Pernah merasa sudah hafal ratusan bait Alfiyyah, tetapi ketika diminta menjelaskan maknanya justru bingung? Atau bahkan belum sempat menyelesaikan hafalannya karena kesibukan kuliah? Ternyata, menghafal saja memang belum cukup. Berangkat dari persoalan itulah lahir sebuah kitab ringkasan yang kini digunakan di Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q.
Asal Usul Kelahiran Kitab
Nadzom Alfiyyah adalah syair tata bahasa Arab (nahwu dan shorof) karya Imam Ibnu Malik yang terdiri dari 1002 bait. Kitab ini sudah sangat populer di berbagai pondok pesantren di Indonesia.
Banyaknya jumlah bait Nadzom Alfiyyah menjadikan proses menghafal membutuhkan waktu yang lama, belum lagi waktu untuk mempelajari ma’na nadzhom satu persatu. Berawal dari keresahan pengurus Madrasah Salafiyyah 3 yang mendapati sedikitnya santri yang berhasil menghafal 1002 bait dalam kurun waktu yang telah ditentukan, dikarenakan mayoritas santri adalah mahasiswa, sehingga waktu yang mereka punya terbagi antara kuliah dan menghafal alfiyyah.
Dari situlah muncul ide untuk menyusun kitab ringkasan Nadzom Alfiyyah. Penyusunan kitab ini dipimpin oleh KH. Agus Najib Sholih bersama dewan pakar yaitu Dr. KH Habib A. Syakur, M.Ag., didukung oleh para pembahas yaitu Ust Moh. Jafar, S.H.I., M.H., dan Ustz. Badi’us Solichah, S.S., M.A., serta tim talkhis dari Madrasah Salafiyah 3 yaitu Atavia Amirotul A., Dela Amelia, Dewi Ayu M., Hamidah Nurul K., Hanin Nur Laili, Hilwa Seilana, Mazya Muriha, Nadiya Maulida, Nala Ikfina Utami, Noor Fadzilah, Salsabila Amany, Siti Mu’allimah, Siti Munawaroh, Ummi Alfiyyatur R.
Setelah sekitar dua bulan proses penyusunan, lahirlah kitab ringksasan Nadzom Alfiyyah yang berjudul “لتيسري فهم الدراسة اللغوية – جوهرة الألفية “ yang terdiri dari 331 bait nadzom alfiyyah.
Baca juga: Wisuda XXVI Khataman Alfiyyah Angkatan II & Imrithi Angkatan III Madrasah Salafiyah III: Momentum Pengukuhan Santri dan Peluncuran Kitab Baru
Fakta Menarik Tentang Kitab
Dinamakan Jawharat al-Alfiyyah (جوهرة الألفية)karena menghimpun permata-permata kandungan alfiyah dan memilih kaidah-kaidahnya yang paling berharga. Ia laksana sebuah permata: kecil ukurannya, tetapi besar manfaat dan tinggi nilainya.
Kemudian dalam 5 bait muqoddimah yang ditulis oleh KH. Agus Najib Sholih, semuanya berakhiran mim sukun, yang memiliki makna mingkem. Tidak banyak bicara, banyak berbuat.
Meskipun hanya terdiri dari 331 bait, kitab ini tetap memuat materi-materi inti nahwu, mulai dari al-kalam, nakirah-ma’rifah, kana wa akhawatuha, inna wa akhawatuha, maf’ul bih, ḥal, tamyiz, na’at, ‘athaf, hingga pembahasan idgham. Dengan demikian, santri tetap memperoleh gambaran utuh mengenai kaidah dasar bahasa Arab tanpa harus menghafal 1002 bait terlebih dahulu.
Yang menarik lagi, kitab ini tidak disusun untuk menggantikan Alfiyyah karya Imam Ibnu Malik.
Sebagaimana dawuh KH. Muhammad Fairuz Warson, Kitab ini hadir sebagai tangga awal agar santri lebih mudah memahami kaidah-kaidah pokok sebelum mendalami seluruh bait Alfiyyah secara utuh..
Kitab ini cocok digunakan di kalangan santri yang ingin bisa memahami kaidah nahwu untuk membaca kitab kuning dalam waktu yang relatif singkat. Kitab ini sangat mempermudah santri menghafal sekaligus memahami materi pokok. Selain itu, kitab ini sangat relevan dengan kondisi masa kini, khususnya santri mahasiswa yang harus membagi fokus antara kuliah dan kegiatan pesantren.
Ringkasan Alfiyyah ini menunjukkan bahwa belajar nahwu tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang berat. Dengan memilih materi-materi pokok dan menyusunnya secara lebih ringkas, kitab جوهرة الألفية dapat menjadi langkah awal yang memudahkan santri memahami kaidah bahasa Arab sebelum mendalami keseluruhan isi Alfiyyah. Bagi santri, terutama yang memiliki keterbatasan waktu, kitab ini layak menjadi salah satu referensi belajar yang praktis sekaligus tetap menjaga substansi keilmuan.
Penulis: Wulan Aprilia
Narasumber: Salsabila Amany & Nala Ikfina Utami
Sumber Gambar: Media Komplek Q
