Bukan Sekedar Silaturahmi, Study Banding Jadi Momen Nostalgia Santri

Diposting pada 105 views

Apa yang terlintas di pikiranmu jika kamu melihat kalimat study banding?. Tentu tidak jauh dari berkunjung yang disertai dengan belajar dan berbagi pengalaman serta menmabah jalinan silaturrahmi.

Dalam rangkaian rihlah 2025 ini, Pondok Pesantren Almunawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta kembali melaksanakan study banding. Namun di dawuh kan oleh beliau K.H. Agus Najib, S.Ag, kurang pas jika disebut study banding, namun lebih pantas jika disebut sowan dan silaturahmi. Sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang dilaksanakan di pondok pesantren modern, pada tahun ini dilaksanakan di pondok pesantren salaf semi modern yang terletak di ujung Kabupaten Pamekkasan.

As Salafiyah dan Al Munawwir adalah “satu”.

Pondok Pesantren As Salafiyah Sumber Duko, Pakong, Pamekksan, Madura, Jawa Timur, mmerupakan pondok pesantren salaf semi modern dibuktikan dengan kentalnya sistem pengajian kuno dan sistem pendidikan modern yang nerjalan beriringan. Berdiri lebih dari satu abad, tepatnya pada 1922 M, membuktikan bahwa pesantren ini merupakan pesantren yang sudah tidak diragukan lagi ke-masyhur-annya 

Silaturahmi Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q Krapyak ke Pondok Pesantren As Salafiyah Pamekkasan bukanlah sekedar berbagi pengalaman, namun juga momen nostalgia. Pasalnya, ketua yayasan PP As Salafiyah Pamekkasan merupakan alumni Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L Krapyak Yogyakarta. Beliau, adalah Gus Muhammad Mudatsir, putra K.H. Muhammad Kholil yang juga merupakan santri K.H. Ali Maksum.

Adanya keterikatan antara pengasuh PP As Salafiyah dengan PP Al Munawwir, seakan sebagai sebuah ikatan batin antara seorang kyai dengan santrinya.  Rasa terimakasih yang mendalam disapaikan oleh Gus K.H. Achmad Mudatsir Muhammad Robi’, M.H., bahwasanya tuntunan pendidikan beliau di Krapyak sangatlah berpengaruh pada kiprah beliau sebagai ketua Yayasan As Salafiyah yang selain pada terapan sistem pengajarannya, namun nyantri di Krapyak menumbuhkan mindset modern sehingga sebuah pondok pesantren akan tetap seimbang dalam menghadapi tuntutan perkembangan zaman.

Tidak kalah menarik, cerita nostalgia disambung oleh pengasuh utama PP As Salafiyah Pamekkasan, K.H. Muhammad Kholil pada masa kepemimpinan K.H. Ali Maksum. Beliau dahulu termasuk santri yang kerap kali di dawuh-i dan dekat dengan K.H. Ali Maksum. Pasalnya, beliau, K.H. Muhammad Kholil memiliki panggilan khusus dari K.H. Ali, yaitu “Durro” sehingga sampai sekarang beliau seringkali dipanggi dengan Kyai Durro Kholil.

Beliau, K.H. Muhammad Kholil menceritakan sosok K.H. Ali Maksum yang oleh Bapak (K.H. Ahmad Warson) dikatakan, “Kyai tenan iku yo Kyai Ali”, yang artinya “Kyai yang sebenarnya adalah Kyai Ali”. Siapapun yang pernah mengenal K.H. Ali pasti mengakui ke-ngalim-annya, sesosok Kyai yang dapat merepresentasikan metode modern dan kontemporer. Tentu seorang kyai ngalim akan menghasilkan murid-murid yang ngalim pula.

K.H. Kholil juga menyaksikan keistimewaan Mbah Ali, begitu para santri akrab memanggilnya, yang dapat mengetahui santrinya yang tidak sorogan dan tidak mengikuti kegiatan pondok. Mbah Ali akan menakzir santrinya dengan di dawuhi memijat beliau. Dengan begitu, Mbah Ali secara tidak langsung membangun ikatan yang tidak hanya sebagai murid dan orangtua, namun juga layaknya seorang orangtua kepada anaknya.

Sambutan Al Munawwir Komplek Q

Rangkaian acara selanjutnya adalah penyampaian sambutan oleh K.H. Agus Najib, S. Ag., dan Dr. K.H. Thoifur Mawardi, M.Si, sebagai perwakilan pengasuh. Beliau menyampaikan rasa terimakasih yang begitu mendalam yang telah disambut dengan sangat baik dan meriah, selanjutnya tidak lupa beliau menyampaikan permintaan maaf sebab tidak dapat memberikan apapun kecuali rasa senang dan bahagia yang insyaallahakan menular.

Sebagai penutup, K.H. Agus Najib, S.Ag., menyampaikan salam ta’dzim dari Ibu Ny.H. Khusnul Khotimah Warson dan salam ta’dzim dari K.H. Ahmad Munawwar yang belum berkesempatan untuk silaturahmi ke Pamekkasan dan ditutup dengan berdoa bersama. Rangkaian acara selesai dan seluruh asatidz, pembina, dan peserta.

Semoga dengan silaturahmi ini, darah keilmuan dan darah kesantrian akan selalu mengalir di hati dan jiwa kami sehingga dapat mewariskan dan meneruskan perjuangan para kyai dan ulama’.