Lembut tangannya mengusap pipiku, bibir indahnya mengecup keningku. Ia yang kupanggil “ibu”, kini berada tepat di depanku. Setelah sekian lama tak bertatap. Setelah bertahun-tahun tak kujamah tangannya. Tak ada perubahan yang signifikan padanya. Justru bagiku, ia awet muda. Bahkan saat foto bersama pun ayah bergumam seperti anak kembar. “Bu, Riiy,

Hari Selasa. Pagi-pagi sekali aku berangkat sekolah karena piket kelas, walaupun aku tidak terbiasa untuk bangun pagi dan tentunya selalu dimarahi ibu karena kesiangan. Sesampainya di sekolah, aku membersihkan kelas 11B dengan teman-teman lainnya. Setelah itu teman-temanku berdatangan satu-persatu, sekitar 5 menit sebelum pelajaran dimulai semua siswa telah masuk kelas.

Semilir angin menerbangkan anak rambutku. Aku masih duduk bergeming di tepi sungai dangkal sembari melihat pantulan bayangan wajahku. Di dalam tas yang aku gendong, telah aku siapkan satu buah botol kaca dan buku-buku pelajaran siang tadi. Setiap Sabtu sore, aku tak pernah absen menulis di tepi sungai ini. Aku tidak

Seperti biasa, hari ini aku duduk di lantai tiga sambil menikmati senja di tanah Krapyak yang kata orang senja di sini begitu indah, sambil membawa mushaf Al Qur’an yang telah menjadi sahabatku selama dua tahun belakangan ini. Aku mengingat kembali percakapanku dengan kedua orangtuaku tiga tahun lalu, saat aku sempat

Berstatus sebagai seorang mahasiswa sekaligus menjadi seorang santri bukan suatu hal yang mudah untuk dijalankan secara beriringan. Dalam menjalankannya, terkadang salah satu di antara keduanya ada yang harus direlakan dan dikorbankan, karena manusia itu tidak akan mampu memegang dua kendali sekaligus di dalam kehidupannya. Kendati pun mampu untuk menjalankan keduanya

Titik Temu ~ Matahari masih sangat terik, namun jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.10. Bayangan pagar hidup dengan bunga sepatu merah yang mulai layu disiram mentari sepanjang hari mulai condong ke timur. Pycnonotus aurigaster atau kutilang masih sibuk mencari tambahan makanan untuk jamuan makan malam ini yang akan diisi oleh

Malam menjelang, ketika seorang gadis desa pelosok yang periang, biasa dipanggil dengan sebutan Ara, sedang menyiapkan air panas untuk menyeduh kopi yang akan diberikan kepada bapaknya. Ara ialah seorang gadis yang hidup dengan sejuta mimpi di dalam sebuah rumah kecil berdindingkan bethek. Ara merupakan seorang gadis yang tumbuh dari keluarga

Nadiya adalah seorang mahasiswa jurusan Teknik Informatika di salah satu Perguruan Tinggi favorit di Bandung. Setiap hari ia bertemu dengan Aisya di kampus. Suatu hari, dia bercerita  tentang masalah hidupnya. Dia berpikir kalau orang lain selalu terlihat senang dan bahagia terlepas dari masalah yang dialami dalam hidupnya. Mereka terlihat seperti

“Sore telah menyapa. Guratan mesra senja merona di pipi langit yang dilaluinya. Mentari kan membenam dengan segera. Tak lama lagi, angkasa kan berkata, adzan magrib telah tiba. Oh.. buka puasa di hari pertama.” BUKKKK!!!!!! Baru juga Kang Shohib menyelesaikan puisinya, sebuah bantal apek melayang di kepalanya. “Aduh! Ngopo to Kowe

Sungguh bersyukur, masih bisa menikmati rutinitas dengan suka cita. Caraku menikmati pergantian siang menuju malam hari membuat julukan sebagai “anak indie” tersemat ke dalam diriku. Iya, dewasa ini anak indie terkenal dikalangan masyarakat sebagai kaum muda yang ketika sore akan tiba lantas mereka bersiap-siap menuju tempat tongkrongan kemudian menyalakan playlist