Jika Idul Fitri diartikan sebagai kembali lagi pada kesucian, atau banyak orang bilang “0:0 lagi deh yaa” Maka mungkin tidak salah jika Awwalusanah juga diartikan sebagai hari baru untuk memulai tahun ajaran baru dengan semangat baru.

Dalam teori Hierarki Kebutuhan Maslow yang sudah tidak asing kita dengar, disebutkan terdapat kebutuhan fisik dan psikis manusi. Namun, di era milenial ini nampaknya kebutuhan itu sedikit bergeser dengan adanya kebutuhan WiFi dan charger misalnya. Anak milenial akan jauh lebih “kelabakan” ketika kehabisan kuota atau kehabisan baterai dibandingkan dengan belum makan seharian. Penampakan seperti itu tak hanya ada di kalangan mahasiswa rupanya, namun juga di anak-anak dan remaja yang sejatinya itu sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan psikologisnya.

Beruntunglah para santri yang oleh orang tuanya diarahkan untuk tinggal di pondok pesantren. Mulai dari pondok pesantren bagi usia kanak-kanak, anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia, memiliki “peraturan” yang mengikat santri untuk bisa mengatur waktu sedemikian rupa agar bisa lebih bermanfaat. Lantas benarkah aturan itu bersifat mengekang santri? Lalu bagaimana caranya santri bisa berkreasi dan berprestasi jika dibatasi informasi?

Okey.. Let’s go back on track, dan mari kita kaji bersama..

Jika kebutuhan hanya selalu disandingkan dengan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan, lalu bagaimana dengan kebutuhan psikis atau ruhani kita? Kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, dihargai dan menghargai sesama. Keseimbangan akan kebutuhan dasar manusia itu nampaknya hadir di lingkungan pondok pesantren. Bagaimana tidak, di sebuah tempat yang menjadi miniatur kehidupan bermasyarakat ini kita disuguhkan dengan berbagai kegiatan yang luar biasa padat. Namun yang luar biasa adalah, pengasuh melalui para ustaz dan pengurus tidak pernah lepas komunkasi untuk terus menyukupi kebutuhan para santrinya.

Usai pembukaan Awwalussanah pada pertengahan Februari 2020 lalu, Madrasah Salafiyah III mengawali kegiatan di bulan Maret dengan mengadakan Upgreeding Roisah Sorogan bersama Bapak Agus Najib, S.Ag., pada tanggal 02 Maret 2020. Kepala Madrasah yang oleh santri akrab disapa Pak Mamik memberikan motivasi kepada para roisah sorogan. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana yang terealisasi atas dasar usulan dari para roisah. Sama halnya dengan santri yang membutuhkna motivasi, begituhalnya dengan roisahnya.

“Seneng aku mbak, kalau roisahnya semangat, kan kita juga bisa lebih rajin berangkat”, tutur salah seorang santri sesaat setelah mengetahui adanya Upgreeding Roisah Sorogan.

Boleh jadi, standar rajin atau tidaknya seorang santri pun jika tidak dikomunikasikan dengan baik tentu akan menimbulkan kesalahpahaman antara santri dengan roisah, misalnya. Termasuk standar penilaian kemempuan santri, jika santri kelas I’dad saja sudah diberikan pertanyaan sulit seputar nahwu dan shorof, tentu itu akan menjadi momok baginya, dan bisa jadi santri tersebut enggan untuk kembali berangkat. Pak Mamik memberikan pemahaman kepada para roisah bahwa sorogan itu harus disesuaikan dengan kemampuan santri

“Jangan sampai membuat santri itu keberatan dengan adanya sorogan,”tuturnya.

Untuk jenjang kelas I’dad, Awwal dan Tsani sebaiknya jangan ditanyai dulu terkait kedudukan. Yang penting santri itu senang dulu sama sorogan. Selanjutnya untuk jenjang kelas Robi dan Komis baru bisa ditanyai tentang kedudukan dan makna yang dimaksudkan dalam kitab” tegas beliau.

Adanya standar-standar yang telah disepakati antara roisah dengan santri melalui komunikasi dua arah diharapkan akan memudahkan proses sorogan. Dari adanya contoh real kehidupan di pondok pesantren ini kita dapat mengambil hikmah bahwa, jika kita menikmati hidup, dengan atau pun tanpa adanya aturan yang mengikat, tentu kita akan bisa mengatur pola hidup sedemikian rupa sehingga tetap bisa berkreasi dan berprestasi; sesuai dengan standar prestasi atau kesuksesan yang dipatok oleh individu itu sendiri. Over all, tulisan ini saya dedikasikan untuk para santri yang selalu semangat mengaji tanpa henti, terima kasih. Dan buat para roisah saya haturkan jazakumullah ahsanal jaza atas segala bentuk dedikasi.

“Setiap kalimat yang disorogan atau diajarkan itu pahala, ingatlah apa yang kalian ajarkan ialah amal yang mengalir untuk kalian. Oleh karena itu, yang ikhlas ya jadi roisah sorogan. Karena sebenarnya nyorogi itu sama halnya dengan kita sorogan”. Tutur Ustaz Agus Najib.

Oleh: Ela Nurmalasari

Foto: Pojok Pitu

Leave a Comment