Hijrah Batin: Refleksi Kisah Nabi Nuh di 10 Muharram

Diposting pada 116 views

 

Bulan Muharram tak hanya menjadi sebuah permulaan, penanda tahun baru dalam Islam (Tahun Hijriah), tapi juga waktu istimewa yang mengandung peristiwa yang dialami nabi-nabi terdahulu. Pada tanggal 10 Muharram, Allah menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihis salam dan para pengikut setianya dari banjir besar yang melanda bumi

Perahu Nabi Nuh bukan hanya sekadar sarana keselamatan. Ia adalah simbol dari ketaatan, keyakinan, dan keberanian keberanian beriman saat mayoritas menolak kebenaran. Di tengah cemooh kaumnya, Nabi Nuh tetap membangun kapal di atas daratan gersang karena yakin kepada janji Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْاۚ اِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ ۝٣٧

“Buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami dan janganlah engkau bicarakan (lagi) dengan-Ku tentang (nasib) orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (Q.S. Hud: 37).

Kini, meski tak banjir air, kita hidup dalam zaman yang dilanda banjir informasi, distraksi, dan ujian iman. Tidak hanyut oleh ombak lautan, tapi oleh distraksi dunia. Maka pertanyaannya: apakah kita masih punya “kapal” yang menyelamatkan dari tenggelam dalam arus zaman?

Kisah Ringkas Nabi Nuh

Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah salah satu rasul ulul azmi yang diutus kepada kaumnya untuk menyeru kepada tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala. Beliau berdakwah dengan penuh kesabaran selama 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia tinggal di antara mereka selama sembilan ratus lima puluh tahun…”
(QS. Al-‘Ankabut: 14)

Namun demikian, hanya sedikit yang mau mengikuti seruannya. Mayoritas kaumnya justru membangkang dan mendustakan risalah beliau. Mereka menolak dakwah Nabi Nuh, mengejeknya, bahkan menganggapnya gila. Karena keingkaran mereka telah melampaui batas, Allah pun menurunkan azab berupa banjir besar yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Allah menjelaskan peristiwa ini dalam firman-Nya:

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah deras. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, lalu bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”
(QS. Al-Qamar: 11–12)

Sebelum azab itu datang, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun kapal besar yang akan menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan para pengikut yang beriman. Meskipun berada di daratan gersang dan dikelilingi oleh ejekan kaumnya, Nabi Nuh tetap melaksanakan perintah itu tanpa ragu, karena yakin akan janji Allah. Ketika banjir itu datang, hanya mereka yang berada di dalam kapal itulah yang selamat. Allah menenggelamkan orang-orang yang menolak menaiki kapal itu bersama dosa-dosa mereka—termasuk anak Nabi Nuh sendiri, akhirnya tenggelam bersama dosa-dosa mereka.

Para ulama menyebutkan bahwa hari diselamatkannya Nabi Nuh dan para pengikutnya dari banjir besar itu terjadi pada 10 Muharram, bertepatan dengan Hari Asyura. Ibnu Rajab Al-Hanbali meriwayatkan hal ini dalam kitab klasik Lathāiful Ma‘ārif, yang mencatat sejumlah peristiwa agung yang terjadi pada tanggal tersebut. Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam bahwa keselamatan hanya datang bersama keimanan dan ketaatan kepada Allah, bukan karena kedudukan, keturunan, atau jumlah pengikut.

Makna Safinah Sebagai Simbol Keselamatan

Nabi Nuh membangun kapal yang bukan sekadar alat transportasi sebagai sarana hijrah dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah simbol agung dari ketaatan tanpa syarat, perlindungan Allah, dan keteguhan iman di tengah badai ejekan dan kesendirian. Ketika Nabi Nuh diperintahkan untuk membangun kapal, belum ada tanda-tanda akan datangnya banjir. Tanah masih kering, langit masih terang, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Namun beliau tidak menunda atau meragukan perintah itu. Allah berfirman:

“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu-Ku, dan jangan engkau berbicara kepada-Ku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
(QS. Hud: 37)

Nabi Nuh tetap membangun kapal di daratan luas, tanpa tahu dari mana air akan datang, hanya karena yakin bahwa perintah Allah pasti benar. Inilah bentuk ketaatan hakiki, di mana logika manusia tunduk kepada wahyu Ilahi.

Selama proses membangun kapal, kaumnya terus mengejek dan mencemoohnya. Dalam ayat selanjutnya, Allah menggambarkan:

“Dan mulailah Nuh membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya melewatinya, mereka mengejeknya. Nuh berkata: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejekmu seperti kamu mengejek (kami).’”
(QS. Hud: 38)

Namun ketika banjir benar-benar datang, semua ejekan berubah menjadi tangisan. Allah menyelamatkan orang-orang yang sejak awal menaiki kapal, yaitu mereka yang percaya kepada Nabi Nuh sebelum bencana datang. Bahkan anak Nabi Nuh sendiri tak selamat, karena memilih untuk mencari perlindungan sendiri tanpa ikut kapal:

“Anaknya berkata: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat melindungiku dari air bah.’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain yang diberi rahmat.'”
(QS. Hud: 43)

Ini menjadi pelajaran besar:

  • Kapal adalah simbol jalan keselamatan yang disediakan Allah melalui ketaatan.
  • Ejekan dan kesendirian adalah ujian dalam mempertahankan iman.
  • Keselamatan tidak diwariskan (nasab), tapi diraih dengan keyakinan dan amal.

Di zaman sekarang, kapal itu bukan lagi dari kayu, tapi dari ilmu, iman, dan adab. Orang yang mau bersabar membangunnya sejak dini akan siap menghadapi banjir zaman.

Refleksi Masa Kini: Banjirnya Bukan Air, Tapi…

Kisah Nabi Nuh dan banjir besar bukan sekadar cerita kuno, tapi ibrah (pelajaran) abadi. Dalam Al-Qur’an, Allah sendiri menyatakan:

“Sungguh, dalam kisah mereka terdapat pelajaran (ibrah) bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Yusuf: 111)

Hari ini, kita tidak dilanda banjir air seperti zaman Nuh. Tapi kita sedang menghadapi banjir zaman modern yang jika tidak waspada, bisa menenggelamkan akal, hati, bahkan iman.

1. Arus Besar Informasi yang Menjadi Distraksi

Data Global Digital 2024 (We Are Social & Meltwater) mencatat:

  • Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 7 menit per hari di media sosial.
  • 99% pengguna internet di Indonesia aktif di YouTube, WhatsApp, Instagram, dan TikTok.
  • 85,4% pengguna internet usia 16–24 tahun menyatakan bahwa internet dan medsos adalah sumber utama hiburan mereka.

Sementara menurut riset dari Jakpat (2023):

  • Lebih dari 60% remaja dan pelajar mengaku kesulitan fokus belajar karena terganggu notifikasi dan media sosial.

Ini membuktikan bahwa kita sedang berada dalam “banjir perhatian”, yang menggerus waktu belajar, ibadah, bahkan kemampuan berpikir mendalam.

2. Banjir Syahwat (Gaya Hidup Bebas dan Hedonisme)

Fenomena hedonisme digital sangat nyata. Generasi muda saat ini terpapar gaya hidup mewah, instant gratification, dan budaya “flexing” (pamer) di media sosial. Menurut laporan KOMINFO 2023, terjadi peningkatan signifikan dalam pencarian konten pornografi dan gaya hidup konsumtif di kalangan remaja.

Di tengah kondisi ini, kapal kita bukan terbuat dari kayu seperti milik Nabi Nuh, tapi dari:

  • Ilmu yang mendalam
  • Lingkungan yang shalih
  • Iman yang teguh
  • Adab yang terjaga

Tanpa itu semua, kita akan mudah terbawa arus zaman.

3. Pondok Pesantren dan Ilmu adalah Safinah Zaman Ini

Pondok pesantren hadir sebagai kapal di tengah badai zaman. Santri belajar bukan hanya dari kitab, tapi juga kesabaran, akhlak, hidup bersosial, dan menjauhkan diri dari godaan dunia luar. Di sinilah tempat membangun ketahanan batin.

Menurut laporan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI:

  • Per tahun 2023, terdapat lebih dari 36.000 pondok pesantren aktif di Indonesia.
  • Lebih dari 4,7 juta santri belajar di lingkungan yang relatif terjaga dari banjir digital dan syahwat modern.

Namun, seperti pada masa Nabi Nuh, tidak semua orang mau “naik kapal”. Ada yang mencemooh dari luar, merasa aman dengan status sosial, atau merasa tidak butuh bimbingan. Tapi justru yang bersabar dan ikut serta dalam proses itulah yang kelak akan selamat.

Jika di zaman Nabi Nuh banjir menenggelamkan rumah-rumah, hari ini banjir bisa menenggelamkan hati dan akal. Banjir konten dan distraksi bisa membuat kita lupa waktu, lupa ibadah, bahkan lupa siapa diri kita sebenarnya. Jika kita tidak membangun dan menaiki kapal berupa iman sekarang, arus zaman bisa menenggelamkan kita tanpa kita sadari.

Singkatnya, banjir zaman modern ini bisa berbentuk:

  • Gelombang syubhat (keraguan terhadap agama)
  • Banjir syahwat (gaya hidup bebas, hedonisme)
  • Arus besar informasi yang menyesatkan
  • Tekanan sosial yang memalingkan dari kebenaran

Kisah Nabi Nuh bukan sekadar sejarah. Ia adalah cermin bagi setiap generasi.
Setiap zaman punya banjirnya sendiri. Dulu banjir air, sekarang banjir informasi, nafsu, distraksi, dan godaan dunia. Tapi satu hal tetap sama: hanya yang berada di atas kapal yang selamat.

“Pada hari ini tidak ada yang selamat dari azab Allah, kecuali orang yang diberi rahmat.”
(QS. Hud: 43)

Bulan Muharram, terutama hari Asyura merupakan momen untuk memilih arah hidup. Apakah kita akan ikut naik kapal iman dan ilmu? Atau tetap menunggu di daratan, merasa aman, padahal bahaya sudah mendekat?

Referensi:

  • Lathaiful Ma’arif – Ibnu Rajab al-Hanbali
  • We Are Social & Meltwater, Digital 2024: Indonesia Report
  • Jakpat, Indonesian Digital Behavior Survey, 2023
  • Kemenag RI – Direktorat PD Pontren (Data Statistik Pesantren 2023)
  • go.id – Laporan Literasi Digital 2023
  • Imam Al-Ghazali – Ihya Ulumuddin

Redaktur: Fariha Fauziah

Picture by: famingija on unsplash