Bunda.. Kau telah membesarkanku Di saat kau melahirkanku, tiada tara takut ajal menunggu Di saat beranjak tubuh dari kasurku, sarapan selalu tersaji di atas meja   Kau selalu mengharapkan yang tebaik untukku Jika tiada engkau yang melahirkanku, tiada bisa aku menciptakan karyaku ini Begitulah engkau merawatku dengan sepenuh hati  

Hening… Sepi… Dingin… Kulihat yang lain masih terlelap mengurai mimpi-mimpi Menghimpun kepuasan melalui irama dengkur yang tak pernah dirasakannya saat jaga Biarlah, Aku terlanjur terjaga dan setelah lihat arloji waktu menunjukkan pukul 02.15 WIB dini hari Sudah cukup kesiangan  untuk ukuran kebiasaan para santri Tapi karena selesainya kegiatan terlalu malam,

Seakan sungai berarus deras yang menyeretku ke lautan Andai aku bisa menciptakan lorong waktu Perahu yang dapat melawan arus sungai waktu Dan kembali ke masa lalu Ada gejolak batin yang sangat dahsyat Keinginan untuk kembali ke tempat yang sangat jauh Baca juga Isra Mi’raj: Perjalanan Malam Yang Mempertemukan Dua Kekasih

Kau terlalu baik untukku,   adalah satu bentuk penolakan dari pada orang yang sudah jatuh cinta dengan kebaikanmu, tapi tak sabar dengan kekuranganmu.   satu penolakan dari pada orang yang sudah nyaman berteduh dalam rumahmu, tapi membiarkan kamu tenggelam sendiri saat atapmu dimasuki air hujan.   satu penolakan daripada orang

Rindu ini menghantui segenap kalbu Saat jauh darimu ibu Rasa ini bagaikan tertusuk panah Ketika ku jauh dari hadirmu ayah    Terhampar luas jarak dan waktu Mencekam erat kenangan di benakku Hanya doamu yang ku tunggu Demi melepas segala kerinduanku   Kini peluh derita ku hadapi Pahit manis perjalanan ku

Beranjak dewasa aku semakin paham dan takut sekaligus Kegaduhan antar mulut yang kudengar setiap hari semakin jelas dan nyata Menjadi jauh terpisah akan ruang dan waktu Bersama asa yang terus memaksa untuk menjadi nyata Bersama doa orang-orang yang dicinta Kerapuhan raga yang semakin nyata beriringnya waktu yang berlalu Menghapus jejak

Sunyi,sepi,tenggelam dalam angan Pengejar mimpi setengah ingin pergi Lari dan pergi dari belenggu tipu daya Dunia palsu penuh rekayasa kuasa Ada baiknya melihat ke dalam hati sendiri Mencari arti apa yang ingin dicari Namun akan habis masa nanti Mencari arti pada langkah kaki yang menjauh pergi   Warna apa yang

Tiap detik berselancar pada dimensi waktu Setiap detik yang senantiasa terluka menunggu pati Sungguh kematian itu bukan duka Tapi hati selalu was-was apakah kita sudah layak untuk mati Sedangkan kematian tidak menunggu kita untuk bersua Tuhan   Sujud demi sujud hanya gersang yang didapat Tak diimbangi sikap hati yang mahabbah

Aku masih bekelana di kota orang Penampakan kaki Menjelajah tanpa henti Dengan harapanku menyenangkan hati   Aku masih di sini Bersama waktu memutarkan diri Peradaban dunia berputar tanpa henti Beriringan fenomena alam berganti Baca juga Teguhkan Prinsip Kejar Karir Sejak Dini Aku masih di sini Ditemani mega merah yang hendak

Ibu apa kabar? Bagiku hari ini cukup melelahkan. Baru saja aku pulang kuliah, tak lama kemudian sudah di suruh mengaji saja ehehehe. Hidup di pondok itu campur aduk ya bu, seperti makan sop buah. Ada kalanya kita bahagia karena bertemu teman banyak, Ada kalanya pula kita harus bersabar karena peraturan.