Salah satu hal yang melekat di benak kita ketika mendengar kata akhirat adalah surga dan neraka. Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan segala amal ibadahnya selama hidup di dunia. Seperti apa sih gambaran surga dam neraka? Seberapa mengerikan neraka dan seberapa nikmat surga?

Ustad Maulidi dalam tausiyahnya yang membahas kitab Qulhazdihi Sabili karangan Sayid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani menyatakan, panasnya api neraka itu  seperti halnya 70 kali lipat panasnya bumi dan dalamnya seperti dilempari batu 70 tahun. Siksaan yang paling ringan penduduk neraka adalah seperti api yang diletakkan di bawah kaki sehingga membuat kepala menjadi mendidih. Bahkan orang yang di dunia masih bersenang-senang maka akan ditanya, “Apakah kau masih merasakan kenikmatan dan kebaikan ketika di neraka?” Penduduk neraka menjawab, “tidak wahai Tuhan” Dari beberapa keterangan tersebut dapat tergambar sepintas betapa mengerikannya siksaan yang diterima penduduk neraka.

Bagaimana dengan kenikmatan surga? Pembahasan kitab dilanjutkan sampai pada sekelumit tentang kenikmatan yang didapatkan oleh penduduk surga. Namun ditengah tausiyah, beliau berhenti sejenak, seakan tergambarkan kenikmatan surga. Dalam tangisan yang tiba-tiba, beliau berkata, “Apakah kita dapat memperoleh kenikmatan surga?”

Penduduk surga, di dalamnya terdapat bidadari cantik bahkan betisnya terlihat transparan. Saking indahnya, di dalam surga tidak  terdapat perselisihan dan kebencian, yang ada hanya berdiri di hadapan Allah. Bahkan tempat-tempat di surga itu ibarat planet-planet yang bersinar terang. Jelasnya, surga itu adalah tempat bagi orang-orang saleh. Tempat yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbayang atau terlintas oleh hati manusia bayangkan betapa indahnya surga. Hal ini disampaikan Allah dalam Al quran surat As-Sajdah ayat 17,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka,  atas apa yang mereka kerjakan.

Betapa nikmat surga, seakan tak pernah bisa kita bayangkan. Seakan tidak akan pernah bisa terbayang meskipun hanya sekedar lewat  mata, telinga, bahkan hati. Terbukti sudah bahwa sejatinya manusia hanya bisa mengambarkan semampu yang bisa dibayangkan oleh akal mereka. Sedangkan kepedihan neraka,  membuat kita seakan tak akan sanggup untuk menjalaninya. Jadi masihkah kita akan dapat tertawa terbahak-bahak di tengah buaian nikmatnya surga dan kerasnya api neraka?

 

Oleh: Fauzia Rahma

Leave a Comment