Tulisan ini berupa artikel feature, point of view santri yang tak pernah memiliki kesempatan berjumpa langsung dengan sesosok KH. Ahmad Warson Munawwir. Bahkan mungkin tidak akan pernah tau bagaimana rasanya hidup berinteraksi langsung dengan beliau. Ia hanya dapat bersua melalui buku dan cerita dari orang-orang yang pernah ada pada masa KH. Ahmad Warson Munawwir. Dan tulisan ini, mungkin masih menuliskan ‘sebagian’ kisah yang pernah ia temukan dan dengar. Semoga bersua dalam kenangan ini termasuk salah satu cara merasakan kedekatan dengan sesosok KH. Ahmad Warson Munawwir.
Namun, jika mendengar banyak kisah cerita dari beberapa pihak yang pernah ada pada masa Kiai Warson, banyak sekali kisah yang sangat menyenangkan dan mengharukan. Ada pertemuan yang tercatat oleh mata, dan ada pula pertemuan yang hanya ditangkap oleh hati. Dan akhirnya, aku menyadari suatu hal bahwa ternyata tidak semua kedekatan harus berupa pertemuan, tetapi ada kedekatan yang hadir melalui nilai.
Di satu titik aku bertanya pada diriku sendiri: mengapa aku bisa merasa rindu pada seseorang yang tidak pernah kukenal dan kutemui langsung? Dari sini mungkin aku memahami bahwa rindu bukan hanya soal tatap muka, tetapi soal pengaruh. Jika Komplek Q ini adalah rumah, maka KH. Ahmad Warson Munawwir adalah arsiteknya. Dan seorang arsitek tidak perlu selalu terlihat untuk membuat seseorang merasa aman dan nyaman.
Bahkan, sore hari menjelang acara peringatan haul Kiai Warson ke-13, aku bersimpuh menunduk dihadapan makam cantik bertabur bunga wangi seraya termenung. Tak bisa berucap sesuatu, dan hanya bisa membatin: Bapak Warson, kulo memang datang terlambat untuk bertemu panjenengan. Tapi kulo sedang berusaha mengejar jejak panjenengan. Dan mungkin, itu cukup. Karena menjadi santri bukan tentang seberapa sering kita bisa berjumpa dengan sang guru, tapi seberapa dalam nilai guru itu hidup dalam keseharian kita.

Baca Juga: Sosok Kiai Warson dalam Kacamata Pak Habib Syakur
Keilmuan Kiai Warson: Ciptakan Kamus Fenomenal
KH. Ahmad Warson Munawwir, menempati posisi yang sangat istimewa di antara deretan ulama Nusantara yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu keislaman. Beliau tidak hanya dikenal sebagai putra dari penghafal Al-Qur’an legendaris, KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad, tetapi juga sebagai ulama yang mewujudkan perpaduan antara keteguhan tradisi pesantren dan inovasi ilmu pengetahuan dalam satu sosok.
Warisan Kiai Warson bukan hanya hidup di lingkungan pondok pesantren, tetapi juga menjangkau berbagai institusi pendidikan, para penuntut ilmu di seluruh Indonesia, bahkan dunia internasional melalui karyanya. Ya, kamus Al Munawwir. Kamus Al Munawwir adalah salah satu bentuk dari keilmuan Kiai Warson dalam bidang bahasa Arab. Hal ini diakui oleh beberapa tokoh ulama, salah satunya adalah KH. Kholid Ridwan (Kutoarjo) yang mengatakan bahwa Kiai Warson dijuluki ‘Kamus Berjalan’ ketika masih di Pondok Termas, karena keluasan ilmu dalam bahasa Arab.
Kamus Al Munawwir sebagai karya fenomenal ini dibuat oleh Kiai Warson atas dawuh dari KH. Ali Maksum. Berawal dari Kiai Warson belajar ilmu bahasa Arab sejak kecil, hingga pada usia 11 tahun beliau mampu khatam menghafal Alfiyyah Ibu ‘Aqil dan mulai mengajarkan kepada santri-santri beliau yang berumur lebih tua atau di atas beliau. Cerita lucunya adalah, saking mudanya beliau mengajar, kakinya belum menapak ke lantai saat beliau duduk di kursi.
Baca Juga: Kisah Perjalanan Kamus Al-Munawwir
Keteladanan: Sederhana, Tawadhu’, dan Andhap Asor
Keteladanan KH. Ahmad Warson Munawwir yang paling menonjol adalah kesederhanaan. Walaupun beliau adalah seorang tokoh kiai, ulama besar, bahkan sang pemilik karya fenomenal, tetapi Kiai Warson tidak pernah menampakkan kebesaran dirinya. Dimanapun beliau berada, selalu tampil sederhana layaknya orang biasa dengan menggunakan baju biasa, tidak berjubah, ataupun bersurban. Bahkan, beliau kerap kali berbaur dengan masyarakat umum seperti duduk di bawah pohon tidak berdampingan dengan para kiai ataupun adanya seorang pengawal.
Selain dalam hal berpakaian, Arina Manasikana —Halqimuna, menyampaikan bahwa kesederhanaan selain dalam hal berpakaian, yaitu dalam hal makan. Kesederhanaan yang diajarkan Kyai Warson ini sekaligus sebagai bentuk tirakat. Beliau memang suka kulineran, tetapi tidak pernah berlebihan asalkan cukup. “Pokoke kuwe ning kene tak kon tirakat”, dawuh Kyai Warson ketika pengurus mengajukan penambahan menu makanan untuk santri. Sama halnya yang dikatakan oleh Pak Habib Syakur, “Bapak Warson iku sederhana lan ora neko-neko“, (Bapak Warson itu sederhana dan tidak aneh-aneh).
Ingat, yang sederhana bukan berarti tertinggal zaman atau tidak mampu, tetapi itu bentuk tirakat paling baik. Dan hasil dari tirakat kesederhanaan akan lebih luar biasa. Itulah selintas pendapatku mengenai makna ‘berkah’ yang terselip dalam kesederhanaan dan tirakat. Selain kesederhanaan yang terpancar, Kiai Warson adalah sosok yang tawadhu’. Ketawadhu’an beliau diakui oleh KH. Rosihin Anwar yang mengatakan “Gus Warson itu sosok yang andhap asor (rendah hati) banget.”
Kedekatan Dengan Santri
KH. Ahmad Warson Munawwir, merupakan sosok yang sangat dekat dengan para santrinya. Bahkan Kiai Warson lebih akrab dipanggil ‘Bapak Warson’ oleh para santrinya. Panggilan ini tentu bukan tanpa alasan, beliau ingin para santrinya menganggap beliau seperti bapak sendiri sehingga santri-santrinya merasa dekat dengan beliau layaknya dekat dengan orangtua kandungnya. Beliau juga tak ingin ada jarak antara kiai dan santri.
Kedekatan Kiai Warson dengan santrinya hingga beliau menganggap santrinya sebagai teman sendiri, sehingga tak jarang beliau mengajak mereka (santrinya) untuk berdiskusi serta meminta pendapat mereka dalam berbagai hal. Tidak hanya mengaji dan belajar agama, Kiai Warson juga mengajarkan banyak hal kepada santri-santrinya seperti berwirausaha, manajemen pondok pesantren, berorganisasi, keterampilan, dan masih banyak lagi. Bahkan, Kiai Warson memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada santri untuk turut andil dalam memegang manajemen pondok pesantren.
Apa Upaya Perkembangan yang Kiai Warson Wariskan?
Awal mula pembangunan Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q adalah wasiat dari KH. Ali Maksum. Kiai Warson akhirnya membangun pondok pesantren yang didirikan khusus untuk santri-santri putri yang ingin mendalami ilmu agama sambil menimba ilmu di lembaga-lembaga umum pada 22 September 1989. Dengan berdirinya Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q merupakan bentuk takzim Kiai Warson kepada sang guru, bahkan kini Komplek Q sangat berkembang.
Sejak didirikannya Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q, pengelolaan pondok pesantren tidak hanya oleh Kiai Warson saja, tetapi beliau dibantu oleh santri-santri yang menjadi pengurus. Kiai Warson selalu menyerahkan manajemen pondok ke santri dan pengurus dengan tetap diberi bimbingan. Beliau selalu memberikan kesempatan kepada pengurus untuk melakukan pengembangan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Hingga menjelang kepergiannya, Kiai Warson secara perlahan-lahan menyampaikan perkembangan pondok pesantren kepada sang istri Nyai Hj. Husnul Khotimah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Gus Kholid Arif Rozaq, S.Hut., M. M. saat sambutan acara Harlah Komplek Q ke-36 bahwa KH. Ahmad Warson Munawwir lah yang mengurus segala urusan tentang pondok. Sedangkan Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson belum mengetahui bagaimana urusan pondok pada saat itu.
Pada sekitar tahun 2008/2009, secara pelan-pelan segala urusan tentang pondok disampaikan kepada Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson. Sehingga, ketika Kiai Warson wafat pada tahun 2013, Ibu Warson tidak begitu kaget – dalam artian ‘pondok wes dipasrahno alon-alon” dan siap untuk melanjutkan perjuangan dari Kiai Warson dalam mengasuh dan mengembangkan pondok pesantren. Setelah itu, ide-ide dalam mengembangkan Komplek Q berasal dari Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson.
Hingga saat ini, Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q terdiri dari beberapa lembaga pendidikan diantaranya Madrasah Salafiyah III (Masaga), Madrasah Tahfidz Putri Mahasiswa (MTPM), Madrasah Tahfidz Putri Remaja (MTPR), Madrasah Tahfidz Putri Anak (MTPA), MI Tahfidz Al-Quran El-Muna Q, MTs. Tahfidz Al-Quran El-Muna Q, MA Tahfidz Al-Quran El-Muna Q, dan Santri Pelajar SMK Al-Munawwir. Tak lain dibawah asuhan Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson dan keluarga ndalem, Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q secara pengelolaan juga dibantu oleh Halqimuna dan Santri.
Tak hanya mengembangkan lembaga pendidikan pondok pesantren, bertepatan pada peringatan Haul KH. Ahmad Warson Munawwir ke-11, diadakan peresmian pengembangan kamus Al-Munawwir dalam bentuk aplikasi. Dalam pembuatan kamus Al-Munawwir versi digital atau bentuk aplikasi ini dibantu oleh PT Quamus. Alasan PT Quamus turut membantu merealisasikan kamus Al-Munawwir ke dalam bentuk aplikasi adalah kamus Al-Munawwir merupakan kamus yang sangat bagus dan lengkap diantara kamus-kamus bahasa Arab lainnya. Sehingga dengan adanya kamus versi digital, selain mengikuti perkembangan teknologi juga dapat membantu masyarakat dalam mengakses kamus Al-Munawwir dengan mudah.

Pada peringatan Haul ke-13 KH. Ahmad Warson Munawwir, diadakan juga Haflah Khotmil Qur’an Putri perdana Pondok Pesantren El-Muna Q. Hal ini menjadi salah satu momen bersejarah, bahwa Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q yang telah berusia 36 tahun ini selalu berkembang setiap tahunnya. Selalu ada inovasi baru agar Komplek Q tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang untuk bertumbuh, berkarya, dan memuliakan Al-Qur’an.
Sebenarnya masih sangat banyak cerita kisah KH. Ahmad Warson Munawwir, namun tulisan ini hanya mampu menuliskan sepenggal kisah. Versi lengkap kisah KH. Ahmad Warson Munawwir telah dimuat dalam buku “Jejak Sang Pionir Kamus Al Munawwir: KH. Ahmad Warson Munawwir”, tak lain ditulis oleh para santri-santri Komplek Q yang mungkin ada pada zaman beliau.
Hingga kini, nama KH. Ahmad Warson Munawwir tetap abadi sebagai simbol keteguhan ilmu, keikhlasan pengabdian, dan kedalaman adab. Beliau menunjukkan bahwa seorang ulama tidak perlu mencari pengakuan untuk diingat. Cukup dengan kesungguhan berkarya dan ketulusan membimbing, namanya akan hidup di hati para penuntut ilmu sepanjang masa. Jejak beliau bukan sekadar dikenang, tetapi terus menjadi pijakan bagi generasi santri yang tumbuh dalam cahaya warisan keilmuannya.
Dari sekian cerita yang kuterima, terutama dari para alumni, aku mulai memahami makna “berkah” dalam wujud yang paling sederhana: kehidupan yang terus naik kelas. Mayoritas dari mereka kini hidup sebagai orang-orang yang berhasil mencapai cita-citanya, membawa nama baik pondok pesantren, dan tetap menjaga nilai-nilai yang dulu mereka pelajari. Kesuksesan mereka seperti bukti hidup bahwa barakah itu mengikuti, memelihara, dan menuntun.
Penulis: Zia Zahra Hudaya
Picture: Arsip Media Komplek Q
Sumber:
- Buku “Jejak Sang Pionir Kamus Al Munawwir: KH. Ahmad Warson Munawwir”
- Kumpulan cerita keluarga Ndalem
- Wawancara Pak Agus Najib, S.Ag.
- Wawancara Pak Suhadi Chozin
- Wawancara Arina Manasikana (Halqimuna)
- Website: https://almunawwirkomplekq.com/



