Jum’at malam sabtu, 19 April 2019, PP Al Munawwir Komplek Q berkesempatan menyelenggarakan Pengajian Seneng Takon edisi bulan April. Pengajian yang diselenggarakan atas dasar kerjasama antara Seneng Takon Official dan Pengurus Komplek Q ini mengambil tema, Ekonomi Digital: Peluang, Tata Kelola, dan Tantangannya.

Perlu diketahui, Pengajian Seneng Takon merupakan acara yang diprakarsai oleh Ustadz Ihsanuddin, ustadz di PP Al Munawwir sekaligus dekan Fakultas Ushuluddin, IIQ An Nur. Acara ini diselenggarakan setiap tanggal 19.

Dalam pagelaran pengajian edisi April tersebut menghadirkan Mohammad Isnaini (Direktur Utama/CEO Suhu), Mizan Rizqia (Project Manager T’Lab), Ganang Adjie (Head of tiketapasaja.com) dan Ustadz Ihsanuddin serta Miko Cakcoy Pathoknegoro selaku moderator.

Sebelum acara dimulai, Fairuz selaku ketua panitia Seneng Takon menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya ia menjelaskan awal mula pengajian ini bisa diselenggarakan. “Pak Ihsan penggagasnya, kemudian bekerjasama dengan para pemuda (NU dan karangtaruna) serta Java Videotron,” ujar Fairuz.

Setelah Fairuz menyampaikan sambutan, Gus Kholid Arif Rozaq mewakili pengasuh menyampaikan sambutannya. Sambutan terakhir disampaikan oleh Kepala Desa Panggungharjo yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Bapak Hosni Bimo Wicaksono selaku Kasi Pelayanan Desa Panggungharjo. Pak Hosni berharap agar kegiatan semacam Seneng Takon ini bisa diikuti oleh kelompok-kelompok pemuda lain.

Setelah ketiga sambutan tadi, Cakcoy selaku moderator memandu jalanannya pengajian yang lebih mirip dengan talkshow tersebut. Isnaini berkesempatan memperkenalkan Suhu kepada audience yang sebagian besar merupakan santri. Isnaini menceritakan awal mula nama Suhu dipakai. Menurutnya suhu merupakan guru dalam persilatan, “Jadi manut apa yang didawuhkan guru,” jelas Isnaini. Suhu merupakan jasa consulting dalam bidang pengembangan sumber daya manusia.

Bisnis pembuatan aplikasi telah ditekuni oleh Mizan Rizqia. Bisnis ini ia sebut dengan T’Lab. Melalui T’Lab, customer bisa request aplikasi sesuai dengan yang diinginkannya. “Dunia IT berkembang dengan sangat cepat sehingga dituntut untuk selalu belajar agar dapat mengikuti perkembangannya”, ujar Mizan.

Sementara Ganang Adjie menjelaskan bahwa tiketapasaja.com sebenarnya tidak fokus dalam tiket apa saja, melainkan fokus terhadap tiket musik, olahraga, dan ataraksi. “Fokus utamanya konser,” terang Adjie.

Dalam kesempatan tersebut, Cakcoy bertanya kepada Isnaini, apakah santri bisa menjadi pelaku ekonomi digital? Isnaini dengan mantap menjawab, sangat bisa. Baginya, siapapun bisa. Berbicara mengenai ekonomi digital berarti membicarakan suatu era yang belum pernah ada. “Perkembangan cepat merupakan keniscayaan, mau tidak mau harus dihadapi,” jelasnya. Isnaini menambahkan bahwa satu hal yang paling menentukan adalah adanya ilmu pengetahuan untuk berkontribusi dalam era digital. “Suhu menyusun kurikulum yang digunakan untuk pelatihan-pelatihan. Saya punya cita-cita mengadakan pelatihan dalam ranah anak-anak sekolah, termasuk pesantren, agar bisa menghadapi era digital, “ dalih Isnaini.

Senada dengan Isnaini, Mizan juga menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki harus selalu di-update. Baginya, pada era sekarang yang dijual adalah ilmu pengetahuan. “Revolusi industri keempat, muncul karena adanya internet. Karkateristik revolusi industri keempat (era digital) yaitu fokus ada pada ilmu pengetahuan,” jelas Mizan kepada santri dan jama’ah lainnya.

Selain ilmu pengetahuan, menurut Adjie, tantangan terbesar yang harus dihadapi berasal dari diri sendiri. “Karena intinya adalah kemauan untuk belajar. Sesuatu yang dipikir tidak akan menjadi kenyataan tanpa adanya tindakan,” ujar alumni Teknik Fisika UGM tersebut. Selain diri sendiri, kesulitan berikutnya adalah memulai ide yang sudah ada.

Dalam tinjauan hukum Islam, Ustadz Ihsan merespons ekonomi digital dengan fiqih muammalah. Menurut beliau, teknologi hanya bersifat memudahkan, sementara fiqihnya masih tetap sama. “Syaratnya–tidak ada penipuan, tidak ada penganiyaan, tidak ada yang dirugikan, dan sama-sama rela, apapun bentuk jual-belinya, yang penting keempat syarat ini harus ada,” jelas beliau.

Ustadz Ihsan juga berpesan agar santri harus bisa teknologi atau digilas oleh zaman. Arus teknologi harus disambut. Tidak hanya menyambut, bahkan santri harus menjadi pemain dalam era 4.0.

Kepada para santri, Isnaini menerangkan bahwa kunci dalam era digital adalah kolaborasi dan sinergi. “Oleh karena itu perlu banyak piknik dan silaturrahmi,” ungkap Isnaini. Bentuk kolaborasi dan sinergi ia contohkan misalnya seseorang memiliki ide, tetapi tidak bisa IT, untuk mengeksekusi ide tersebut, ia perlu berteman dengan orang-orang yang menguasai bidang IT.

Acara Pengajian Seneng Takon tersebut berakhir sekitar pukul 22.30 WIB.

Leave a Comment