Rumah

Diposting pada 51 views

Ke mana aku akan pulang kalau bukan ke rumah? Apa itu rumah? Apakah hanya sebuah benda gabungan bentuk persegi dan segitiga yang saling tumpang tindih? Ataukah ia dapat mewujud sebagai bentuk yang lain?

Tak terasa, aku duduk termenung lumayan lama di bangku koridor kelas. Aku asik menikmati nyanyian yang dihasilkan dari rintik hujan yang jatuh. Suasana ini mengingatkanku pada bagian cerita hidup yang telah terjadi pada masa lalu.

Hari ini tepat satu tahun ayah dan ibuku meninggal dalam tragedi kecelakaan. Tepat saat itu, hujan sedang mengguyur deras kota terpadat di Indonesia, tempatku menunggu ayah dan ibu pulang. Ternyata, hujan membawakan ayah dan ibu dalam kondisi yang tak lagi sama. Hujan juga yang memberikanku keteduhan dan mengajarkan ketabahan.

“Kenapa ayah dan ibu kau bawa pergi, hujan? Tolong kembalikan,” tuturku dalam hati.

Saat itu, hujan seakan memberikan jawaban atas pertanyaanku. Begini kata hujan,

“Aku tidak membawa mereka pergi. Tetapi aku akan membawa mereka seakan kembali saat aku turun.”

Jawaban hujan membuatku tabah dan menerima semua yang terjadi. Setiap saat ketika aku sedang merindukan mereka, aku selalu menangis. Tepat saat itu juga, hujan turun dengan derasnya. Aku tak lagi merasa kesepian saat hujan turun. Aku percaya bahwa hujan tak mengingkari janjinya.

Tangisku reda bersamaan dengan redanya hujan. Tak lupa aku berterima kasih padanya. Ia telah menemani suasana pulang sekolah tanpa jemputan dari ayah atau ibu. Melalui klakson mobil di depan gerbang dan lambaian tangan mereka, kini tak ada lagi.

Baca Juga:  Segala Sesuatu Ada Porsinya

Seseorang menepuk bahuku pelan. Aku menoleh ke arahnya sambil mengusap sisa ingus dengan punggung tangan.

“Bu Desi…”

Beliau tersenyum. Aku memaksakan diri ikut tersenyum.

“Ayo pulang sama ibu, nak.”

Aku hanya mengangguk. Setelah wafatnya ayah dan ibu, Bu Desi adalah guru sekaligus tetangga yang merawatku. Kami dikenal sebagai keluarga yang dermawan. Semua tetanggaku sangat baik padaku. Terutama Bu Desi.

“Nak, kamu mau makan lauk apa? Hari ini jadwal Ibu untuk memberikan kamu makanan.”

Aku terdiam. Selintas aku merasa menjadi orang yang selalu merepotkan. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan.

“Nak? Kenapa kamu murung hari ini?”

“Saya tidak apa-apa, Bu. Apa saya boleh membantu Ibu memasak? Saya tidak ingin menjadi orang yang selalu merepotkan orang lain.”

Sekarang Bu Desi terdiam. Sejurus kemudian beliau mengangguk dengan antusias.

“Tentu saja boleh, nak. Nanti kamu pulang ganti baju dulu terus langsung ke rumah Ibu, ya.”

Aku mengangguk. Sampai di rumah, aku menaati perintah Bu Desi tadi.

“Ayo, masuk.”

Sekilas, bayanganku tentang ibu mampir dalam kepalaku.

“Anggap saja rumah sendiri ya, nak.”

“Rumah?” Tanyaku.

“Iya, rumah, tempat pulang”. Jawab Bu Desi.

“Bu, sebenarnya apakah rumah hanyalah sebuah benda seperti ini?”

Bu Desi menggeleng. Ia mendudukkan ku di kursi.

“Nak, rumah tidak selalu berbentuk benda. Rumah bisa juga berasal dari manusia. Memangnya bisa? Bisa dan ada! Bisa juga dari benda lain. Rumah adalah tempat pulang yang bisa membuatmu nyaman di dalamnya. Baik saat suka maupun duka”.

Itulah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ku. Tak terasa mataku berkaca-kaca. Tepat saat air mataku jatuh, tetes hujan pertama pun jatuh. Semakin deras tangisku, maka semakin deras hujan di luar.

“Terima kasih, Bu. Perkataan ibu tadi sudah menjawab pertanyaan ku.”

Bu Desi tersenyum dan mengangguk.

“Tapi, aku belum menemukan rumah”

Dengan sabar Bu Desi menjawab,

“Tidakkah kau sadar, tangis dan hujan adalah rumahmu. Saat kau menangis, hujan turun. Setelah tangismu reda, hujan ikut reda. Ibu yakin setelah tangismu, kau ikhlas atas apa yang terjadi, kau tumbuh menjadi pribadi yang tabah setelahnya.”

Aku terkejut mendengar jawabannya. Bu Desi lebih mengetahui ku daripada diriku sendiri.

“Sudah, ayo kita mulai masak.”

Aku mengusap sisa air mataku dan mulai membantu Bu Desi. 

 

Oleh: Mutiara Nurul Azkia

Pictured by Tarik Haiga on Unsplash