Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama nonformal yang mewajibkan para siswanya tinggal bersama dalam satu tempat dan belajar dibawah bimbingan guru yang disebut sebagai Kyai. Pesantren dianggap sebagai tempat suci yang dipercaya dapat merintis ahli ilmu agama yang kompeten dan penghafal Al-Quran yang berkualitas. Bahkan untuk saat ini, para orang tua lebih mempercayakan pesantren daripada sekolah formal biasa untuk pendidikan anak mereka. Pesantren dianggap lebih menguntungkan daripada sekolah formal biasa karena dapat memperoleh ilmu dunia dan akhirat sekaligus dalam satu tempat. Selain itu, ada beberapa pesantren yang memiliki program kewirausahaan sehingga santri yang lulus sudah memiliki skill untuk berwirausaha. Maka bagi orang tua pesantren menjadi paket lengkap untuk membekali anak memasuki kehidupan yang sebenarnya.

Akan tetapi, kebanyakan orang tua salah mengartikan pesantren. Mereka menganggap pesantren dapat menjadi “bengkel” untuk anak-anak mereka yang bermasalah. Mungkin yang sebelumnya anak mereka nakal dan pembangkang lalu dimasukan ke pesantren dengan harapan agar menjadi lebih baik. Hal ini yang menyebabkan banyak sekali anak-anak yang tadinya tidak berkeinginan nyantri terpaksa harus masuk ke pesantren karena paksaan dari orang tua. Orang tua yang sudah putus asa dengan perilaku anak mereka akhirnya tidak ada pilihan lain selain memasukkan mereka ke pesantren. Kenyataan yang terjadi justru malah ada anak yang perilakunya tidak berubah bahkan semakin buruk ketika di pesantren. Fakta yang lain juga ada anak yang memiliki topeng, artinya perilaku mereka buruk ketika di pesantren tetapi ketika di rumah mereka memakai topeng untuk mengelabuhi orang tua mereka.

Memasukkan anak ke pesantren bukan merupakan solusi yang tepat untuk memperbaiki akhlak anak yang rusak. Karena sejatinya pendidikan pertama anak adalah dari orang tua. Maka apabila anak bermasalah, nakal atau susah diatur tidak sepenuhnya itu merupakan kesalahan anak tersebut. Ada campur tangan orang tua yang turut menyebabkan anak itu bermasalah, entah anak itu kurang diperhatikan, kurang diberikan pendidikan yang baik ketika usia dini, lingkungan rumah yang buruk atau pola asuh yang tidak sesuai. Anak yang tidak siap dengan peraturan yang ditetapkan oleh pesantren yang cenderung mengekang akan berdampak buruk bagi keadaan psikis serta fisik anak itu sendiri. Tentu akan berbeda apabila anak masuk pesantren dengan suka rela dan keinginan sendiri. Mereka akan lebih siap untuk menghadapi peraturan, jadwal kegiatan yang seabreg, relasi sosial, makan dan minum yang terbatas.

Sebenarnya akan lebih baik apabila esensi pesantren adalah tempat memperdalam ilmu agama bukan sebagai bengkel yang seakan-seakan menjadi tempat buangan bagi anak bermasalah dan orang tua lepas tangan. Karena akhlak anak sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua sejak anak berusia dini, sehingga pesantren hanya berperan memberikan pendidikan agama bukan memperbaiki akhlak anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *