Malam menjelang, ketika seorang gadis desa pelosok yang periang, biasa dipanggil dengan sebutan Ara, sedang menyiapkan air panas untuk menyeduh kopi yang akan diberikan kepada bapaknya. Ara ialah seorang gadis yang hidup dengan sejuta mimpi di dalam sebuah rumah kecil berdindingkan bethek. Ara merupakan seorang gadis yang tumbuh dari keluarga serba kekurangan namun penuh dengan kehangatan. Walaupun

Nadiya adalah seorang mahasiswa jurusan Teknik Informatika di salah satu Perguruan Tinggi favorit di Bandung. Setiap hari ia bertemu dengan Aisya di kampus. Suatu hari, dia bercerita  tentang masalah hidupnya. Dia berpikir kalau orang lain selalu terlihat senang dan bahagia terlepas dari masalah yang dialami dalam hidupnya. Mereka terlihat seperti orang-orang yang tak memiliki beban di pundaknya.

“Sore telah menyapa. Guratan mesra senja merona di pipi langit yang dilaluinya. Mentari kan membenam dengan segera. Tak lama lagi, angkasa kan berkata, adzan magrib telah tiba. Oh.. buka puasa di hari pertama.” BUKKKK!!!!!! Baru juga Kang Shohib menyelesaikan puisinya, sebuah bantal apek melayang di kepalanya. “Aduh! Ngopo to Kowe iki, Man?” “Kamu itu lho berisik Kang.

Sungguh bersyukur, masih bisa menikmati rutinitas dengan suka cita. Caraku menikmati pergantian siang menuju malam hari membuat julukan sebagai “anak indie” tersemat ke dalam diriku. Iya, dewasa ini anak indie terkenal dikalangan masyarakat sebagai kaum muda yang ketika sore akan tiba lantas mereka bersiap-siap menuju tempat tongkrongan kemudian menyalakan playlist khas yang seolah jadi ciri tersendiri sambil

Siang itu udara terasa sangat panas, matahari begitu terik menyengat. Kulangkahkan kaki menuju salah satu kampus ternama di Kota Jogja. Karena tak kumiliki kendaraan pribadi, akupun terbiasa memakai transportasj umum yang akrap disebut TJ alias Trans Jogja. Sekitar 15 menit menunggu akhirnya TJ dengan jalur tujuanku datang. Aku memilih duduk tepat di seberang pintu masuk, karena disitu

Hujan deras malam ini mengguyur desaku, suara petir tak henti-hentinya bersautan di atas langit sana. Bahkan tanah mulai memuntahkan air yang di kandungnya, sungai yang tak lagi mampu membendung apa yang ada di dalamnya, sehingga air mulai meluap dan mengalir tak berperasaan ke halaman rumah warga membawa banyak sampah ke atas permukaan. Mungkin, besok pagi akan menjadi

Lagi, lagi, dan lagi. Belakangan ini sering terjadi perampasan privasi semena mena di gubug tua tempat aku mengaji. Sudah berulang kali anak kecil yang menjadi korban. Mereka syok dan sampai mau masuk kamarpun meminta tolong agar ditemani kakak pengurus yang lebih dewasa dan pemberani. Pelaku kejahatan privasi itu melakukan aksinya tepat di mana malam, sembari hari, dan

            Lingkaran matanya semakin hitam, kulitnya kasar tersapu angin yang pula menyibak rambutnya yang kering dan kasar. Kulit jarinya bergaris dan lapisannya keras, memegang lenganku tak pernah ia lepas. Aku sudah berusaha keras melindunginya yang terus tenang dalam gendongan di punggungku. Kakinya botak tak beralas, begitupun aku. Kami terus berjalan menyusuri lorong kampung, menaiki trotoar para pejalan,

Panggil Gue Mbak Siti. Gue cukup terkenal dikalangan penghuni asrama, dapat dibilang sedikit keterlaluan kalau nggak kenal gue. Mbak Siti si “Mak Comblang” legendaris pemersatu jomblo di asrama dengan makhluk tampan di komplek sebelah. Testimoninya jelas sudah banyak. Hmm, sekitar 15 atau 20, atau jangan-jangan sampe 30 pasangan yang fix sampai pelaminan.  Saking banyaknya menyatukan nama di