Ada bunga yang gugur bukan karena musim telah usai, melainkan karena sosok yang selama ini merawatnya telah lebih dahulu berpulang. Bunga itu boleh layu, bunga itu boleh mati kering. Tapi, akan dipastikan wangi bunganya akan tetap abadi kepada sosok yang merawatnya. Bukan bunga lily ataupun bunga tulip. Namun, ialah sosok yang mungkin tidak banyak berbicara tentang dirinya, tetapi jejak pengabdiannya terasa begitu panjang.
Begitulah kiranya hati para santri ketika Ibunda Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson telah tiada. Beliau adalah teduh yang membuat bunga-bunga kecil (kami para santri) berani tumbuh. Dengan kasih, doa, perhatian, dan keteladanan, beliau merawat kami tanpa banyak meminta untuk dikenang. Maka ketika beliau pergi, rasanya seperti satu persatu kelopak bunga dalam taman kehidupan kami ikut berguguran. Setegar apa pun bunga yang mekar, tetap akan gugur ketika waktunya tiba.
Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson: Sosok Lembut di Balik Tumbuhnya Pendidikan Komplek Q
Di mata banyak orang, Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson atau yang kerap kita sapa Ibu Warson dikenal sebagai pribadi yang penyabar, lemah lembut, dan sae kepada siapa saja. Kebaikan itu tidak hanya beliau tunjukkan kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya, tetapi juga kepada para santri yang tumbuh dan belajar di lingkungan pesantren.
Kelembutan Ibu Warson bukan sekadar sikap dalam keseharian. Di balik sosoknya yang tenang, terdapat keteguhan seorang perempuan yang turut mengambil peran dalam perjalanan pendidikan pesantren. Beliau belajar banyak dari suaminya, KH. Ahmad Warson Munawwir, seorang ulama yang dikenal luas sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q dan seorang penulis kamus fenomenal di Indonesia, Kamus Al-Munawwir.
Di tengah kesibukan Kiai Warson dalam dunia keilmuan dan penulisan, Ibu Warson mengambil peran yang tidak kalah penting. Jika Kiai Warson banyak mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam bidang keilmuan, Ibu Warson menjadi salah satu sosok yang meneruskan dan menghidupkan pendidikan madrasah yang telah dirintis oleh suaminya. Dari tangan Ibu Warson, pendidikan Komplek Q mulai mendapatkan perhatian dan pijakan yang lebih kuat. Pendidikan tersebut ialah Yayasan Pondok Pesantren El Muna-Q.
Pengembangan pendidikan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan Ibu Warson tidak hanya mempertahankan apa yang telah dirintis oleh Kiai Warson, tetapi juga meneruskannya dengan menyesuaikan kebutuhan zaman dan masa depan para santri. Pondok kemudian tidak sekadar menjadi tempat untuk mengaji, tetapi berkembang sebagai ruang pendidikan yang memberikan kesempatan kepada santri untuk menempuh pendidikan dalam berbagai jenjang.
Dengan demikian, perjalanan Komplek Q menjadi sebuah gambaran tentang estafet perjuangan yang tidak terputus. Dari Kiai Warson yang merintis dan mempersiapkan pondasi, kemudian dilanjutkan oleh Ibu Warson yang mengembangkan dan memperluasnya. Keduanya meninggalkan jejak yang saling melengkapi. Kiai Warson meletakkan dasar, sementara Ibu Warson menjaga, merawat, dan menumbuhkan pondok hingga berkembang menjadi pendidikan bagi banyak generasi santri.
Di sinilah letak keistimewaan Ibu Warson. Keberadaannya dalam sejarah pendidikan Komplek Q tidak selalu tampil dalam bentuk yang besar dan mencolok. Pengabdiannya hadir melalui kesabaran, kelembutan, pendidikan, perhatian kepada santri, dan ketekunan dalam membersamai perjalanan pesantren. Ia adalah sosok ibu yang mendidik tanpa banyak menonjolkan diri, tetapi meninggalkan jejak yang panjang melalui orang-orang dan pendidikan yang pernah disentuhnya.
Baca juga: Kiaiku Keren
Ibu Nyai Warson: Ilmu Diteruskan, Nasihat Tetap Tumbuh
“Aku ki yo sinau teko bapak Warson, makane sampean nak kene yo sinau ora mung teko aku.” (Aku itu ya belajar dari bapak Warson. Makanya kalian di sini ya belajar tidak hanya dari aku). Dawuh ibu Warson saat menasehati santri-santrinya agar terus belajar. Kalimat tersebut memperlihatkan bagaimana Ibu Warson memandang dirinya sendiri sebagai seorang yang juga terus belajar. Meskipun beliau memiliki peran besar dalam merintis pendidikan madrasah, beliau tidak meminta para santri untuk menjadikan dirinya sebagai satu-satunya teladan. Beliau justru menunjukkan sosok yang beliau teladani terlebih dahulu, yaitu suaminya sendiri, Kiai Warson. Apalagi, semua santrinya adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan itu bisa.
Dawuh ibu Warson, “Walaupun kita seorang wanita, tetap tidak menghalangi untuk punya pendidikan tinggi, ilmu, keahlian, keterampilan, atau karier karena itu untuk bekal hidup kita. Sehingga setelah berumah tangga kita bisa jadi partner yang kuat mendampingi suami dalam membangun rumah tangga dan mendidik anak. Apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dalam hidup, kita wanita akan tetap bisa kuat dan eksis melanjutkan kehidupan.”
Kalimat tersebut menunjukkan betapa beliau memandang pendidikan sebagai bekal penting bagi seorang perempuan. Menurut beliau, menjadi perempuan tidak semestinya menjadi batas untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Ilmu, pendidikan, keahlian, dan keterampilan justru menjadi bekal yang akan menguatkan perempuan dalam menjalani kehidupan.
Nasihat itu barangkali sederhana, tetapi menyimpan pandangan yang jauh ke depan bahwa seorang perempuan perlu dipersiapkan bukan hanya untuk menjalani kehidupan yang baik, tetapi juga untuk tetap kuat ketika kehidupan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Best motivation yang pernah saya dapatkan dari beliau langsung adalah: “Meskipun perempuan, ya tetap harus banyak belajar. Pelajari segala hal selagi kamu mampu. Karena kita tidak tahu kehidupan ke depan akan seperti apa.” Bagi saya, kalimat itu bukan sekadar motivasi untuk belajar, tetapi juga sebuah pesan tentang bagaimana seorang perempuan mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan. Ibu Warson mengajarkan bahwa selama masih diberi kesempatan dan kemampuan, jangan pernah berhenti menambah ilmu dan pengalaman. Sebab kita tidak pernah tahu akan seperti apa jalan kehidupan yang menanti di depan.
Nasihat itu terasa semakin berarti ketika kini beliau telah tiada. Apa yang dahulu disampaikan secara langsung, kini menjadi pesan yang terus hidup dalam ingatan. Ibu Warson adalah bunga yang selalu mengharumkan siapa pun yang ada di dekatnya. Dan mungkin, salah satu harum yang beliau tinggalkan adalah nasihat-nasihat sederhana yang terus tumbuh dalam diri para santrinya. Sebagaimana bunga yang tidak hanya indah ketika mekar, tetapi juga meninggalkan harum setelah kepergiannya, begitulah Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson.
Sosok Bunga yang Gugur
Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson pernah dawuh, “Aku wes kangen kanjeng Nabi”. Kalimat sederhana itu kini terasa begitu dalam. Seminggu setelah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabi’ul Awwal 1448 H), Ibu Warson berpulang. Entah bagaimana takdir menuliskan perjalanan itu, tetapi bagi kami, kepergian Ibu Warson terasa seperti sebuah perpisahan yang membawa satu kerinduan yang selama ini sering beliau ucapkan. Kini, mungkin kerinduan itu telah menemukan jawabannya.
Bunga yang telah mekar akhirnya gugur. Bunga yang gugur tidak berarti kehilangan makna. Namun, harumnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia meninggalkan jejak pada tanah tempat ia pernah tumbuh, meninggalkan harumnya pada mereka yang pernah berada di dekatnya. Begitu pula Ibunda Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang dalam, tetapi juga meninggalkan doa, nasihat, kasih sayang, dan keteladanan yang akan terus tumbuh dalam diri para santri.
Kami mungkin adalah bunga-bunga kecil yang hari ini gugur karena kehilangan sosok yang begitu kami cintai. Tetapi dari gugurnya bunga itu, semoga tumbuh kembali bunga-bunga baru yang meneruskan harumnya menjadi santri yang menjaga ilmu, adab, dan perjuangan yang telah beliau rawat selama hidupnya.
Rindu itu akan terus ada, karena:
مِنْ بَيْنِ طُرُقِ الْخَسَارَةِ الْعَدِيدَةِ، الْأَكْثَرُ إِيلَامًا يَتِمُّ التَّخَلِّي عَنْهُ بِسَبَبِ الْمَوْتِ، لِأَنَّهُ مَا بَعْدَ ذَلِكَ إِلَّا الشَّوْقُ بِلَا لِقَاءٍ
“Dari banyaknya cara kehilangan, yang paling menyakitkan adalah kematian. Karena setelahnya yang ada hanyalah rindu tanpa temu.”
Selamat jalan, Ibunda Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson. Semoga rindu Ibu kepada Nabi telah sampai pada perjumpaan yang paling indah.
Penulis oleh: Zia Zahra Hudaya (Santri Alumni Komplek Q)
Sumber Gambar: Media Komplek Q


