Dalam perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit yang mau tidak mau kita harus memilih salah satu. Contohnya adalah ketika kita dihadapkan dengan pilihan antara melakukan sesuatu yang kita inginkan untuk kepentingan pribadi atau melakukan sesuatu demi kepentingan orang lain.
Pernah nggak sih kalian melakukan sesuatu dengan tulus, tanpa mengharapkan imbalan atau pengakuan dari orang lain? Misalnya seperti membantu tugas kuliah teman dengan sabar, memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, berbagi makanan dengan teman satu kamar, dan masih banyak lainnya.
Tapi, apakah dengan itu kita hanya bisa merasakan pengorbanan demi kepentingan orang lain dan mengesampingkan kepentingan sendiri? Jika iya, maka kita sudah memiliki paham yang keliru selama ini. Karena sejatinya, ketika kita melakukan sesuatu demi kepentingan orang lain saat itu juga kita sedang melakukan kepentingan untuk diri kita sendiri, menabung pahala ikhlas yang besar di akhirat. Keikhlasan adalah salah satu sifat paling penting dalam agama Islam, dan rasa ikhlas merupakah sebuah kunci untuk keabadian.
Tapi, apa itu ikhlas sebenarnya? Bagaimana bisa kita mengetahui apakah kita sudah ikhlas atau belum? Mari kita simak penjelasan berikut untuk menjawabnya.
Baca juga: Saling Memaafkan dengan Ikhlas, Jangan Hanya Formalitas
Ikhlas Dengan Ikhlas
Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa ikhlas adalah sebuah tindakan yang dilakukan tanpa adanya rasa riya’, hatinya bersih dan murni melakukan sesuatu hanya lillah (karena Allah swt). Imam Susi menjelaskan ikhlas merupakan sesuatu yang tidak perlu dilihat, tidak perlu dipertanyakan “aku ikhlas tidak ya?”. Gambarannya seperti orang yang buang hajat, ketika sudah selesai ya sudah, tidak ada yang diingat-ingat ataupun diangan-angan dari hajat (kotoran) yang telah dibuang.
“Orang yang masih melihat-lihat keikhlasannya, maka keihlasan yang seperti itu butuh proses untuk diikhlaskan. Orang yang masih mencermati terhadap keikhlasannya, maka kondisi pencermatan terhadap ikhlas itu butuh lagi diproses untuk menjadi ikhlas. Ikhlasnya perlu diikhlaskan lagi”
– Ust Thoifur-
Dijelaskan pula bahwa ikhlas merupakan sebuah rahasia Allah, yang artinya ikhlas itu tidak dapat dilihat pada diri seseorang, kecuali yang mengetahui keikhlasan adalah individu terkait dan Allah swt. saja. Allah swt menitipkan rasa ikhlas hanya kepada hati orang yang dicintai oleh Allah swt. Jika masih merasa kesulitan untuk ikhlas, mari kita introspeksi diri, hal apa yang menghalangi kita untuk dicintai Allah. Karena, ikhlas tidak bisa dicapai hanya dari usaha manusia sendiri, namun ikhlas merupakan sesuatu yang bisa dicapai dengan bantuan dari Allah swt.
Kisah Tentang Ikhlas
Salah satu contoh menarik tentang keikhlasan adalah kisah tentang kitab Jurumiyyah. Kitab yang tentunya tidak asing di pondok pesantren manapun. Kitab yang ditulis oleh seorang ulama yang bernama Syekh Ahmad Shonhaji.
Dikisahkan bahwa, Syekh Ahmad Shonhaji memutuskan untuk membuang kitab Jurumiyyah yang telah beliau tulis secara teliti dan hati-hati dikarenakan beliau ragu pada tujuannya menulis kitab tersebut. Apakah betul ditujukan untuk umat, untuk membantu orang lain memahami bahasa Arab atau hanya untuk mendapat pengakuan dan pujian dari orang lain? Syekh Ahmad Shonhaji merasa bahwa beliau telah melakukannya tidak dengan rasa ikhlas yang sepenuhnya. Beliau merasa telah menulis kitab untuk mendapat keuntungan pribadi, bukan karena Allah swt.
Akhirnya, beliau memutuskan untuk membuang kitab Jurumiyyah nya di laut Mediterania. Beliau menguji dirinya sendiri, memastikan tentang keikhlasannya. Setelah membuang kitabnya, Syekh Ahmad Shonhaji merasa lega dan tidak kehilangan apa-apa. Beliau menyadari bahwa tidak menulis kitab tersebut untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan orang lain.
Baca juga: Ikhlas Berbeda dengan Merelakan
Setelah kitab Jurumiyyah tersebut dibuang, kitab tersebut ditemukan oleh seorang ulama terkenal yaitu Muhammad bin Muhammad Al Amiri. Beliau adalah ulama yang sangat terkenal di kalangan ulama dan ahli bahasa arab pada masa itu.
Al Amiri menemukan kitab Jurumiyyah tersebut di pinggir pantai, beliau sangat terkejut ketika mengetahui kitab tersebut adalah karya Syekh Ahmad Shonhaji, ulama terkenal yang telah meninggal beberapa tahun sebelum kitab Jurumiyyah tersebut beliau temukan.
Akhirnya, Al Amiri memutuskan untuk mempelajarinya, memahaminya dan menjadikan kitab Jurumiyyah ini sebagai sumber utama bagi beliau dalam mempelajari bahasa Arab. Kitab Jurumiyyah ini kemudian menjadi sangat terkenal di kalangan ulama dan ahli bahasa Arab saat itu, bahkan masih dipelajari dan digunakan hingga saat ini.
Kisah kitab Jurumiyyah yang dibuang mengajarkan pada kita tentang pentingnya keikhlasan dalam melakukan sesuatu, melepaskan kepentingan pribadi dan melakukannya karena lillah, sehingga kita dapat meraih kebahagiaan yang lebih dalam, langgeng, serta mencapai keabadian yang sejati.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik:
ما كان لله يبقى
“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah pasti akan langgeng”
Semoga Allah memberi kesempatan kepada kita untuk dicintai dan diberi kenikmatan dari indahnya rasa ikhlas dan selalu mendapat Ridha-Nya.
Wallahu a’lam.
Penulis: Syarifah Zaidah
Pictured by Silmi Adawiya on bincangsyariah.com
Sumber:
- Pengajian Kitab At-Tibyan Fi Hamalatil Qur’an dalam Program Khusus Ramadan bersama Gus Muhammad Azka, Lc.
- Pengajian Kitab Mukhtasor Ihya Ulumuddin dalam Program Khusus Ramadan Ust Moh. Thoifur



