Khoirul Anam

Gadis berkerudung yang selalu berada dalam pikiranku,melintas dan bersarang di sana,tanpa ku bisa menyentuhnya, hanya do’a yang dapat kulantunkan, Rika.

Hidup kami selalu bersama dalam satu lingkungan, tapi terpisahkan oleh larangan. Yah, benar! Kami adalah santri pondok pesantren Darul Qur’an. Di sinilah  aku dan Rika dipertemukan.

Sholat subuh adalah hal yang paling ku gemari,melihat matanya yang terkantuk nan indah serta menenntramkan jiwa,namun ketika bibirnya melantunkan ayat-ayat-Nya seakan air mata berlinang di pipi khafidzoh muda—julukannya.

Nduk, kamu kalau siang nganggur to, mending ikut Kang Irul jaga toko yang ada di pasar, kasihan Kang Irul dewean, bisa to  nduk?” ku dengar percakapan  Bu Nyai dan Rika di dapur.

Inggeh Bu Nyai insyaallah saya bisa.”

“Mulai besok yah Nduk,Nanti Ibu bilang ke Kang Irul”

Inggeh Bu Nyai”

Tak terasa pipi ini memanas,mungkin jika berkaca ada warna kemerahan di tengahnya,Ah! Sungguh tak bisa ku ungkapkan. Apakah hatiku masih bisa menahan perasaan ini? Astagfirullah! Jangan biarkan aku terlena Tuhan!

 Matahri telah memancarkan sinar ke kuningannya, jam dinding menunjukkan angka 09.00,  pertanda  aku harus pergi ke pasar untuk menjaga toko milik pesantren, tapi kali ini ada yang berbeda, kakiku tak sejalan dengan pikiran, ada rasa yang mengganjal, Rika, sudah kah kau di sana? Atau takdir berkendak lain, Ah! Kupaksakan kaki ini melangkah. Aku berdiri di tengah keramaian pasar, hiruk pikuk pembeli tak mengurangi ketajaman penglihatanku pada toko pesantren, ada banyak pembeli di sana, sangat ramai. Aku mengernyitkan dahi, mungkinkah dia telah di sana? Sejak kapan? Aku pun bergegas menuju toko.

 “Assalamu’alaikum!”

Wa’alaikum salam.” Jawabnya sembari memberikan kembalian pada pembeli

“Mas! Besok kalau buka toko itu yang pagian,kayak Mbak  nya ini, biar saya gak nunggu lama-lama.” Aku tersenyum mendengar perkataan salah satu pembeli.

Inggih Bu insyaallah, besok toko buka lebih pagi. Mohon maaf!” Jawabku seadanya.

Hari mulai gelap Satu persatu pembeli pun meninggalkan toko dengan membawa barang belanjaan. Toko menjadi sepi. Hanya ada aku dan Rika, sunyi! Jantungku berdebar,melihatnya menghitung penghasilan toko.

“Biasanya jam segini toko udah dapat berapa Kang?” Aku tersentak mendengar ia bertanya padaku

“Hmmm,bi..biasanya sih sudah dapat satu juta, memangnya kenapa Dik?” (dengan gugup)

Alhamdulillah Kang, penghasilan hari ini meningkat. Besok tokonya dibuka lebih pagi saja Kang,bisa memudahkan ibu-ibu membeli sembako dan pagi hari itu bisa mendatangkan banyak rezeki loh, insyaallah!”

“Heheh iya Dik. Afwan sebelumnya, saya kebiasaan membuka toko jam sembilan, insyaallah besok saya akan datang lebih awal.”

“Nah gitu dong, biasanya toko tutup jam berapa Kang?”

Astagfirullah, ini sudah waktunya tutup Dik, Dik Rika pulang dulu saja, biar saya yang menutup toko.”

“Tidak apa Kang, saya bantu saja biar cepat selesai.”

“Ya sudah kalau begitu Dik.”

Dingin malam menemaniku dalam bertafakur pada-Nya. Bibir ini tak henti melantunkan hamdalah. Tak lupa kupanjatkan do’a untuknya. Dalam sujud pun kusebut namanya,kuharap diri ini mejadi apa yang ia semogakan.

Dan satu pelajaran penting yang ku dapat darinya.”Bekerja lebih pagi akan menghasilkan lebih banyak rezeki,insyallah”

Rika Miftahul Jannah

Sering kudengar tentangnya. Tentang ia yang selalu mencuri pandang padaku. Tentang ia yang gemar mendengarkan hafalanku. Tentang ia yang diam-diam mencintaiku.

Namun, takdir berkata lain, Bu Nyai telah menjodoh kan ku dengan Gus Im. Satu tahun lalu kami menikah. Sejak itu aku tak pernah melihatnya di pondok lagi. Kuharap ia telah mengikhlaskanku bersama dengan suamiku.

Berita tentangnya sayup-sayup mulai terdengar di telingaku. Kang Irul yang dulu hanya penjaga tokoh pesantren kini telah berhasil menakhlukkan perusahan properti ternama di kota. Sejak dulu ia memang sosok pekerja keras dan mau belajar. Oleh karena itu, hingga kini tak ada yang dapat menggantikan Kang Irul menjaga toko pesantren.

Aku masih tetap tinggal di pondok sambil membantu Bu Nyai mengajar para santri, tapi Bu Nyai telah melarangku untuk bekerja semenjak kehamilanku menginjak umur tujuh bulan sampai detik –detik kelahiran bayiku. Andai saja Kang Irul masih disini, masih menjaga toko pesantren dan membantu Bu Nyai,tak kan ada pekerjaan yang terlalaikan di pondok.

Ah sudahlah! Takdir memang tak bisa di tebak. Tuhan maha tahu dan berkehendak. Mungkin ini sudah menjadi jalan kami berdua. Masih ada yang tersimpan di dalam sana yang hanya untuknya, tapi Gus Im telah resmi di mata Tuhan dan negara. Dosa bila aku masih mengharapkannya.Biarlah do’a yang akan menjaganya ketika mata ini tak lagi sanggup tuk memandangnya. Astagfirullah! Jangan ingatkan aku pada bayang-banyangnya

Kutulis sebait puisi untuknya:

Air ini begitu lembut dan hangat

Membelai pipi

Serasa aku tak dapat menahan nya kembali

Kini kusendiri, lamunan sepi menghiasi

Derai air ini telah terjadi

Kembali mengalir di pipi

Ingin ku berlari keluar dari dunia

Ku tak mampu, tak  kuasa

Dengan segala cinta yang kugenggam darimu

Ingin kumemeluk bayangmu,walau ku tahu itu mustahil

Tak akan pernah terjadi

Sampai detik ini bayagmu tak akan kembali dalam pelukku

Ingin ku tertawa, menertawakan kebodohan yang selama ini terjadi

Tapi tanpa sadar aku kembali menangisi nasib ini

 Aku terkejut melihat darah yang begitu banyak mengalir dari kaki ku. Aku bingung.

“Mas, darah Mas darah!” Aku menjerit memanggil suamiku.

Astagfirullah hal adzim!” Teriak Gus Im sambil membopongku keluar.

“Ya Allah, kenapa Rika Le?” Sayup kudengar suara Bu Nyai

Sampun kontraksi Bu”

“Cak Min, montor Cak Min, Rika pendarahan!” Teriak Gus Im panik mencari supir pondok.

 “Ayo cepet masuk montor Le kasihan nanti Rika kehabisan darah” Perintah Bu Nyai Kepada Gus Im

Ngge Bu”

 “Ke rumah sakit bersalin Permata Bunda Cak Min!”perintah Bu Nyai.

Inggeh Bu”                                                                                                                

Cak Min pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dengan tetap berusaha tidak ugal-ugalan. Bu Nyai yang terus membaca shalawat. Darah telah mebasahi bajuku dan baju Gus Im. Sakit, hanya itu yang kurasa.

“Sabar yah Dik, hampir sampai.”kata Gus Im

Aku tak bisa membalas perkataan nya,hanya mampu memandang mata nya yang penuh dengan bendungan air mata. Cak Min pun akhirnya memarkirkan mobil di depan ruang UGD. Gus Im langsung menggendongku berlari ke arah perawat yang sudah menyiapkan kasur dorong. Aku di bawa ke dalam ruang khusus bersalin. Hanya Gus Im yang boleh menemaniku di dalam.

Dokter sudah siap untuk menanganiku.

Bismillah dulu yah Bu! Tarik napas yang dalam, rileks.” Dokter memberikan arahan kepadaku

“Bismillahirrohmanirrohim, Allahu Akbar.”

“Allahu Akbar!” Aku mendorong sekuat tenaga. Sayup-sayup kudengar tangisan bayi tapi dunia begitu gelap hingga aku tak bisa merasakan apa-apa.

Khoirul Anam

Berita kematian nya pun sampai ke telingaku. Betapa hancur hidupku saat ini. Ia yang kucintai dan tak bisa kuraih. Kupendam dalam-dalam penyesalan dalam hatiku. Gadis shalihah pujaanku telah dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Aku terduduk di hadapan pusaranya, bersama bayi mungil cantik dalam dekapanku, Aisyah Permata Sabilillah—namanya.

Sengaja aku kembali mengunjungi pondok, bukan untuk menguak rasa sakit itu, aku hanya ingin memberikan penghormatan terakhirku padanya. Gus Im yang biasanya sumringah kini menjadi muram, si mungil pun tak ia hiraukan.

Takdir memang tak dapat ditebak. Biarlah! Biar ini menjadi kisah hidupku. Semoga kau tenang di sana Rika. Aku yakin Tuhan menyayanginya, Tuhan mencintainya, dan Tuhan bersamanya.

Oleh: Kamar 5b

Photo by freestocks.org from Pexels

Leave a Comment