Saat itu matahari mulai tenggelam, hari semakin larut, saat itu pula penantian seoarang  gadis kecil tak kunjung usai. Namanya Amel, sejak tiga hari yang lalu, setiap pukul 16.30 ia selalu duduk dikursi teras rumah sampai suara azan maghrib terdengar. Gadis itu tampak murung sambil melihat ke arah gerbang rumahnya, menanti  sesosok makhluk yang ia nanti-nantikan tak kunjung pulang, lalu dengan sorot mata kecewa ia kembali ke dalam rumah.

Setelah dirinya kembali ke dalam rumah, Amel melihat si Moli sedang menyusui ketiga anaknya. Amel semakin sedih melihatnya, lalu ia mengambil makan dan minum untuk si Moli.

Sesampainya di kamar, Amel teringat salah satu pertanyaan anak si Moli

“Ibu, kenapa ayah tega meninggalkan kita lebih dulu?”

“Bukannya ayah tega sayang, tapi ayah telah lebih dulu dipanggil Tuhan untuk kembali” jawab si moli, lalu anak si moli yang lain ikut menyahut

“Mengapa secepat itu ibu?”

dengan menghela nafas si moli menjawab

“Karena ayah sudah menyelesaikan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya, demi kita ayah korbankan dirinya, dan sampai waktu yang telah ditentukan Tuhanpun memintanya untuk kembali kepada-Nya” lalu pecahlah air mata si Moli dan ketiga anaknya.

Sambil bertanya-tanya, Amel mencari mamanya untuk menanyakan keberadaan si Maong.

Si Maong adalah ayah dari anak-anak si Moli. Setelah menemukan mamanya, Amel langsung bertanya kepada sang mama, dan mamanya menjelaskan keberadaan si Maong, dan ternyata si Maong sekarang sudah dikubur di bawah pohon jambu belakang rumah Amel.

Seketika, Amel langsung menangis kencang dan berlali ke arah kuburan si Maong, kucing kesayangannya itu.

Jadi, tiga malam yang lalu si Maong bertengkar dengan kucing jantan liar karena si kucing jantan liar hendak memakan salah satu anaknya, dan seusai bertengkar si Maong merasa kesakitan dan banyak luka ditubuhnya. Keesokan paginya mama Amel menemukan si Maong di teras rumah dengan kondisi sudah tak bernyawa. Mama Amel sengaja tidak memberi tahukan kematian si Maong kepada Amel agar Amel tidak merasa sedih.

Selesai.

Oleh: Farikha Elok

Photo by Jill Wellington from Pexels

Leave a Comment