Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”(Q.S Al-Baqarah:152)

Dalam ayat tersebut, Allah menggabungkan tiga konsep, yaitu dzikir, syukur, dan kufur. Berdzikir merupakan konsep yang menjadi sarana manusia untuk mengungkapkan rasa syukur  kepada Allah. Sebaliknya, jika orang seringkali lalai dalam berdzikir (mengingat Allah) ia akan menjadi seseorang yang kufur nikmat.

Berbicara mengenai syukur, seringkali kita dapati konten di media sosial mengenai ajakan untuk bersyukur. Akan tetapi, tak jarang juga kita dapati ajakan tersebut dengan embel-embel perbandingan hidup orang lain yang memiliki kekurangan materi maupun fisik. Padahal hakikatnya syukur adalah rasa terima kasih kepada Sang Pencipta dan Pemberi Kenikmatan. Berterima kasih kepada Sang Maha Kasih tidak harus dengan membandingkan diri kita dengan orang lain bukan? Setiap individu pasti memiliki struggle-nya masing-masing, bahkan kita tidak akan pernah mengerti bagaimana ia merasa sedih dan bagaimana ia merasa sangat bahagia. 

Sebagai contoh, konten media yang mengajak user lain untuk bersyukur menggunakan foto anak kecil yang sedang tertawa bersama ayahnya saat memulung. Beberapa orang mungkin akan membandingkan diri bahwa kehidupannya berada di atas orang tersebut, lalu ia bersyukur. Apakah hal seperti itu dapat dinamakan sebagai rasa syukur? Bukankah itu hanyalah rasa terima kasihmu atau bahkan rasa legamu karena kau bukan berada di posisi mereka? Mungkin pada momen itu kebetulan mereka sedang menertawakan hal kecil, padahal kita tidak tahu seberapa beratnya hidup mereka dan seberapa sedihnya kehidupan yang mereka jalani.

Baca Juga:

Bersyukur merupakan penerimaan diri atau self acceptance. Penerimaan diri terkait baik buruknya diri sendiri itu penting. Apa yang kita miliki adalah apa yang semestinya kita syukuri. Membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki nasib tidak sebaik yang kita miliki, sepertinya menjadi tidak adil dan sungguh tidak perlu. Membandingkan diri dengan sebaya kita yang lebih sukses juga tidak perlu, hal-hal tersebut bisa jadi malah sebagai penghambat kita untuk menjadi orang yang bersyukur.

Menerima diri apa adanya adalah bagian dari mencintai diri sendiri, segala kesalahan yang menjadi pembelajaran, segala cobaan yang menjadi kekuatan, dan berbagai kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah merupakan suatu perhatian-Nya kepada kita makhluk-Nya. Memang sudah sepatutnya kita bersyukur akan hal itu tanpa harus melihat titik lemah orang lain.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa cara bersyukur kepada Allah adalah melalui hati, lisan, juga amal perbuatan. Oleh karenanya, love yourself first before others, bersyukur terhadap apa pun yang pernah kita raih, selalu mengingat Allah dalam keadaan apa pun, dan selalu berdoa kepada-Nya untuk masa depan yang lebih baik. 

Oleh: Avita Rahmayanti

Referensi : NU Online

Photo by Loren Joseph on Unsplash

Leave a Comment