Dewasa ini, perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat segala aspek kehidupan manusia berubah, begitu pula dengan dunia pendidikan—di mana kita disuguhkan dengan berbagai kemudahan dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Namun, apakah hal tersebut juga berbanding lurus dengan berkembangan pendidikan religiusitas atau malah condong dalam perkembangan ilmu pengetahan dan teknologi? Pendidikan religiusitas hanya digunakan sebagai bumbu yang mengiringi kemajuan zaman, tanpa kita harus membedakan konsep teoritis oleh sebuah ilmu. Namun,pada kenyataannya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini tidak lagi bertumpu pada paradigma nilai-nilai religiusitas. Sebaliknya, perkembangan revolusi industri 4.0 kurang lebih  menimbulkan masyarakat  sekularistik yang memisahkan kehidupan keagamaan dengan masalah keduniwian,  sehingga berdampak pula pada mentalitas masyarakat. Bahkan, menurut tesis Peter L. Berger, tantangan agama (religiusitas)  dimasa depan bukanlah modernisasi, melainkan pluralitas masyarakat. Artinya, ketersediaan kita untuk memahami dan berbeda dengan orang lain.

Situasi yang modern melahirkan pluralitas, di samping sekuralitas sudah seharusnya mendorong kesadaran untuk menempatkan ilmu pengetahuan modern sebagai jalan mencapai Tuhan dan mempermudah untuk bertindak yang baik atau akhlakul karimah. Sebab, di sisi lain, di tengah semua kekhawatiran kemajuan zaman yang kita peroleh saat ini, hal  yang paling mencolok dan tak luput dari semua hal tersebut ialah mulai lunturnya akhlakul karimah yang dimiliki oleh masyarkat saat ini,  karena tidak adanya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan cara memanfaatkanya secara benar. Maka, di situ pulalah kita dapat menemukan sedikitnya peran pendidikan religiusitas  untuk memunculkan kesadaran dalam berperilaku, karena sejatinya agama sebagai kesatuan hukum norma yang mengikat. Untuk itulah  pendidikan religiusitas menjadi penting di tengah perkembangan zaman dalam membentuk perilaku yang ada dalam diri masyarakat. Bahkan, pendidikan tersebut harus dimulai sejak kecil seperti dalam teorinya John Lock “tabularasa” bahwa seorang bayi itu ibarat kertas putih bersih tak berwarna, apa yang digoreskan maka itulah warnanya. Dengan demikian, kebijakan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan dapat manjadi dasar tumbuhnya sebuah peradaban baru yang tidak sekadar modern, tetapi juga kaya akan nilai-nilai pendidikan religiusitas yang ditanamkan sejak kecil, sehingga kekhawatiran-kekhawatiran tersebut dapat kita minimalisir dampaknya bagi kehidupan masyarakat modern saat ini.

 

Oleh: Fauziatur Rahmah

Leave a Comment