Malaikat Ruman: Kedatangannya sebelum Malaikat Munkar dan Nakir

Malaikat Ruman: Kedatangannya sebelum Malaikat Munkar dan Nakir

Diposting pada 157 views

Ketika berbicara tentang malaikat, lazimnya kita pasti mengingat 10 malaikat yang selama ini diajarkan dan wajib diketahui oleh umat Islam. Diantaranya mulai dari malaikat Jibril sang pembawa wahyu sampai malaikat Ridwan sang penjaga surga. Serta delapan malaikat lain beserta tugasnya masing-masing. Tapi, pernahkah mendengar tentang malaikat Ruman?

Malaikat Ruman mungkin jarang diketahui oleh banyak umat Islam. Namanya sangat jarang disebut dan tidak familiar. Namun, ternyata malaikat Ruman merupakan salah satu malaikat yang nantinya pasti akan mendatangi kita ketika sudah di alam barzah.

Lazimnya, banyak dari umat Islam berpikir bahwa di alam barzah hanya akan dikunjungi oleh dua malaikat yang memberikan pertanyaan-pertanyaan, yaitu Munkar dan Nakir. Namun sebelum Munkar dan Nakir datang, terlebih dahulu umat Islam didatangi oleh Malaikat Ruman.

Baca Juga:  Fadhilah Wudhu: Ilmu Ringan Justru Yang Luar Biasa

Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam r.a. Sebelum Malaikat Munkar dan Nakir masuk kepada mayit, ada seorang malaikat yang mendatanginya yang wajahnya bercahaya bagaikan matahari, malaikat itu bernama Ruman. Dia masuk dan menemui mayit dan mendudukkannya”.

Lalu Malaikat Ruman berkata: “Tulislah amalmu dari yang baik sampai yang jelek.”

Mayit menjawab: “Dengan apa aku harus menulis, mana pena, tinta dan tempatnya ?”

Malaikat Ruman menjawab: “Tintanya adalah ludahmu dan penanya adalah jarimu.”

Dia (mayit) berkata lagi: “Dimana aku harus menulis, sedangkan aku tidak punya selembar kertaspun.”

Nabi Saw. bersabda: “Maka Malaikat tersebut (Ruman) memotong kain kafannya sepotong dan diberikan kepadanya (mayit).”

Malaikat Ruman lalu berkata: “Inilah lembarannya, sekarang tulislah.”

Baca Juga:  Fadhilah Al-Qur'an Tidak Hanya Membaca, Tetapi Juga Memahaminya

Maka dia (mayit) pun menulis apa yang pernah diperbuatnya di dunia, mulai dari amal yang baik, kemudian ketika sampai pada amal jeleknya dia merasa malu dan berhenti menulis.

Malaikat Ruman berkata kepadanya: “Hai orang yang lalai (durhaka), kenapa engkau tidak malu kepada Penciptamu (AIlah) ketika engkau melakukannya di dunia dan sekarang engkau merasa malu kepadaku.” Malaikat Ruman lalu mengangkat gada dan memukulnya.

Maka berkatalah si mayit: “Angkatlah gada itu dariku sehingga aku bisa menulisnya.”

Maka dilanjutkanlah tulisan mayit di dalamnya dengan semua kebaikan dan kejelekannya. Kemudian Malaikat Ruman memberikan perintah untuk melipat dan memberinya dengan cap (tanda tangan).

Maka dia (mayit) pun melipatnya dan berkata: “Dengan apa aku harus memberinya cap (tanda tangan), sedangkan aku tidak mempunyai cap (tanda tangan).”

Malaikat Ruman menjawab: “Berilah cap (tanda tangan) dengan kukumu.”

Maka diapun memberi cap dengan kukunya dan mengalungkan pada lehernya sampai hari kiamat. Sebagaimana firman Allah SWT.:

وَكُلَّ اِنْسَانٍ اَلْزَمْنٰهُ طٰۤىِٕرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖۗ وَنُخْرِجُ لَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلْقٰىهُ مَنْشُوْرًا

“Dan pada setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang akan dijumpainya dalam keadaan terbuka.” (QS. Al-Israa: 13)

Baca Juga:  Jangan Sepelekan Basmalah dan Hamdalah! Berikut Makna Keistimewaannya

Setelah peristiwa itu, kemudian masuklah Malaikat Munkar dan Nakir.

Kemudia di hari kiamat, dia (mayit) akan diperintahkan untuk membaca catatan amalnya dihadapan Allah. lalu membacalah dia (mayit) mulai dari catatan amal baiknya. Maka apabila orang tersebut salah satu dari ahli maksiat, dia akan berhenti dan terdiam ketika membaca amal buruknya.

Kemudian Allah ta’ala berfirman “Kenapa engkau tidak membacanya?”

Dia (mayit) menjawab “Saya malu kepada Engkau”

Allah swt. berfirman lagi “Kenapa engkau tidak malu kepada-Ku saat di dunia dan sekarang engkau malu kepada-Ku?”

Lalu menyesallah hamba itu dan (tetapi) penyesalannya tiada berguna. Allah SWT. berfirman:

خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُۙ  ۝  ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُۙ

“Pegang dia Ialu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Haaqqah: 30-31)

 

Penulis: Syarifah Zaidah

Pictured by Madrosah Sunnah on Unsplash

Disarikan dari Pengajian Kitab Daqoiqul Akhbar bersama Ustadz Muhammad Ja’far – Program Khusus Ramadan (PKR) 1445 H – Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q