Peringatan Nuzulul Qur'an
Peringatan Nuzulul Qur'an

Peringatan Nuzulul Qur’an Hanya Ada di Indonesia! Kok Bisa?

Diposting pada 73 views

Dibuka dengan lantunan sholawat nabi yang merdu nan menenangkan oleh Tsamrotul Muna, pada malam Ahad, 7 Maret 2026, seluruh santri Pondok Pesantren Al- Munawwir Komplek Q berkumpul di musholla barat dengan semangat memperingati Nuzulul Qur’an sekaligus penutupan rangkaian acara Program Khusus Ramadhan atau yang biasa disingkat menjadi PKR 1447 H. Oleh Master of Ceremony Fariha Fauziah, peringatan ini dipandu dengan lantang dan semangat, membawa santri untuk terus fokus dalam acara peringatan Nuzulul Qur’an ini. Dilanjut dengan rangkaian acara yang kedua, yakni pembacaan ayat Al-Qur’an oleh Filza Nailu Syifa yang berlangsung khidmat disimak seluruh santri. Sebelum memasuki rangkaian acara inti, lurah Pondok Pesantren Komplek Q yaitu Kholishotun Niswah berdiri di mimbar menyampaikan sambutan singkat mengenai rasa syukur atas terselenggaranya acara PKR yang berjalan lancar dan tuntas. Kemudian seluruh rangkaian acara PKR yang begitu padat jadwal, mulai dari ngaos bandongan, tadarusan, muqoddaman, khataman sholat tarawih, hingga kegiatan buka bersama itu “resmi ditutup”. Beliau menyampaikan doa dan harapan indah, “semoga rutinitas baik kita senantiasa berlanjut dan istiqomah dijalankan ketika berada di rumah.”

Mauidhoh Hasanah

Tiba di acara inti, mauidhoh hasanah kali ini diisi oleh Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. Sedikit bernostalgia, beliau teringat akan kenangan mengajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q atas dawuh KH. Ahmad Warson Munawwir secara langsung. “ Tahun 90 akhir saya ikut ngajar di Komplek Q, sebelumnya belajar balaghah bersama bapak Warson, kemudian didawuhi ngaji di sini angkatan pertama. Kalau Bapak Warson yang dawuh ya saya langsung nderekke.” Ungkap Abah Hilmy sembari mengenang masa-masa lampau tersebut.

Pada malam yang mulia tersebut, Abah Hilmy melemparkan canda gurau kepada santri komplek Q sehingga acara mauidhoh berjalan dengan menyenangkan.

Dibuka dengan pendapat beliau mengenai peringatan Nuzulul Qur’an, Abah Hilmy merasa skeptis dan mempertanyakan pernyataan mengenai tanggal turunnya Al-Qur’an. Kenapa tanggal 17 Ramadhan diperingati sebagai Nuzulul Qur’an? Bukankah di Al-Qur’an tertulis jelas surat Al-Qadr bahwa Al-Qur’an turun pada malam lailatul qadr? Tanggal 17 kan belum 10 hari terakhir ramadhan? Begitulah kiranya pertanyaan yang dilemparkan beliau. Dengan gaya bercerita santai, beliau menjelaskan dan menjawab pertanyaan sebelumnya dengan jelas. Bahwa pada saat ditetapkannya, sejarah mengatakan bahwa Bapak Soekarno selaku presiden pertama Republik Indonesia melakukan rembugan atau diskusi bersama Menteri Agama Bapak Nashir yang hasil rumusannya yaitu tanggal 17 Ramadhan dijadikan tanggal peringatan Nuzulul Qur’an dengan dikiaskan pada tanggal kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. “ Sealam dunia ini, Nuzulul Qur’an tanggal 17 ini ya hanya ada di Indonesia!” Tegas beliau dengan semangat.

Baca juga: Nuzulul Qur’an dan PKR: Selamat Bertemu kembali

Apa itu Mukjizat?

Melanjutkan interaksi dua arah, Abah Hilmy meminta insight kepada seluruh santri Komplek Q mengenai apa itu mukjizat Al-Qur’an. Kemudian Salsabila Amany mengangkat tangan menjawab, bahwa mukjizat adalah sesuatu yang diturunkan Allah kepada nabi untuk melemahkan umatnya. Disambung oleh Abah Hilmy,

أمرخارق للعادة مقرون بالتحدي سالم من المعارضة.

Gambaran mukjizat yaitu sesuatu yang tidak biasa, di luar nalar, disertai tantangan, dan menantang tapi harus menang. Bedanya dengan keramat apa? Keramat tidak disertai dengan istilah “menantang”.

Maka kemudian Abah Hilmy menegaskan bahwa tujuan mukjizat yaitu:
1) Menegaskan bahwa yang membawa mukjizat benar-benar utusan Allah.
2) Menegaskan bahwa yang disampaikan utusan tersebut adalah wahyunya Allah, risalah ilahiyyah.

Mauidhoh Hasanah Abah Hilmy
Mauidhoh Hasanah Abah Hilmy
Syarat Sah Mukjizat

Dilanjutkan pembahasan mengenai mukjizat. Syarat sah mukjizat ada 2, yakni:

1) Mukjizat Madhiyyah.

Mukjizat Madhiyyah bersifat materiil, indrawi, bisa dirasakan panca indra, bisa disaksikan, dan bisa dirasakan. Mukjizat ini dianugerahkan kepada seluruh nabi dan akan hilang dengan sendirinya ketika nabi-nabi ini telah wafat. Seperti contohnya mukjizat pada Nabi Ibrahim yang tidak merasakan panas, mukjizat tongkat sakti Nabi Musa, mukjizat Nabi Isa menghidupkan orang mati, dan banyak lainnya.

2) Mukjizat Aqliyah Ma’nawiyah.

Mukjizat ini hanya dimiliki Nabi Muhammad SAW, yaitu berupa mukjizat Al-Qur’an. Sifatnya khalidah (kekal selama-lamanya), dan barangsiapa memikirkan, menekuni, meneliti dari padanya maka bisa mendapatkan berkah, ilmu, dan mukjizatnya.

Bentuk Bentuk Mukjizat Al Qur’an

Kemudian dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an ini, Abah Hilmy menyampaikan lebih banyak perihal mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur’an.

1) Kemukjizatan Al-Ikhbar bil Ghaib.

Al-Qur’an bisa memberitahu hal-hal ghaib, memberitakan hal lampau maupun masa depan. Al-Qur’an tidak membersamai kejadian, namun ia mengetahui dengan jelas apa yang sudah dan akan terjadi, seperti contohnya kisah sejarah umat terdahulu dan gambaran masa depan ketika terjadinya hari kiamat.

2) Kemukjizatan Al-Ikhbar Al-’Ilmi (ilmiah).

Al-Qur’an menjadi petunjuk penelitian juga pengkajian bagi umat manusia karena di dalamnya memuat ayat dan isyarat yang menuntun umat menemukan ilmu pengetahuan. Contohnya penelitian Prof. Mauris Bukhair yang meneliti mengenai Fir’aun, penelitian mengenai janin dan penciptaan manusia yang secara literal tertulis di Al-Qur’an.

3) Kemukjizatan I’jaz Al-Bayani (kebahasaan).

Kemukjizatan ini merupakan inti dari i’jaz-nya Al-Qur’an. Dilansir dari sejarahnya, Al-Qur’an diturunkan ketika masa peradaban kata (hadlaratul kalimah). Maka kemukjizatan Al-Qur’an ini terdapat pada pemilihan (fashahah) dan penempatan kata.

Dalam contoh pemilihan kata, mengapa Al-Qur’an menggunakan kata nazzala, sedangkan kitab yang lain (taurat dan injil) menggunakan kata anzala? Maka hal ini ditujukan untuk menegaskan perbedaan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur angsur, sedangkan kitab taurat injil diturunkan secara langsung. Kemudian dalam penempatan kata, Al-Qur’an tidak asal dalam menempatkan dan semua mengandung makna. Contohnya dalam kalimat iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’inu, mengandung makna “hanya kepada Mu”, berfungsi menyandarkan semuanya “hanya” kepada Allah yang satu tidak ada lainnya.

Baca Selengkapnya: 3 Hal yang Melatarbelakangi Nuzulul Qur’an

Maka sungguh agung dan Maha Benar Allah dalam menganugerahkan mukjizat pada setiap utusan Nya, terkhusus bagi Nabi Muhammad SAW yang melalui beliau diturunkan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang kekal (khalidah) bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an akan tetap dirasakan kemukjizatannya selama umat terus mempelajari, menekuni, memahami, dan mengamalkan dengan sebaik-baiknya dalam spiritualitas maupun ilmu pengetahuan, dalam ranah duniawi maupun ukhrawi.

Setelah Abah Hilmy menyampaikan mauidhoh hasanah, beliau lalu memimpin do’a bersama sebagai penutup dari acara pada malam hari itu.

 

Pewarta: Amalia Ryadlul Jannah

Dokumentasi: Media Komplek Q