Fir’aun dikenal seorang raja yang kejam, kufur, bahkan mengaku diri sebagai Tuhan. Di antara bukti kekejamannya adalah menyembelih setiap bayi laki-laki yang lahir, sesaat setelah dilahirkan oleh ibunya. Sebagaimana dalam al-Qur;an, “Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan.” (QS. Al-Baqarah (2): 49). Aksi kejam itu dilakukan Fir’aun setelah mendengar ramalam para ahli nujum (juru ramal) terhadap mimpinya melihat sebuah kobaran api yang datang menghampirinya dari arah Baitul Maqdis. Api itu lantas membakar kota Mesir ddan menghabiskan seluruh penjurunya. Menurut mereka, akan lahir seorang bayi dari kalangan Bani Israil dan akan menghancurkan Kota Mesir.

Uksur (Luxor) – tempat kelahiran seorang manusia keturunan Bani Israil yang berani menentang kezaliman Fir’aun, raja Mesir, yakni dialah Musa yang dihanyutkan oleh ibunya, Yukabad, ke Sungai Nil. Ketika datang tahun yang ditetapkan bahwa anak-anak kecil harus dibunuh, ibunya—Yukabad melahirkan Musa. Saat melahirkan Musa, sang ibu merasakan ketakutan yang luar biasa. Mencemaskan bahwa jangan-jangan anaknya akan dibunuh oleh Fir’aun. Di tepi Sungai Nil terdapat bangunan tua untuk menyembunyikan kelahiran anaknya selama masa awal kelahiran karena takut pada Fir’aun. Si ibu menyusui dan merawat anaknya secara sembunyi- sembunyi di bangunan tua itu.

Kemudian datanglah suatu malam yang penuh berkah di mana Allah mewahyukan kepadanya: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia dan apabila khawatir terhadapnya maka jatuh kalah ia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu kuatir dan janganlah (pula) bersedih hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.'” (QS. al-Qashash: 7). Kemudian ia pergi ke tepi sungai Nil dan membuangnya di atas air. Hati sang ibu adalah hati yang paling pengasih di dunia. Hatinya dipenuhi penderitaan saat ia melemparkan anaknya di sungai Nil, tetapi ia menyadari bahwa Allah lebih Pengasih terhadap Musa dibandingkan dengan dirinya. Belum lama peti itu menyentuh sungai Nil, Allah mengeluarkan perintah kepada arus sungai agar menjadi tenang dan bersikap lembut terhadap bayi yang dibawanya yang pada suatu hari akan menjadi Nabi.

Pada suatu hari, di pinggir Sungai Nil tepat di istana, Fir’aun duduk bersama istrinya—Siti Asiyah. Tiba-tiba, istrinya melihat kotak berwarna hitam mengapung di air. Segera, ia memerintahkan pelayan untuk mengambil kotak tersebut. Setelah dibuka, Siti Asiyah terkejut karena terdapat bayi mungil di dalamnya. Fir’aun keheranan, mengapa bayi itu lolos dari algojonya. Setelah mendapat kabar bahwa Asiyah menemukan bayi, para algojo datang dan meminta bayi darinya. Namun, Siti Asiyah tetap bersikukuh mempertahankan bayi itu. Kemudian Siti Asiyah menemui suaminya—Fir’aun untuk meminta belas kasihan dan tidak membunuh bayi tersebut. Tetapi, Fir’aun tetap saja bersikukuh untuk membunuh bayi tersebut. Setelah melewati beberapa perdebatan, Allah membolak-balikkan hati Fir’aun. Akhirnya Fir’aun mengizinkan untuk diberikan kepada istrinya.

Seketika itu, Siti Asiyah langsung mencari wanita yang menyusui Nabi Musa. Kemudian, para lelaki menyuruh istrinya untuk menjadi ibu Musa, tetapi Musa menolak menyusu seorangpun dari mereka. Sementara sejak menghanyutkan sang bayi, ibunda Musa terus memikirkannya dan selalu menanyakan kabar bayinya kepada saudara perempuannya. Setelah berusaha mencari kabar bahwa kerajaan sedang mencari ibu yang sanggup menyusui bayi. Dia langsung berangkat dan menawarkan diri untuk menjadi ibu susu. Semula Siti Asiyah menolak tawaran itu. Namun, setelah disarankan oleh beberapa wanita disana, akhirnya dia mau menyusukan bayi Musa itu. Tak disangka, setelah bayi Musa dipangku dan disodori air susu menghisap hingga kenyang. Siti Asiyah kemudian mengabari suaminya, Fir’aun kembali geram karena bayi itu keturunan Bani Israil begitu pula ibu yang menyusuinya dan ingin memisahkan keduanya. Siti Asiyah menenangkan hati Fir’aun hingga mengurungkan niat untuk memisahkannya.

Sejak itu, ibunda Musa tinggal di rumah Fir’aun seraya menyembunyikan keimanannya bersama dengan saudari perempuannya. Ia tinggal di sana menyusui sang bayi—sesungguhnya bayinya sendiri—sekaligus mendapatkan upah. Ia bersungguh-sungguh menjaga pesan Siti Asiyah untuk mengasuh, merawat, dan membesarkan bayi Musa layaknya anak-anak raja. Seiring perjalanan waktu, Nabi Musa pun tumbuh besar yang dikaruniai Allah perawakan kekar dan keberanian yang hebat, disamping akalnya yang cerdas dan bijak. Semua itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepadanya sampai ia tumbuh dewasa serta dikaruniai ilmu dan hikmah.

Begitu indahnya skenario Allah menyelamatkan Nabi Musa as. ditengah kekejaman Fir’aun. Sungguh mudah bagi Allah untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Wallahu a’lam bisshowab.

Oleh: Fina Izzatul Muna

Sumber:

https://islam.nu.or.id/post/read/113982/indahnya-sekenario-allah-selamatkan-bayi-musa-dari- kekejaman-firaun

https://republika.co.id/berita/op0hgx313/di-daerah-manakah-nabi-musa-dilahirkan

https://www.facebook.com/notes/kumpulan-doa-doa-mustajabah/kisah-kelahiran-nabi- musa/487686484633393/

Foto: by Jack Anstey on Unsplash

Leave a Comment