai Warson sudah seperti kedekatan antara bapak dan anak. Ketika Pak Suhadi akan melepas masa lajangnya, Kiai Warson lah salah satu aktor yang memiliki andil dibalik pernikahan Pak Suhadi dengan Bu Badi’atus Sholihah yang juga merupakan alumni Komplek Q. Kiai yang juga pendiri dari Komplek Q ini yang telah menyampaikan lamaran Pak Hadi untuk sang calon isteri. Tak hanya itu, mahar cincin yang akan digunakan untuk melamar, juga pemberian dari Kiai Warson. “Bagi saya, Bapak dan masyayikh Krapyak telah mengukir kehidupan saya dalam segala hal,” kata Pak Suhadi.

Selain itu, Pak Hadi juga mendapat amanah mencetak kamus di Mojokerto. Kemudian beliau mendapat bonus berupa mobil merah. Karena mobil merah tersebut beliau merasa sebagai orang buta mendapat teken (tongkat) maksudnya adalah dengan mobil itu beliau merasa selalu mendapatkan kemudahan ketika menjalankan bisnisnya. Beliau juga merasa mendapat keberkahan masyayikh Krapyak dengan menikah. Beliau bisa menghidupi istri, kedua adiknya, ibu karena ayahnya sudah meninggal 2 tahun setelah tinggal di Jogja.

Selama perjalanan bisnis beliau merasa benar benar mendapat keberkahan melalui kiai dan masyayihk Krapyak. Contohnya saja ketika peristiwa krisis moneter ketika orang kesusahan dalam hal perekonomian, beliau mendapatkan keberkahan dengan kebanjiran orderan. Beliau juga merupakan pembisnis yang tidak pernah berurusan dengan bank (dalam hal pinjam meminjam). Dalam mendapatkan kesuksesan harus berusaha ,mempunyai azam yang kuat, amanah, istiqomah, dan tawakal.

Pesan beliau khusus santri putri adalah tidak menganjurkan menjadi wanita karir (apabila mengurangi khidmah dalam berkeluarga)  karena menurut beliau khidmah seorang perempuan itu ada dikeluarga dan lingkungannya bukan dalam bidang ekonomi itu sifatnya hanya membantu, apalah arti seorang istri jika bisa berkarir tinggi tapi tidak bisa harmonis dalam rumah tangganya.  Berkarya sifatnya hanya membantu suami sehebat apapun istri adalah seorang yang dipimpin suami meskipun dalam status sosial kelihatan di bawah kemampuan istri.

Leave a Comment