Air tidak dapat digenggam Tapi tanah bisa menampungnya Api tidak dapat disentuh Tapi kayu bisa memeluknya Angin tidak dapat ditangkap Tapi beristirahat di atas batu   Jika dibiarkan begitu saja Apa pun yang ada dimana pun Akan terlihat sangat memesona Dan membuat berdecak kagum     Embusan napas yang keluar

Itu apa basah-basah? Di bawah bernoda Bau tanah   Itu kenapa coklat-coklat? Di celana, di sepatu Tak tahu malu   Di luar hujan, kau dengar?   Baca juga puisi Mimpi   Telinga koyak Jantungku tak berdetak Satu-satunya deras yang kudengar hanya di pipi   Tak peduli betapa takut diri ini

Mimpi, Aku pun manusia. Bisa luluh sebab sempurna. Padamu, mimpi-mimpiku tak tau malu, Pasca usangnya istilah “cinta tidak harus memiliki”, aku pun sewaras mereka yang ingin mendapatkanmu, Hanya saja, aku lebih dulu mencintai kemerdekaan. Aku tidak akan membawa diriku untuk merampas sesuatu, apapun darimu, Agar kau pun merdeka dalam menentukan

Apa yang Tuhan titipkan padanya Untuk disampaikan padaku? Apakah tentang sebuah laut Yang nyatanya tak selalu biru Ataukah mengenai sebuah langit Yang faktanya tak selalu biru Atau mungkin semua hal Memiliki warna biru-nya masing-masing? Apa yang Tuhan titipkan padanya Untuk disampaikan padaku? Mungkin hujan yang tetap garang Dengan atau tanpa

Biarkan ku awali dari belakang Ini bukanlah penutup,  Melainkan permulaan kisah yang akan dikenang Setengah dari kisahku meletup – letup Dan yang lain terperosok dalam jurang Tentangmu sosok yang terus berucap Tentangku yang hidup dalam bayang – bayang   Ada kalanya kata tak enak terdengar beradu juga ada masa tawa

Menyusuri sangkala terasa begitu singkat Enigma tentang angan seakan terhapuskan Namun akankah seluruhnya pasti jadi luruh? Yang tahu antar laku tentu hanya kita Untaian tawa antara aku dan kalian Sekejap telah menyeruakkan binar riang Ucap yang tak sengaja merekahkan amarah Nanti lumat sendiri ditelan perbincangan Pesan rindu acapkali membelenggu sendiri

Sadarkah dikau akan setiap gerik tingkah yang tak beraturan ini Kau seenaknya menentukan masa depanmu Tanpa kau sadari banyak orang yang terkadang kau repoti Entah nasib atau keberuntungan mereka hanya berkata iya walaupun tak tahu tujuan utamamu Terkadang terbesit rasa sungkan akan sebuah angan yang sangat mudah didapatkan Pun juga

Setelah ku ambil air suci Ku hampiri benda itu dengan berat hati Karena mata ini pun rasanya masih belum rela terbuka lebar Ku paksakan untuk menatapnya, lantas menjamahnya Ku gelar di ruang kholwat ku   Sajadah, Tempat ku memuaskan diri Menumpahkan segala rasa Rasa syukur atas segala kepercayaan dalam hidup

Merah membara di  barat sana Memancarkan keagungan yang Maha Kuasa Apakah itu senja Kenapa orang selalu memuja Memuja menyebut-nyebut namanya Tak bosan orang melihatnya Menunggu menanti kehadirannya Tuhan..  Apa hanya aku yang tak dapat menikmatinya Menikmati keanggunannya Apakah begitu besar dosaku Tidak mengerti arti keindahan ciptaan-Mu Oh Tuhanku Di saat

Wahai Sujana Sang kelana semesta Fana sudikah kau menatap sejenak dalam hibukmu dan dengarkan aku mengunggah senandika Kau tahu? Semalam sang kemukus melintas dalam sekedipan mata dan tetiba retinaku memendar indah mengapalah bianglala serasa nyata dalam pekat tak bercahaya Ku belai angkasa dengan tegas Menggapai jemarimu   wahai Sujana, aku