Langkahku mulai lelah Sekian waktu terlampaui sudah Tak peduli seberapanya kurapuh Perjalanan tetap harus ditempuh. … Apalah dayaku Manusia berdebu Yang seringkali keliru dan mengadu Seperti tak taunya malu Terus meminta tapi minus usahaku … Di atas sajadah aku bertumpu Pada Sang Kuasa aku mengeluh Atas restu Tuhanku Kelak kebaikan

Perasaanku resah Gelisah tiada tara Usiaku bertambah Langkahku masih saja goyah Pikiranku lelah Hal-hal yang begitu indah Hanya sebatas kata Lika liku kehidupan ini sulit Nyatanya sering sakit Tangisku tak lagi mudah Tak lagi melegakan Meskipun napas sehelaan Dengan segenggam sisa percaya Beriringan kehampaan yang meraja Ku cobakan melangkah Entah

Hai Manusia kuat..  Kau tak perlu memendam rasamu  Jika itu baik untukmu  Kau hanya perlu jujur   Jika kau sedih menangislah    Kuat bukan berarti tidak boleh menangis Tapi ketika kita jujur akan perasaan hati kita Itulah kuat yang sebenarnya    Mari sembuh..  Aku tau lukamu masih berdarah  Bahkan untuk mengobati

Tentang takdir yang bahkan Tak satupun mampu mengelaknya.. Tentang nelangsa sang pendosa.. Tentang penyesalan raga yang Terpenuhi kemaksiatan… Jiwa penuh kekhawatiran.. Tanya yang tak berujung..   Apabila sang khaliq bersumpah Dan para pendusta mendurhakainya Saat rembulan telah hilang cahayanya Saat rembulan telah bersatu dengan matahari Tidak ada yang lebih buruk

Setetes peluh terjatuh rapuh Melepuh di tengah keruh Hiraukan gemuruh yang tak sungguh Dari para buruh yang terusuh Terasa fana namun nyata adanya Derit yang menjerit di tengah sempit Bergelar putar dalam melingkar Tak ada pengakuan dari hirauan kelakuan Memaksa asa terus merasa Walau pilu telanjur membiru Ia tak lelah

Kerja Mencari uang  Bahkan dirimu bekerja tanpa istirahat pagi dan sore Sebelum matahari muncul dirimu sudah tidak ada dirumah Membayangnya saja sudah terasa sakit dan perih tanpamu Egois bukan diriku?  Apa aku boleh hanya menerima saja  Dirimu yang aku kagumi selamanya Bahkan cintaku kepadamu tak ada bandinganya, sangat dalam Ada

“Minaddzulumati ilannur” Potongan ayat semesta penggugah semangat,  Bagi gadis kecil yang selalu ingin tahu itu. Pertanyaan demi pertanyaan masuk ke dalam pikirannya,  Siapakah aku?  Siapa yang menciptakanmu? Itulah yang membawanya mencari mutiara dalam persembunyian,  Rasa ingin tahu yang besar membawanya kepada ulama besar panutan Islam,  Dialah Kartini itu.    

Gerimis masih merinai di awal April Anugerah yang sejukkan Ramadan hingga nanti Berdzikir bertadarus enggan berhenti Hingga sahur nikmat tersaji   Seluruh jiwa dan raga kubersihkan Sebagian bentuk rasa penyesalan  Lantunan ayat-ayat Qur’an kudendangkan  Sebagai bukti syukur rasa pengagungan Di bulan mulia bulan suci Ramadan  Menahan lapar menahan dahaga  Menanti

Kadang diri ini merasa sendu Merasa paling kurang menikmati waktu Kadang jiwa ini merasa sunyi Merasa paling tak berarti didunia ini   Kau beri diri ini batin yang ikhlas apa adanya Namun terkadang  kau juga beri cobaan yang tak terhingga Bingung diri ini dengan mau mu Namun juga bersyukur atas

Ada aku dalam diriku Semoga mereka tidak palsu Ada aku dalam diriku Namun mengapa tetap merindu?   Ada aku dalam diriku Semoga tidak berwajah seribu Ada aku dalam diriku Namun mengapa kadang terasa jauh?   Wahai rintik malam Apakah kau membawa alas Untuk kupakai mengganjal jiwa Yang rentang suatu hari?