Kura-kura

Kura-Kura dan Rute Hidupnya

Diposting pada 129 views

“Jika kamu hendak berjalan, maka berjalanlah sebagaimana kamu ingin. Dunia memang tempat menuju, tetapi tidak selamanya tentang saling cepat kepada garis ujung. Setiap kita punya rute yang tidak sama, tentu yang paham akan jalannya adalah si empunya rute juga” ujar bapak kepada kura-kura kecil, anaknya, sehari sebelum jatah ruhnya selesai bertugas di dunia. 

Latar malam saat itu sunyi tetapi tidak sepi, suara jangkrik berpadu apik dengan isak kecil si kura-kura. Isak itu berasal dari segala isi kepala yang genap penuh oleh perasaan gagal setelah terseret-seret karena mencoba berjalan diatas jalan kawan-kawannya. 

Sebelum ia mengerti, hari-harinya adalah penuh bingung. Pada sebuah permulaan menuju garis ujung, kura-kura banyak mencoba.

Ia mencoba berjalan berdampingan dengan kelinci, salah satu kawannya, tetapi akhirnya tertinggal jauh. Sesekali kagum, namun disela-selanya adalah kesedihan yang ia sendiri tidak tahu jawaban atas banyak “mengapa..?” di kepalanya itu.

Esoknya, di atas bukit ia mencoba terbang berdampingan bersama burung pipit. Alih-alih menggapai angkasa, ia malah terjatuh. Kemudian pertanyaan “mengapa..?” itu hadir kembali, sedihnya sudah tentu turut kembali. 

 

Kumpulan pertanyaan mengapa itu, terkumpul pada tiap halaman dalam amigdalanya.

“mengapa aku tidak dapat berjalan secepat kelinci ya?”

“mengapa aku tidak dapat terbang menuju angkasa yang tidak terbatas itu ya?”

“mengapa aku selalu bertanya banyak mengapa pada diriku sendiri?”

“mengapa aku buntu atas jawabannya?”

“mengapa dan mengapa lagi ya?”

Kepalanya penuh riuh.

Hatinya penuh peluh.

Lelahnya membawanya kepada tidur yang menyampaikannya pada suatu suara dalam bunga tidurnya, hatif. Ya, tetiba hatif dari bapak kura-kura terdengar dalam palung hatinya. Hatif itu bunyinya sama persis dengan ucapan bapak kura-kura sehari sebelum ruhnya selesai bertugas di dunia. Kemudian ia terbangun dengan wajah pucat, sembari sedikit terisak, nafasnya tidak beraturan setelah mencoba banyak jalan mana yang “yaa, ini rutenya”. Lamat-lamat jawaban atas banyak “mengapa” itu semakin jelas.

Baca Juga:  Lentera yang Bersembunyi

Bukan tentang perjalanan daratan ataupun tentang perjalanan dengan terbang bebas bersama awan-awan di angkasa. Rutenya adalah samudera luas yang mengalir. Bersama sesekali di guncang ombak, aliran itu yang dapat membawa cepat pada segenap perjalanan kura-kura menuju mimpi-mimpinya.

Karena itulah rutenya.

Kesadaran itu menjadi pengingat bahwa memaksakan yang bukan jalannya adalah sebuah kesalahan. Beberapa insan hanya akan terseok dan terjatuh atau barangkali tenggelam. Membekali diri dalam memahami rute masing-masing adalah sebuah pilihan bijak dalam menyikapi kehidupan sekitar yang seringkali berjalan terlalu cepat.

Karya: Nadiya Qothrunnada

Photo by Craig Pattenaude on Unsplash