(1) Ilustrasi berpuasa
(1) Ilustrasi berpuasa

Membaca Pesan dibalik Bau Mulut Saat Puasa

Diposting pada 64 views

Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Bulan ini menjadi momentum istimewa untuk meningkatkan kualitas ibadah. Ramadhan juga identik dengan ibadah puasa. Setiap Muslim tentu mempelajari syarat, rukun, serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Namun, pernahkah kita bertanya lebih jauh, mengapa ada beberapa hal  yang dilarang saat berpuasa? Mengapa sebagian perbuatan dinilai makruh saat berpuasa?

Salah satu contohnya adalah bersiwak atau menggosok gigi. Ketika berpuasa, mulut kerap menimbulkan aroma yang kurang sedap. Namun, justru pada kondisi ini, syariat memakruhkan bersiwak pada waktu tertentu. Mengapa demikian? Apa hikmah di balik ketentuan tersebut?

Dalam kitab Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam (juz 1). kita dapat menjumpai perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum membersihkan mulut dengan siwak atau sikat gigi pada saat puasa, ada yang mengatakan membersihkan mulut jauh lebih mulia dibandingkan membiarkannya dalam keadaan bau dan ada yang berpendapat sebaliknya. Dalam pembahasan ini, saya memilih mengulas pendapat yang membiarkan bau mulut saat puasa, sebagaimana pandangan yang dikuatkan oleh guru kami, KH. Afif Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Al- Munawwir Krapyak (Yayasan Ali Maksum), yang menegaskan pendapat mayoritas ulama mazhab Syafi‘i dalam persoalan ini, yaitu memakruhkan bersiwak setelah tergelincir matahari (ba‘da zawāl) bagi orang yang berpuasa.

Guru kami bersandar pada pendapat mayoritas ulama madzhab syafi’i, salah satunya dalam kitab Fathul Wahhab, (Beirut, Dar al- Kutub al-‘ilmiyyah, t.t., I:26) Syekh Zakaria Al-Anshari mengatakan :

و« لكن »كره« الاستياك »لصائم بعد زوال« لخبر الشيخين: » »لخلوف الصائم أطيب عند الله من ريح» «المسك »

ْ“Dan akan tetapi dimakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah tergelincir matahari berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim: Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada aroma kasturi.”

Kemakruhan membersihkan mulut pada saat berpuasa disandarkan pada hadits yang mana Allah mengaitkan antara bau mulut orang puasa dengan pahala yang begitu besar, berarti bau mulut (khaluf) adalah alasan Allah mengapresiasi mereka dengan pahala. Karena itu, makruh hukum membersihkannya.

(2) KH. Afif Muhammad
(2) KH. Afif Muhammad

Guru kami, KH. Afif Muhammad, menjelaskan bahwa makna kata “athyabu” dalam hadis tentang bau mulut orang yang berpuasa bukanlah harum secara indrawi. Harum yang dimaksud bukan soal penciuman manusia, melainkan nilai spiritual di sisi Allah. Dari sini tersirat pesan halus untuk mengurangi komunikasi dengan manusia dan memperbanyak komunikasi dengan Allah. Lebih lanjut, beliau menuturkan bahwa salah satu hikmah bau mulut saat berpuasa adalah sebagai mekanisme pengendalian diri. Bau mulut membuat seseorang enggan banyak berbicara, sehingga secara tidak langsung mengurangi ucapan yang tidak penting dan menekan potensi ghibah. Secara psikologis, orang cenderung minder untuk banyak bicara ketika menyadari bau mulutnya menyengat. Pemahaman ini selaras dengan konsep tingkatan puasa yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan syahwat, tetapi juga menjadi sarana penyucian anggota tubuh dari dosa.

Baca juga: Vibes Ramadan: Bulan Pulang untuk Kembali Membenahi Diri

Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, (Maktabatuṣ-Ṣafā, t.t., I:285)),  الفصل الباطنة وشروطه الصوم أسرار في الثاني. Imam al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga
tingkatan:
1. Puasa umum, yaitu menahan perut dan kemaluan dari pemenuhan
syahwat.
2. Puasa khusus, yakni menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan,
dan kaki dari segala bentuk dosa.
3. Puasa khususil khusus, yaitu puasa hati dari keinginan-keinginan rendah,
pikiran duniawi, dan segala sesuatu selain Allah.

Pada tingkatan puasa khusus, seseorang dituntut untuk hifzhul lisan menjaga lisan dari dusta, ghibah, dan ucapan sia-sia. Dalam konteks ini, kondisi mulut
yang tidak wangi justru menjadi sarana pedagogis spiritual agar seseorang lebih mudah menahan diri dari banyak bicara. Dengan demikian, bau mulut saat berpuasa bukanlah kekurangan, melainkan bagian dari hikmah ilahiah yang membantu seorang hamba naik dari puasa umum menuju puasa khusus.

 

ُ والله أعلم بالـصـواب

 

Penulis: Rifanda Ahmad Nabil

Sumber Gambar 1: Pinterest

Sumber Gambar 2: Website Resmi Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum