Mendengar istilah perawat, tentu kita sudah tidak asing lagi. Lalu, apa sebenarnya perawat itu? Sebagian orang mendefinisikan perawat sebagai seorang yang membantu tugas dokter dalam merawat pasiennya. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perawat berarti tenaga kesehatan profesional yang bertugas memberikan perawatan pada klien atau pasien baik berupa aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual dengan menggunakan proses keperawatan.

Dalam dunia keperawatan, banyak didominasi oleh perempuan. Karena pekerjaan perawat ini sangat mulia dan membutuhkan ketelatenan, maka tidak heran lagi jika kita lihat sekolah-sekolah keperawatan sebagian besar muridnya perempuan, dan mereka pasti mengenal sosok Florence Nightingale yang dianggap sebagai pelopor keperawatan pertama di Dunia. Mengapa? Karena dahulu profesi perawat dianggap sebagai tugas harian seorang wanita. Oleh karena itu, semua wanita bisa melaksanakan tugas perawat. Namun, pada tahun 1853-1856, Florence Nightingale seorang perempuan dari keluarga kaya muncul dan menerapkan standarisasi dalam dunia keperawatan.

Sejak saat itu, Florence Nightingale dianggap sebagai tokoh besar dunia dalam bidang keperawatan. Florence Nightingale juga sangat diangungkan dunia karena dianggap sebagai pelopor keperawatan modern. Tapi tahukah Anda? Jauh sebelum Florence Nightingale lahir dan dianggap sebagai pelopor keperawatan tepatnya 1400 tahun sebelum itu, telah ada perawat perempuan pertama dunia, dan beliaupun seorang muslimah yang memiliki jiwa yang tangguh dan humanis.

Dia adalah Rufaidah binti Sa’ad atau biasa kita sebut dengan Rufaidah Al Aslamiyyah. Namun sayangnya banyak perawat umat islam tidak mengetahui sosok Rufaidah Al Aslamiyyah tapi lebih mengetahui Florence Nightingale yang dianggap pelopor keperawatan berasal dari Inggris.

Rufaidah Al Aslamiyyah merupakan perempuan Bani Aslam yang ikut menyambut kedatangan Rasulullah Saw. ketika hijrah ke Madinah. Oleh karena itu, ia termasuk golongan kaum Anshar. Nama lengkapnya yaitu Rufaidah binti Sa’ad Al Anshari. Sementara itu nama ‘Al Aslamiyyah’ merujuk kepada nama sukunya yaitu suku Aslam yang menjadi salah satu suku khazraj di Madinah. Ia dilahirkan di Yatsrib pada tahun 570M atau pada tahun ke-8 H. Ayahnya bernama Sa’ad Al Aslamiyyah yang merupakan seorang dokter. Tidak heran lagi jika Rufidah menjadi mahir dalam bidang keperawatan karena ia sangat giat mempelajari ilmu keperawatan saat membantu ayahnya. Dari kegigihannya tersebut Rufaidah pun berguna bagi banyak orang, ia sering mengobati orang-orang yang terluka akibat perang antara kaum Islam dan Kafir Quraisy.

Ketika terjadi perang, ia akan mendirikan kemah-kemah di barisan paling belakang, Meskipun berada di barisan paling belakang, tapi peran Rufaidah sangat penting karena untuk memberi pertolongan pertama pada pasukan yang terluka. Ibnu Ishaq menyebutkan dalam sebuah kisah Sa’ad bin Muadz, ketika ia terluka saat perang Khandaq, lalu Rsulullah SAW. bersabda, “Tempatkanlah Sa’ad dalam kemah rufaidah di masjid (Nabawi) agar aku dapat menjenguknya dari dekat.” Ketika Sa’ad dalam perawatan, Rasulullah Saw. selalu menanyakan kabarnya setiap pagi dan sore.

Cara Rufaidah menangani Sa’ad bin Muadz yang sedang terluka sangat revolusioner. Saat itu, Sa’ad terkena panah di dadanya, Rufaidah tidak serta mencabut anak panah yang menancap, melainkan menghentikan aliran darah terlebih dahulu. Ia tau jika ia langsung mencabut anak panah tersebut, akan menyebabkan pendarahan dan kemungkinan kecil nyawanya tertolong. Teknik tersebut sangat brilian pada masa itu.

Ia tak hanya berperan saat peperangan, ketika tidak ada peperangan pun ia mendirikan tenda di luar Masjid Nabawi untuk mengobati orang yang sakit. Rufaidah Al Aslamiyyah merupakan sosok perawat yang terkenal pandai membaca, menulis dan merupakan golongan kaya. Meskipun ia berasal dari keluarga kaya, tapi Rufaidah tetap memiliki sifat empati, baik, organisatoris dan menjadi perawat teladan yang mampu memimpin.

Tak hanya itu, dengan pengalaman klinik yang mumpuni, ia sanggup menyalurkan ilmunya kepada perawat-perawat lainnya, dan mempunyai kelompok muslimah yang dididik agar menjadi seorang perawat. Selain memberikan perawatan bagi yang sakit dan terluka serta menyalurkan ilmu keperawatannya, Rufaidah juga gemar memberikan penyuluhan dan sosialisasi tentang pencegahan penyakit. Dengan dedikasi yang tinggi, Rufaidah tidak pernah memilih-milih pasien, bahkan ia pernah menangani pasien yang mengalami gangguan jiwa. Rufaidah juga diketahui mencetuskan sekolah keperawatan pertama dalam dunia islam. Meski banyak yang tidak mengetahui sosok Rufaidah tapi orang-orang di kawasan Timur Tengah lebih mengenal Rufaidah Al Aslamiyyah dibandingkan dengan Florence Nightingale.

Dari kisah Rufaidah, kita dapat menjadikannya inspirasi bagi kaum perempuan, bahwa pendidikanlah yang melahirkan keahlian dan akan menempatkan mereka pada posisi terhormat. Dan keahlian tersebutlah yang akan berguna bagi masyarakat. Setiap manusia pasti memiliki potensi dan kelebihan tersendiri, oleh karena itu sangatlah penting untuk mengasah potensi yang kita miliki agar berkembang luas dan dalam, tidak hanya dasar-dasarnya saja, dan untuk menyempurnakannya hendaknya diimbangi dengan perilaku yang baik, seperti halnya Rufaidah. Ia memiliki ilmu yang banyak dan hati yang besar, mengamalkan segala ilmu yang dimilikinya demi kebaikan bersama tanpa memandang status seseorang.

Sumber:

Oleh: Lailaturrohmah Fadilah

Foto: by Marcelo Leal on Unsplash

Leave a Comment