Perempuan kini tidak hanya sekedar 3 M (masak, macak, manak) dapur, sumur, dan kasur. Namun, lebih dari memanfaatkan akal pikiran serta raga dan semua fasilitas dari-Nya. Meskipun kodratnya perempuan tetap menjadi makmum, justru itu, makmum perlu sangu banyak untuk lebih dari sekedar makmum. Perempuan adalah ummul madrasah (ibu peradaban atau ibu yang mendidik). Perempuan adalah pencetak generasi-generasi membangun peradaban. Selain itu, disebut madrasah pertama bagi anaknya sehingga memiliki peran penting untuk membentuk karakter dan kepribadian anak-anak dalam membangun madrasah kelak. Karena pendidikan berpengaruh besar bagi perempuan agar lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya untuk menjadi ibu pendidikan manusia yang pertama kalinya.

Perempuan disebut juga dengan Mar’atush Shalihah yaitu wanita shalihah.

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ. (رواه مسلم)

“Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan itu adalah seorang wanita shalihah.”  (HR. Muslim)

Bagaimana ciri-ciri wanita shalihah?

Pertama, sebagai dasar kita untuk menjadi wanita shalihah yaitu muslimah, yang dapat diartikan berserah diri kepada Allah SWT.

Kedua, mukminah (orang yang beriman). Wanita yang percaya dan berusaha benar-benar mengimani rukun iman, maka ia akan menjadi perhiasan yang terindah itu.

Ketiga, qonitat (taat). Bagi wanita yang belum bersuami, selain taat kepada Allah dan rasul-Nya, ia juga harus taat kepada kedua orang tuanya, karena ridha orang tua adalah ridha Allah. Banyak hal yang bisa dilakukan kita sebagai perempuan untuk taat kepada orang tua, di antaranya senantiasa patuh terhadap mereka, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran-Nya. Birrul walidain, adalah hal wajib yang hendaknya kita lakukan, banyak cara untuk taat selama mereka masih hidup, raih ridha Allah dengan banyak berbuat baik kepada orang tua.

Seorang laki-laki taatnya kepada orang tuanya, Sedangkan  jika  wanita  sudah menikah, maka  ridha Allah sudah bukan lagi tergantung ridha orangtua, melainkan tergantung pada ridha suami. Maka dari itu, apabila sudah menikah, taatlah pada Allah dan pada suamimu, patuh pada perintahnya sepanjang tidak bertentangan dengan agama. Sehingga menjadi Zaujatu Muthi’ah (istri yang taat). Karena taat kepada suami adalah kunci untuk masuk surga dari pintu manapun.

Keempat, sabar. Jadi perempuan harus sabar yaitu menahan diri dari keluh kesah, menahan lidah untuk tidak mengeluh, dan mengekang tubuh untuk tidak berbuat zalim. Perempuan itu harus bisa 3 M (masak, macak dan manak). Selalu tersenyum jika dilihat suami. Dikasih uang belanja berapapun ya mengucapkan alhamdulillah, terima kasih, dan tersenyum.

Kelima, khosyi’ah (khusyuk atau tunduk). Berkeyakinan bahwa Allah SWT selalu mengawasi dalam tiap ibadah kita, terutama ketika sedang shalat. Banyak sekali kisah wanita-wanita sholihah yang khusyuk fokus dalam beribadah kepada Allah, seperti kisah Robi’ah al Adawiyah, kisah istri-istri Rasulullah SAW‒Sayyidatina Khodijah ra, Sayyidatina Aisyah ra, dan sebagainya.

Keenam, mutashoddiqoh (orang yang menginfakkan harta di jalan Allah). Apabila kita punya kelebihan harta, sisihkan harta kita kepada orang yang kurang mampu. Jangan pelit dalam bersedekah. Apabila kita sudah menikah, bersedekah tidak boleh tanpa sepengetahuan suami dan tidak ridha, tetapi harus dengan ridha suami ketika hendak bersedekah.

Jadi itulah ciri-ciri wanita shalihah yang kelak menjadi ummul madrasah bagi anak-anaknya.

Dalam  Webinar Tabarrukan Haul ke-10 KH. Ma’ruf Irsyad (Pengasuh PP. Raudlatul Muta’allimin, Jagalan, Kudus), yakni beberapa petuah KH. Ma’ruf Irsyad ketika mengajar di madrasah khusus perempuan sebelum wafat.

Oleh:  Fina Izzatul Muna

Photo by Ifrah Akhter on Unsplash

Leave a Comment