Minggu, 21 Oktober 2018, santri Al Munawwir dari semua komplek berkumpul di halaman pondok pusat untuk melaksanakan upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018. Tampak langit krapyak begitu cerah menyambut datangnya para santri yang hendak meneladani para kiai.

HSN sejatinya jatuh pada Senin, 22 Oktober, namun karena Senin adalah hari efektif sekolah dan kuliah, maka upacara dimajukan pada hari Minggu. Pada upacara pagi ini, santri putra bertugas menjadi petugas upacara. Sedangkan tim paduan suara berasal dari santri putri Komplek Q.

Upacara dimulai pada pukul 08.00 WIB. Selain santri, kegiatan ini juga dihadiri oleh para pengasuh dari berbagai komplek. Tampak, K.H.R. Najib Abdul Qadir, K.H. Mukhtarom Busroh, K.H.R. Chaidar Muhaimin Afandi, Nyai Hj. Ida Fatimah Zainal, Nyai Hj. Khusnul Khotimah Warson, Neng Qorry Aina, Nyai Hj. Musta’anah Tsaniyah , dan sejumlah pengasuh lainnya.

Pengasuh PP Al Munawwir Komplek Q, Nyai Hj. Khusnul Khotimah Warson sebelum berangkat upacara berpesan agar semua santri mengikuti upacara. “ Ayo do melu upacara, aku yo melu upacara iki (ayo pada ikut upacara, aku juga ikut upacara ini), “ ujar Beliau kepada beberapa santri.

Dalam kegiatan pagi ini, seperti pada umumnya, upacara HSN juga diiringi oleh pengibaran bendera merah-putih dan lagu Indonesia Raya. Hal lain yang membedakan dengan upacara pada umumnya adalah adanya pembacaan ikrar santri yang dipimpin oleh Gus Muhammad Labib yang diikuti oleh semua perserta upacara.

Sedangkan Kepala Polisi Sektor Sewon Komisaris Polisi Paimun, S.H. bertindak sebagai pembina upacara. Dalam penyampaian amanat, kapolsek bercerita mengenai awal mula ditetapkannya hari santri nasional. Dalam kesempatan ini, beliau juga menyampaikan tentang dua hal yang kini harus dilawan oleh santri pasca zaman penjajahan, yaitu melawan kebodohan dan kemalasan. “ Perjuangan santri masih panjang. Santri harus melawan kemalasan, kebodohan, semangat menuntut ilmu, kurangi bermain, dan nurut dengan guru-guru ,” ucap pembina upacara.

Selain menyampaikan tentang tantangan santri saat ini, kapolda juga mengingatkan tentang hoax. Untuk melawan hoax, santri harus menguasai tata cara mengakses internet, menyaringnya, hingga berkolaborasi dengan banyak orang untuk melawan hoax.

Upacara pada pagi hari ini ditutup oleh do’a yang dipimpin oleh K.H.R Najib Abdul Qodir. Setelah itu, para peserta upacara disuguhi oleh penampilan drama oleh santri putra yang bercerita tentang tantangan santri zaman dulu dan sekarang. Santri zaman dulu menghadapi penjajah dengan senjata, sedangkan santri sekarang menghadapi tantangan berupa gadget.

Leave a Comment