Ratusan tahun setelah pernikahan Nabi Muhammad Saw. dengan Sayyidah Aisyah, gelombang kritik berdatangan. Para pemikir dari kalangan orientalis mempermasalahkan usia Aisyah saat dinikahi Nabi, lebih-lebih pernikahan tersebut adalah poligami. Padahal dalam pendapat Quraish Shihab, pada masa pernikahan Nabi, tidak satu pun sahabat yang mempermasalahkannya bahkan dari kalangan musuh-musuh Nabi.

Nabi menikahi putri sahabatnya, Abu Bakar, setelah mengalami mimpi sebanyak tiga kali. Dalam mimpi tersebut, Nabi didatangi malaikat membawa Aisyah dengan balutan sutera. Malaikat berkata bahwa perempuan yang dibalut sutera itu adalah isteri Nabi. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa perempuan ini akan menghilangkan sebagian daripada kesedihanmu.

Aisyah dinikahi oleh Rasulullah pada bulan Syawal, tahun 10 kenabian. Riwayat yang banyak didengar adalah usia Aisyah yang begitu dini, yakni 9 tahun dan Rasulullah menggaulinya pada usia 12 tahun. Ada juga yang meriwayatkan usianya 6 tahun dan digauli pada usia 9 tahun. Namun tak sedikit yang meragukan kedua riwayat ini.

Hadis yang meriwayatkan usia Aisyah saat dinikahi Nabi adalah hadis riwayat Hisyam ibn Urwah. Dalam tulisan KH. Marzuki Wahid disebutkan bahwa tidak ada isnad lain yang meriwayatkan hadis serupa. Kiai Marzuki menjelaskan bahwa Hisyam meriwayatkan hadis dari orang Iraq. Dalam beberapa catatan dijelaskan bahwa Hisyam sebenarnya adalah orang yang dapat dipercaya dan riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia katakan setelah tinggal di Iraq. Ibnu Anas juga menolak riwayat Hisyam ketika di Iraq. Pendapat lain juga mengatakan bahwa ketika tua, ingatan Hisyam mengalami kemunduran yang mencolok.

Pernikahan Aisyah ketika berumur 6 atau 9 tahun bertentangan dengan beberapa fakta sejarah.  Ibnu Katsir menyebut usia Asmak Binti Abu Bakar dengan Aisyah terpaut 10 tahun. Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah menjelaskan bahwa Asmak meninggal dalam usia 100 tahun pada tahun 73 H. Sementara al-Hafidz Abu Na’im menyebut Asmak lahir 27 tahun sebelum hijrah Rasulullah ke Madinah. Dengan demikian, Asmak berusian 27 tahun ketika hijrah bersama Nabi ke Madinah.

Jika pada usia 27 tahun, Asma’ mengikuti Nabi untuk berhijrah, maka usia Aisyah pada saat itu kurang lebih 17 tahun. Rasulullah menikahi Aisyah pada tahun pertama Hijriyah, dengan demikian usia Aisyah ketika dinikahi Rasulullah adalah 17 atau 18 tahun.  KH. Buya Syakir Yasin juga mempercayai riwayat ini.

Buya Syakur dalam video ceramahnya juga menjelaskan bahwa Aisyah pernah mengikuti perang sebelum menikah dengan Nabi, peraturan saat itu diperbolehkan ikut perang pada usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian Nabi menikahinya. Jadi usia Aisyah pada saat dinikahi Nabi adalah 18 tahun.

Terlepas dari berapa usia Aisyah dinikahi Nabi, pernikahan ini murni sebagai perintah dari Allah. Bukan seperti apa yang dituduhkan oleh beberapa orang tentang Islam mendukung pernikahan dini hingga tuduhan lebih keji lagi, yakni tuduhan pedofil yang disematkan pada Nabi. Bahkan pernikahan Nabi dan Aisyah juga dijadikan landasan bagi sebagian orang untuk mengkampanyekan pernikahan muda atau dini sebagai kesunnahan atau ittba’ ila nabi.

Gus Bahauddin Nur Salim mengatakan bahwa Nabi itu tidak punya nafsu, apa yang dikatakan maupun apa yang dilakukan berasal dari wahyu. Pernikahan Nabi dengan Aisyah tidak bisa disamakan dengan orang zaman sekarang yang ingin menikahi perempuan usia dini karena mengikuti Nabi begitu saja. Mengatakan menikahi anak kecil karena mengikuti Nabi halal saja untuk dinikahi. Betapa banyak hikmah yang umat muslim dapatkan dari pernikahan ini. Berapa hadits tentang hukum maupun perempuan yang diriwayatkan oleh Aisyah?

Gus Baha’ mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Bahkan, beberapa hukum yang tidak diketahui oleh isteri-isteri Nabi yang lainnya atau sahabat Nabi sekalipun diketahui oleh Aisyah. Ini merupakan bentuk kecerdasan Aisyah yang merupakan dokumenter hadits. Menikahi Aisyah bukan hanya persoalan umur apalagi nafsu, tetapi menikahi Aisyah merupakan perintah Allah dan karena kecerdasannya beliau, kita dapat mengetahui banyak hadits yang mengandung sumber-sumber hukum.

Oleh karena itu, melihat Ummul Mukminin Aisyah tidak bisa dari sisi keromantisannya saja, tetapi harus fair melihat kecerdasannya juga. Seorang ilmuan perempuan asal Maroko, Fatema Mernissi  memandang isteri Nabi tersebut sebagai pesan orisinal agama untuk pemberdayaan perempuan. Suara Mernissi disebut Zacky Khoirul Umam (kandidat doktor sejarah Islam di Freire Universitat Berlin) telah mendorong berbagai perubahan kemajuan kaum perempuan. Perubahan ini tidak melulu harus melalui cerita romansa Aisyah dengan Nabi, tetapi juga menempatkan perempuan sebagai figure sentral dalam penafsiran agama.

Jika ada yang mengatakan perempuan tak perlu pendidikan tinggi untuk cerdas karena Sayyidah Aisyah juga tidak sekolah, maka tanyakanlah apakah para suami atau lelaki itu secerdas dan sealim Nabi Muhammad?

Oleh: Hafidhoh Ma’rufah

Referensi:
https://fahmina.or.id/benarkah-aisyah-ra-dinikahi-nabi-muhammad-pada-usia-dini/
https://tirto.id/fatema-mernissi-aisyah-teladan-feminisme-bukan-cuma-romantisme-fqol

Photo by Janko Ferlic from Pexels

Leave a Comment