Maulid Nabi ala Gen Z: Intip Cara Nabi Mengendalikan Diri Biar Gak Boros Energi

Diposting pada 12 views

Apakah sobat pernah diledek oleh teman karena pilihan hidup seperti cita-cita, penampilan atau cara berpendapat? Tentu, hal tersebut mengesalkan, bukan? Apalagi jika seseorang yang menghina atau meledek kita adalah teman terdekat atau bahkan keluarga sendiri. Pasti kalian pernah merasakan capek karena terus-menerus memikirkan omongan orang. Rasanya pasti nggak enak banget, kan! Tapi ternyata jauh sebelum era modern ini, tepatnya 1400 tahun lalu Nabi Muhammad ﷺ sudah mengajari kita cara agar ‘tidak boros energi’ buat hal-hal seperti itu sobat.

Kita sering merasa ‘wajib membalas’ dan klarifikasi segala hal yang datang ke diri kita. Dan bukannya makin selesai masalah atau beban mentalnya, justru kadang makin terasa capek dan membuat overthinking jika ditanggapi dan dipikirkan terus-menerus. Lalu, bagaimana cara meminimalisir kemungkinan buruk dari banyaknya hal yang sebenarnya di luar kendali kita?

Tenang, di tengah dunia yang berisik ini, kita butuh ‘mode hemat energi’ dan  Nabi Muhammad ﷺ sudah kasih contoh nyatanya. Ada beberapa kisah Nabi Muhammad ﷺ yang mungkin sudah tidak asing ditelinga kita, salah satunya adalah ketika beliau dilempari kotoran hewan saat hendak pergi ke masjid. Tidak hanya dilempari kotoran, Nabi juga mendapatkan hinaan dan cacian dari utusan kaum quraisy tersebut.

Namun apa reaksi beliau? Beliau tidak pernah membalasnya walaupun hanya sekedar mengeluh. Justru Nabi bertanya dan khawatir ketika orang yang biasa melemparinya dengan kotoran tiba-tiba tidak melakukan kebiasaan buruk tersebut. Dan ternyata setelah ditelusuri ternyata orang tersebut tengah sakit. Meskipun mendapatkan perlakukan yang buruk, beliau tak segan untuk menjenguknya. Dan yang terjadi, akhirnya orang tersebut merasa malu dan meminta maaf kepada Nabi.

Baca juga: Bagaimana Sikap Nabi Terhadap Non Muslim?

Kisah yang tak kalah menyayat hati adalah ketika Nabi Muhammad ﷺ pergi ke Thaif untuk berdakwah, namun beliau justru ditolak, diusir, dan dilempari batu hingga tubuhnya berdarah. Bahkan malaikat sampai menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif. Namun, lagi-lagi apa yang beliau lakukan? Beliau menolak dan berharap dari keturunan mereka kelak akan lahir orang-orang yang beriman.

Mungkin bagi kita manusia biasa, perasaan ingin membalas dendam dan kesal akan terus menghantui dan membuat masalah makin mengeruh. Tapi tidak bagi Nabi, beliau bereaksi dengan begitu indah dan kebijaksanaan. Inilah yang dapat kita contoh ketika bereaksi terhadap komentar, hinaan atau hal yang membuat kita kesal. Kendalikan apa yang bisa dikendalikan!

Hal ini juga selaras dengan teori “Let Them–Let Me” karya Mel Robbins dan Sawyer Robbins. Penting untuk dicatat, teori ini bukan landasan utama kita. Ia hanya membantu kita memahami dengan bahasa kekinian apa yang sudah dipraktekkan Nabi Muhammad ﷺ: bahwa yang bisa kita kendalikan bukan pikiran dan omongan orang, melainkan cara kita menanggapi dan batasan yang kita tetapkan. Disisi lain, kita juga tidak boleh melupakan Allah SWT dalam upaya merespon hal-hal yang datang ke kita. Untuk itu kita juga perlu ‘Let Allah’, artinya jika sudah berusaha maka serahkan hasil akhirnya ke Allah. Sandarkan ke Allah dengan bertawakal kepadanya. Dan sebagai generasi muda atau akrab disebut dengan ‘gen-Z’ baiknya sebelum mencerna sesuatu kita filter dulu, bertanya ke diri sendiri “Omongan seperti ini penting nggak buat hidupku? Bisa aku kontrol nggak?”. Dan jika tidak terlalu penting maka “Let Them”.

Jangan langsung bereaksi terhadap sesuatu, coba respon dengan tenang dengan menarik napas terlebih dahulu. Kita juga bisa membatasi hal yang datang, seperti unfollow atau mute teman yang membuat kita kurang nyaman. Bukan berarti lari, namun mengusahakan yang terbaik agar energi kita tidak habis oleh hal yang membuat kita gelisah. Selanjutnya, lakukan hal produktif atau bereaksi positif seperti berkarya atau perbaiki ibadah kepada Allah SWT. Dan yang terakhir adalah berdoa dan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah kita.

Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya perihal perayaan. Lebih daripada itu, di moment maulid ini yang harus kita lakukan adalah meneladani sikap dan cara beliau bereaksi terhadap hal yang bisa dikendalikan. Jangan membuang energi untuk hal yang tidak bisa dikendalikan. Wallahu a’lam bishawab.

 

Penulis: Nilnarohmah

Sumber Gambar: Pinterest