Ning Qotrunnada Az Zakiyah, Lc.
Ning Qotrunnada Az Zakiyah, Lc.

Tumbuhkan Keimanan dan Kecintaan Santri Baru, OSPEP 2026 Adakan Seminar Tema dan Dialog Sejarah

Diposting pada 9 views

Sabtu, 25 Juli 2026 merupakan hari kedua kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Pesantren Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q. Pada hari ini terdapat serangkaian kegiatan yang cukup padat. Dimulai dari pagi hingga siang harinya, peserta OSPEP 2026 mengikuti kegiatan maqbaroh, seminar tema, sosialisasi pengurus Pondok Pesantren Al-Munawwir, sosialisasi Al Munawwir Store, serta keliling komplek. Adapun pada malam harinya, terdapat dialog sejarah, sosialisasi pengurus Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q, tukar kado, renungan malam, serta menonton film bersama.

Di antara kegiatan-kegiatan tersebut terdapat dua kegiatan utama karena menghadirkan narasumber-narasumber yang istimewa. Kegiatan yang pertama adalah seminar tema yang membahas tema OSPEP 2026 yaitu “Rooted in Faith, Becoming a Light”. Seminar tema kali ini menghadirkan narasumber yang memiliki segudang prestasi dan pengalaman. Beliau adalah Ning Qotrunnada Az Zakiyah, Lc. (Ning Nada) dari Krapyak. Dengan dimoderatori oleh Laila Irfana, seminar pagi ini berjalan dengan kondusif. Adapun kegiatan kedua adalah dialog sejarah yang membahas sejarah Komplek Q dengan narasumber Ustadz Suhadi Chozin, S.Ag dan moderator Nilnarohmah.

Seminar Tema

Ning Nada membahas tema kali ini dengan balutan yang menarik. Dengan memberikan contoh kasus yang dialami remaja generasi z, beliau mengatakan bahwa para remaja generasi z cenderung memiliki obsesi tinggi terhadap spotlight dan begitu mendambakan jumlah like dan komentar orang lain pada postingan mereka. Padahal jika memiliki keimanan yang kuat dalam diri, mereka akan mampu memancarkan cahaya mereka sendiri. ”Jika kita memiliki akar keimanan yang kokoh dalam diri, kita akan mampu memancarkan cahaya kita sendiri,” ujar Ning Nada. ”Keimanan yang kuat akan menguatkan akidah seseorang, kemudian membuatnya konsisten beribadah dan menjalankan syari’at Allah swt, serta pada akhirnya menumbuhkan akhlak yang mulia pada diri orang tersebut,” lanjutnya.

Berkaitan dengan tema ini, Ning Nada menuturkan bahwa Iman itu akar kehidupan kita yang memiliki tiga fungsi. Pertama, ia berfungsi untuk menguatkan pondasi. Pohon yang akarnya rapuh jika diterpa angin kecil saja, ia akan tumbang. Namun jika akarnya kokoh, ia akan tetap berdiri tegak. Begitupula keimanan seseorang. Ketika orang yang imannya kokoh mendapat banyak cobaan, misalnya tugas kuliah menumpuk atau terdapat masalah keluarga, hal itu tidak akan membuat dirinya tumbang. Kedua, ia berfungsi untuk menyerap air. Yang mana air di sini dapat diumpamakan dengan ilmu. Semakin banyak ilmu yang diserap, maka keimanan seseorang akan menguat. Ketiga, akar menentukan kualitas buah yang dihasilkan karena iman yang lemah akan menghasilkan perilaku yang tidak baik, sedangkan iman yang kokoh akan menghasilkan perilaku yang baik.

Pada penghujung penyampaiannya, Ning Nada mengajak para hadirin untuk menantang diri sendiri dan menyebutnya dengan “Tantangan 30 Hari”. Dijelaskan bahwa tantangan ini terdiri dari tiga tahap. Yang pertama watering yaitu menjaga keistiqomahan diri dalam beribadah. Yang kedua light up yaitu melakukan satu kebaikan tersembunyi setiap satu minggu. Dan setelah 30 hari berlalu, sampai pada tahap ketiga yaitu review yang dilakukan dengan meminta pendapat teman mengenai perubahan yang nampak pada diri kita. Terakhir kalinya, beliau mengajak seluruh peserta OSPEP 2026 untuk mengucapkan ikrar bersama dan berjanji untuk menjadi pribadi yang berakar kuat dalam iman dan menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar, demi meraih ridha Allah swt.

Baca juga: Dialog Aswaja: Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebagai Contoh Moderasi Beragama
Ustadz Suhadi Chozin, S.Ag
Ustadz Suhadi Chozin, S.Ag
Dialog Sejarah

Ustadz Suhadi Chozin, S.Ag atau yang biasa disapa Pak Hadi mengawali dialog sejarah malam ini dengan memperkenalkan sejarah pendirian Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak oleh KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad. Beliau menceritakan bahwa sebelum berdiri di Krapyak, muassis pondok mengadakan pengajian di sebuah surau dekat rumahnya yang berlokasi di sebelah utara Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Barulah seiring bertambahnya jumlah muridnya, beliau pindah ke Krapyak dan mendirikan Pondok Pesantren Krapyak pada tahun 1910.

Selanjutnya, Pak Hadi menceritakan proses pendirian Komplek Q oleh Kyai Ahmad Warson Munawwir atas usulan Kyai Ali Maksum. Dapat dibayangkan betapa Kyai Warson bersama sang istri, Nyai Khusnul Khotimah begitu gigih dalam mengelola Komplek Q ini. Dibuktikan juga dengan bangunan yang dulunya hanya ada mushola timur, kini bangunan Komplek Q telah berkembang pesat. Begitu pula santri-santrinya yang kini mencapai jumlah 700 lebih santri dimulai dari santri MTPA, MTPR, SMK, hingga mahasiswa.

Berdasarkan cerita Pak Hadi, diketahui bahwa sejak dahulu mayoritas santri Komplek Q adalah mahasiswa. Serta diketahui kenyataan bahwa Kyai Warson adalah tokoh yang aktif dalam dunia politik. Oleh karenanya, beliau menekankan para santri untuk bersungguh-sungguh dalam tafaquh fid din tanpa mengesampingkan pengalaman dari luar pesantren.

Sebagaimana dawuh beliau yang selalu disampaikan kepada santri beliau, ”Diniati mondok nyambi kuliah, ojo diwalik,” yang artinya ”Diniati mondok sambil kuliah, jangan dibalik”.

Berbicara mengenai pendiri Komplek Q tentunya tidak bisa terlepas dari karya beliau yang begitu monumental yaitu Kamus Al-Munawwir. Kamus ini menjadi bukti luasnya pengetahuan beliau dalam ilmu nahwu shorof. Berdasarkan penuturan Pak Hadi, ternyata penulisan kamus ini pun tidak terlepas dari usulan Kyai Ali Maksum sebagaimana ketika beliau akan mendirikan pondok. Dan juga terdapat dorongan halus dari Kyai Mustofa Bisri untuk kemudian beliau mau menerbitkan kamus ini.

Pada tahun 2013 Kyai Warson meninggal dunia dan setelahnya kepengurusan pondok dipegang sendiri oleh santri dengan tetap diawasi oleh keluarga ndalem. Pak Hadi mengatakan bahwa memang sejak sebelum wafat Kyai Warson sudah mengajarkan prinsip-prinsip kemandirian dan membimbing para santri untuk mengurus pondok. Berkat bekal yang diberikan beliau inilah saat ini seluruh kegiatan pondok dijalankan oleh pengurus dari kalangan santri sendiri, dimulai dari kegiatan tahfidz, madrasah diniyah, bahkan eventevent pondok seperti haflah dan haul.

Tak lebih dari satu jam, Pak Hadi menceritakan sejarah Komplek Q. Hingga pada akhir dialog beliau berpesan agar para santri selalu menjaga keistiqomahan dalam membaca Al-Qur’an, apalagi sebagai santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Munawwir yang notabene merupakan pondok berbasis Al-Qur’an. Beliau menambahkan pesan bagi peserta OSPEP 2026 untuk senantiasa belajar dengan rajin baik dalam pembelajaran di pondok maupun di kampus. Semoga kita dapat menjalankan dawuh dari guru-guru kita dan menjadi santri yang taat kepada guru.

 

 

Redaktur: Rizka Aisya Fahma

Sumber Gambar: Media Komplek Q