Buku "Fihi Ma Fihi" karya Jalaluddin Rumi
Buku "Fihi Ma Fihi" karya Jalaluddin Rumi

Fihi Ma Fihi: Tentang Satu Hal yang Tak Patut Dilupakan

Diposting pada 61 views

“Maulana Rumi telah menyulap bumiku menjadi permata; dari tanah liatku, ia membentuk semesta laksana surga.” Begitulah ungkapan Muhammad Iqbal sebagai pengantar memasuki dunia Fihi Ma Fihi, sebuah karya yang tidak sekadar untuk dibaca, tetapi untuk direnungi.

Sebuah buku yang mengarungi samudera kebijaksanaan yang di dalamnya terkandung  71 pasal. Setiap pasal akan membawa kita mengarungi hal secara mendalam. Fihi Ma Fihi tidak menawarkan jawaban instan, melainkan ruang untuk bertanya tentang hidup, makna, dan tentang diri kita sendiri.

Judulnya yang berarti “Di dalamnya terdapat apa yang ada di dalamnya,” terasa seperti sebuah paradoks. Namun justru di situlah letak keindahan suatu diksi. Rumi seolah mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan secara gamblang. Ada makna yang hanya bisa ditemukan ketika kita mencoba berhenti sejenak, menenangkan diri, lalu benar-benar hadir dalam setiap kata.

Di tengah era disrupsi ini, merasa bahwa dunia bergerak begitu cepat, notifikasi yang tidak ada hentinya dan tuntutan yang terus bertambah, membaca Rumi terasa seperti memberikan kita jeda dari semua hal. Ia tidak memaksa kita untuk berlari lebih cepat, tetapi justru mengajak kita untuk berhenti dan bertanya: sebenarnya, kita sedang menuju ke mana?

Dalam salah satu pasalnya, Rumi berbicara tentang satu hal yang tidak boleh dilupakan. Ia mengibaratkan manusia sebagai seorang utusan yang dikirim oleh seorang raja ke sebuah desa untuk menjalankan tugas tertentu. Namun, alih-alih menjalankan tugasnya, utusan itu justru sibuk dengan hal-hal lain hingga lupa tujuan awalnya.

Dan di titik ini, mari kita mencoba merenungi perkataan seorang Rumi.

Karena tiba-tiba, analogi itu terasa terlalu dekat.

Baca juga: Status Khaliq dan Makhluq Dalam Kitab Mafahim Yajibu An Tushahhah (2)

Bukankah kita sering seperti utusan itu?

Datang ke dunia dengan potensi, dengan harapan, bahkan mungkin dengan “tugas” yang tak selalu kita sadari namun perlahan terseret oleh kesibukan yang tidak selalu bermakna. Kita mengejar banyak hal: pencapaian, pengakuan, kesempurnaan. Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang sering terlewat:

Apakah kita masih ingat tujuan kita?

Rumi tidak memberi jawaban yang eksplisit tentang apa “satu hal” itu. Dan mungkin memang tidak seharusnya dijawab dengan satu definisi yang kaku. Bagi sebagian orang, itu bisa berupa Tuhan. Bagi yang lain, itu bisa berupa makna, nilai, atau panggilan hidup yang paling dalam.

Namun yang jelas, Rumi mengingatkan bahwa melupakan hal tersebut membuat segala sesuatu yang kita lakukan terasa hampa. Seolah-olah kita bergerak, tetapi tidak benar-benar menuju ke mana pun.

Refleksi ini terasa semakin relevan hari ini. Di era yang dipenuhi distraksi, kita sering kali mengukur hidup dari seberapa banyak yang kita lakukan, bukan dari seberapa bermakna apa yang kita jalani.

Mungkin, itulah mengapa membaca Fihi Ma Fihi terasa seperti sebuah jeda. Sebuah ruang untuk kembali menyusun ulang arah, untuk mengingat kembali apa yang sebenarnya penting.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang melakukan banyak hal. Melainkan tentang tidak melupakan satu hal yang paling berarti.

 

Penulis: Laisa Fikriyatul Muskila

Sumber Gambar: Pinterest