Ramadan: Bulan (Pulang) Kembali Membenahi Diri

Vibes Ramadan: Bulan Pulang untuk Kembali Membenahi Diri

Diposting pada 130 views

Kalian pasti tahukan kenapa bulan Ramadan sangat dinanti-nanti kehadirannya dan selalu istimewa? Karena bulan Ramadan termasuk salah satu di antara bulan-bulan mulianya Allah swt. Loh tapi kan, kita juga pasti menanti dan mengistimewakan bulan-bulan Hijriyah yang lainnya bukan? Iya memang, tetapi setiap bulan pasti ada keistimewaannya tersendiri, seperti bulan Ramadan yang akan kita jumpai selama satu bulan penuh dengan berpuasa.

Lantas, kenapa bulan Ramadan menurut sebagian orang termasuk penulis ini menyebutnya bulan pulang dan kembali membenahi diri? Oke, mari kita jelaskan!

Ramadan: Bulan Pulang

Selama kita menjalani kehidupan, ada masa dimana ketika kita merasa lelah oleh rutinitas, ambisi, bahkan target dunia yang seakan tak pernah selesai. Tanpa sadar, kita berjalan terlalu jauh, terlalu sibuk, terlalu tenggelam, dan mungkin terlalu jauh dari Allah. Tapi Allah nggak marah, bahkan Allah terus-menerus memberikan kesempatan kita di setiap waktu-waktunya, salah satunya adalah bulan Ramadan. Apa yang Allah berikan di bulan Ramadan sih?

Eits… Ramadan bukan hanya sekadar bulan ibadah, tapi ia adalah bulan pulang. Lah kok pulang? Emang Ramadan rumahkah? Tapi kok kita masih harus ngaji di pondok? Bukan gitu, maksudnya adalah pulang kepada Allah, pulang kepada Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya seperti ngaji kitab, serta pulang kepada diri yang lebih bersih. Pikirannya jangan pulang ke rumah dulu ya…pasti pulang kok.

Ramadan mengajarkan kita untuk kembali duduk lebih lama dalam sujud. Kembali merasakan nikmatnya berbicara dengan Allah tanpa distraksi. Dengan berpuasa membuat kita sadar bahwa kita lemah. Lapar dan haus saja sudah menguji kesabaran, apalagi ujian hidup yang lebih besar. Di situlah hati belajar bergantung lagi sepenuhnya kepada Allah swt yang berarti kita memang harus kembali mengingat Sang Pencipta kita.

Baca Juga: Menghitung Ramadan Lembar Ke-5: Sudah Dapat Jajan Apa Saja?

Baru setelahnya, kita bisa kembali pulang (mengingat) bahwa ada mushaf (Al-Qur’an) yang tersimpan rapi di rak. Ramadan dan Al-Qur’an adalah dua hal yang tak terpisahkan. Di bulan ini, kita kembali membuka lembar demi lembar. Membaca, meski terbata. Mengulang, meski belum sepenuhnya paham. Ada ketenangan yang berbeda ketika ayat-ayat itu kembali menyentuh hati.

Ramadan seakan berkata: “Petunjuk itu tidak pernah pergi. Kamulah yang menjauh.” Yallah ya Robb… tidak hanya Tuhan mu yang perlu diingat, Allah hadirkan Al-Qur’an sebagai petunjuk agar kita tidak tersesat. Ialah perisai nan pedoman kehidupan. (penjelasan lanjutnya ada di paragraf bawah ya)

Dengan kita kembali pulang (mengingat) Allah dan Al-Qur’an di bulan ini, menjadikan kita dapat kembali mengenal versi diri yang lebih lembut, lebih peduli, dan lebih empati. Kita merasakan lapar agar memahami yang kekurangan. Kita memperbanyak sedekah agar hati tidak keras. Ramadan hadir dengan ibadah puasanya, yang melatih kita untuk sadar. Ketika lapar datang, kita belajar sabar. Ketika haus terasa, kita belajar menahan. Ketika emosi memuncak, kita belajar diam. Semua itu adalah latihan memperbaiki karakter diri.

Ramadan: Moment Evaluasi Diri Sendiri

Sering kali menjelang bulan Ramadan kita justru sibuk membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan sahur dan berbuka, bahkan merencanakan pakaian untuk hari raya. Semua itu wajar. Tetapi perlu diingat bahwa yang lebih penting dalam menyambut bulan Ramadan adalah untuk dibersihkan hatinya.

Ramadan adalah ruang perbaikan. Ia memberi kita atmosfer yang mendukung seperti pintu surga dibuka, pahala dilipatgandakan, suasana ibadah lebih tenang dan hidup. Seakan Allah mempermudah jalan bagi siapa pun yang ingin berubah. Sebagaimana firmah Allah swt dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak hanya menyebut Ramadan sebagai bulan puasa. Tetapi menyebutnya sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi manusia. Artinya, Ramadan adalah momentum kita kembali kepada petunjuk (Al-Qur’an). Kenapa kok kita perlu kembali kepada petunjuk? Maksudnya apa?

Seperti halnya yang disampaikan pada paragraf di atas, dalam menjalani kehidupan yang serba sibuk ini, sering kali terasa rumit bukan karena kurangnya solusi, tetapi karena jauhnya kita dari pedoman atau panduan. Maka, Allah hadirkan Al-Qur’an sebagai cahaya, dan menjadikan Ramadan sebagai bulan di mana cahaya itu kembali didekatkan kepada kita.

Baca Juga: Menggapai Berkah Ramadan 1446 H: Program Khusus Ramadan Resmi Dimulai!

Selain itu, ayat ini sangat menenangkan bahwa Ramadan bukanlah beban, bukan juga hukuman, ataupun kesulitan yang dipaksakan. Namun, Ramadan adalah kemudahan dari Allah. Kenapa kok kemudahan? Bukannya kalau Ramadan itu kita harus bersusah payah menahan lapar dan haus ya? Eh, jangan salah, justru dibalik proses usaha puasa Allah kasih kemudahan dan hadiah yang sangat luar biasa.

Puasa tak hanya sebagai latihan (melatih kita), tetapi juga memudahkan proses perbaikan diri. Vibes Ramadan ituloh yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Suasana lingkungan lebih mendukung untuk beribadah, masjid lebih ramai, orang lebih mudah memberi maaf, sedekah lebih ringan dilakukan, bahkan kalian juga dapat makanan takjil gratis kan hehe… itulah berkahnya. Dari hal itu, seolah-olah Allah menciptakan atmosfer kolektif agar perubahan menjadi lebih mudah.

Tidak hanya itu, dalam Al-Baqarah ayat 185 Allah juga mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Membenahi diri bukan hanya tentang menghindari dosa, tetapi tentang meningkatkan rasa syukur. Ketika kita berpuasa, kita belajar menghargai nikmat yang sering dianggap biasa, entah itu air, makanan, waktu, dan kesehatan. Dengan bersyukur, itu artinya kita bisa memperbaiki hati, membersihkan jiwa dari keluhan, serta membuat kita lebih sadar akan kehadiran Allah dalam hidup. Semua itu adalah fondasi untuk membenahi diri.

Dengan demikian, Ramadan adalah bulan pulang, berarti kembali ke keadaan yang lebih bersih, lebih tertata, lebih dekat. Karena Ramadan bukan hanya tentang satu bulan, tetapi tentang siapa kita setelah bulan itu berlalu. Kita tidak pernah tahu, apakah ini Ramadan terakhir atau masih ada kesempatan di tahun depan. Justru karena ketidakpastian itu, Ramadan terasa begitu berharga.

Semoga saat kita berkata, “Ramadan, aku siap,” itu bukan hanya semangat di awal bulan. Tetapi tekad untuk benar-benar membenahi diri sedikit demi sedikit hingga ketika Ramadan pergi, ia meninggalkan jejak perubahan dalam diri kita. Perubahan itulah, yang menjadikan vibes Ramadan kita berubah dan berbeda di setiap tahunnya.

Tak lain, dengan versi Ramadan yang semoga setiap tahunnya selalu lebih baik. Semangat menjalankan vibes Ramadan versi ‘pulang’ dengan mengaji di pondok ya, sebelum akhirnya kepada versi ‘pulang ke rumah’ menyantap masakan sang ibu dan menjalani vibes Ramadan bersama keluarga.

 

Penulis: Zia Zahra Hudaya

Pictured by Jolof Bloom on Pinterest