Sahabat Nabi yang Masuk Islam setelah Melihat Anjing Minum Susu

Posted on 8 views

Berhala dipercayai sebagai Tuhan pada masa sebelum hadirnya Islam di tanah Arab. Baik tokoh agama maupun kalangan masyarakat menengah ke bawah menyembahnya dengan senang hati. Namun, setelah hadirnya islam, beberapa tokoh agama dan masyarakat berhenti menyembah berhala dan mempercayai Islam sebagai agama dan Allah sebagai Tuhannya.

Abu Dzar al-Ghifari termasuk salah satu dari mereka yang berhenti menyembah berhala dan mempercayai ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. dengan nama asli beliau yakni Jundub bin  Junadah bin Zakan. 

Kisahnya berawal ketika beliau meletakkan semangkuk susu di samping berhala yang disembahnya. Berhala itu bernama Naam. Abu Dzar berkata, “Wahai Naam, aku bawakan susu untukmu.” Tak lama, datanglah seekor anjing yang menghabiskan susu tersebut lalu anjing itu kencing di tempat susu kosong yang Abu Dzar sajikan untuk berhalanya. Melihat hal itu terjadi, Abu Dzar terdiam dan berfikir mengapa berhala yang disembahnya tak berkutik dan tak marah ketika susu yang disajikan untuknya dihabiskan oleh seekor anjing. Setelah mengalami kejadian tersebut, Abu Dzar mulai meragukan kepercayaan yang beliau dan keluarganya sembah. 

Tak lama setelah kejadian itu, terdengar kabar bahwa di tanah Makkah ada sosok laki-laki bernama Muhammad yang mengaku sebagai nabi dan utusan Allah yang membawa ajaran tentang tatanan kedamaian dan melakukan hal-hal baik, lalu timbullah rasa penasaran dari Abu Dzar. Beliau yang tinggal tak jauh dari Makkah pun segera bergegas menuju Makkah untuk mencari Nabi Muhammad. 

Sesampainya di Makkah, beliau tinggal di sekitar Masjidil Haram. Saat itu tidak sengaja lewatlah Ali Bin Abi Thalib, karena merasa asing dengan Abu Dzar, Ali menyapanya dan bertanya, “Sudah adakah tempat bermalam di sini?”, “belum ada,” jawab Abu Dzar. Lalu dibawalah Abu Dzar ke rumah Ali bin Abi Thalib dan bermalam di sana, keesokan harinya ia berpamitan untuk meninggalkan rumah Ali bin Abi Thalib lalu menuju ke sekitaran Ka’bah untuk mencari Nabi Muhammad lagi. Kemudian, Abu Dzar teringat oleh pesan sang adik agar tidak menunjukkan keinginan untuk bertemu Nabi Akhir zaman sehingga ia hanya diam, berusaha mencari dan menebak-nebak keberadaan Nabi.

Sampai akhirnya tibalah waktu malam, dan tak sengaja beliau bertemu lagi dengan Ali. Maka menginap lagi Abu Dzar di rumah Ali. “Sudah, kamu tidur di rumah saya lagi,” ajak Ali kepada Abu Dzar. Lalu keesokan harinya Ali bertanya tentang alasan Abu Dzar datang ke Makkah, Abu Dzar pun menjawab, “saya hanya ingin bertemu dengan Nabiyullah Muhammad”. Maka Ali pun mengantarkan Abu Dzar ke rumah Nabi Muhammad. Akhirnya Abu Dzar pun resmi menjadi Islam setelah dituntun syahadat oleh Nabi Muhammad.

Setelah resmi menjadi seorang Muslim, Abu Dzar yang sebelumnya dikenal sebagai perampok dan penyamun yang garang dan bergelimang harta, kini dikenal sebagai sosok yang membela kaum lemah. Beliau pun rela untuk hidup miskin namun bergelimang kekayaan hati. 

Abu Dzar al-Ghifari memiliki perjuangan yang luar biasa dan dikenal sebagai sahabat yang sangat setia kepada Rasulullah saw. Beliau selalu ikut serta dalam perjuangan Rasulullah, mulai dari peristiwa hijrah maupun beberapa perang yang dihadapi oleh umat Muslim dengan kafir Quraisy. Beliau pun membantu dakwah Rasulullah yakni dengan mengajak orang terdekat dan temannya untuk memeluk Islam, di antaranya yakni Ali al-Ghifari, Anis al-Ghifari, Ramlah al-Ghifariyah.

Salah satu kisah Abu Dzar al-Ghifari dalam dunia peperangan yang terkenal yakni saat beliau menemani Rasulullah dalam Perang Tabuk. Saat itu, keledai yang ditumpanginya sangat lemah, sehingga beliau rela berjalan kaki sambil membawa barang bawaannya yang cukup banyak. Saat itu sedang puncaknya musim panas, hingga akhirnya beliau keletihan dan terjatuh tepat di hadapan Rasulullah saw. 

Kemudian, Rasulullah mendekati Abu Dzar dan mendapati ia memiliki satu botol air yang masih penuh, Rasulullah pun bertanya mengapa air bekalnya tak diminum. Maka beliau pun menjawab, “saya sudah meminumnya sedikit dan saya merasakan nikmat. Setelah itu, saya bersumpah tak akan minum air itu lagi sebelum engkau minum, Ya, Rasulullah”. Begitu mulianya Abu Dzar, karena tau perjalanan yang dilalui masih panjang dan bekal yang pasukannya bawa tidak cukup banyak.  

Oleh: Syarifah Zaidah

Sumber:

Photo by Jagoda Kondratiuk on Unsplash