Di tengah syahdunya lantunan kalam Ilahi Kami insan pelukis mimpi Pengharap berkah para murabbi Melapangkan hati terdekap dalam penjara suci Menorehkan kisah yang berbeda dalam lembaran baru Dengan memantapkan hati. Mengikuti langkah tujuan maha guru kami Dengan bekal Kalam mutiara yang beliau siratkan melalui lisan mulia Hingga menjadikan kami para muslimah yang pantas mendamba syurga   Ayat

Sungai yang terus mengaliri tanpa henti Mentari pun terus menyinari pertiwi Senyumnya menyejukkan hati Kapan pun tak bisa diganti   Hari ini sampai nanti Do’anya selalu berjatuhan yang tak perlu dinanti Kata-katanya lembut, mengandung do’a dan penuh arti Berjauhan dengannya pun ingin segera diakhiri   Jarak mengajariku cara menggapai bintang yang tinggi Semangat yang kau terbangkan adalah

Malam hampir larut Purnama ke-15 masih menerangi semesta di puncak peraduan Kopi yang membersamaiku duduk di beranda sekaligus ingatan Yang satu persatu mulai tumbuh memenuhi pikiran Ya … Ingatan tentang hari-hari bahagia di surga yang bernama pesantren itu   Apakah kau tau? Apa yang lebih indah dari doa kyai yang membawamu sampai ke negeri seberang? Apa yang

Aku sudah lelah Mengusir paksa dirimu dari hatiku Aku merasa semua upaya yang kulakukan untuk memeluk dan melepaskanmu itu sia-sia Kupaksa kau mendekat sampai lenganku berkarat, tapi kau tak kunjung kudapat  Kupaksa kau pergi, ku tepis bayang-bayangmu menjauh namun hatiku justru semakin gaduh  Apa apaan ini Semenjak mengenalmu, aku bahkan tak punya kuasa atas perasaanku sendiri  Memang

Generasi penerus bangsa adalah kita Bukan dari mereka alat canggih yang tercipta Kebudayaan kita nampak nyata Jangan dihilangkan karena tak terbiasa                 Masa sekarang bukan untuk diam                 Atau duduk santai bermain telepon genggam                 Gunakan masamu untuk berjuang                 Bukan penjajah namun pengaruh bangsa yang minta berperang Kebudayaan kita tidak boleh tertindas Hanya karena kita pemuda

2020. Baru setapak berjalan. Rencana-rencana harus diam. Resolusi-resolusi yang membara itu, membeku. Menggigil panas, mengejar waktu secepat jatuhnya buah cabai yang membusuk ketika penghujan. – Barangkali, memang harusnya begitu. Jiwa-jiwa lengah itu, yang terlalu mengaribkan diri dengan wabah//musibah//anugerah. 2020 harusnya tidak hanya hitam dan kelabu. Barangkali, kita yang berlebihan dalam sendu. – Puk—puk—puk. Bangun, kita sudah diantar

Puisi oleh : Limabhe Foto/Ilustrasi oleh : Alifia   Sore itu langit sangat kelabu Aku kembali dari tambang Berjalan miring mengikis kenangan Berharap baju tak basah oleh Kenangan   Sesampainya didepan rumah Kata-kata lewat tanpa permisi Mereka berbisik seperti semut-semut berdiskusi Sementara sajak ku mati Terbunuh diinjak semut yang menertawakan Ku pulang tanpa puisi

Duhai Nabi.. Terkadang aku iri dengan kuda-kuda yang menemanimu berperang, Dengan pedangmu yang bisa melindungimu dari lawan-lawan, Dan juga alas kaki yang selalu menemanimu  kemanapun pergi Bersama, merasakan indahnya hidup dalam dekapanmu Wahai kekasih Allah.. Begitu kasih sayang yang teramat dalam kau berikan Ummati, ummati, ummati Hanya 3 kata, namun mampu menembus berjuta hati manusia yang tak

Siang itu, nafasmu yang dibawa terbang olehnya tiba-tiba jatuh dalam laut Menghilang di bumi Tanpa aba-aba Meninggalkan kekosongan tanpa jejak Sore Ini, kupikir rinduku tak akan pernah sampai pada nisanmu Karena tubuhmu belum ditemukan Entah berlabuh di lautan mana Apakah kamu kesepian? Pada malam-malam kamu menghilang Saat kupikir kita akan bertemu Yang akhirnya berujung pisah tanpa temu