Ilustrasi sampah
Ilustrasi sampah

Darurat Pengelolaan Sampah di Yogyakarta

Diposting pada 54 views

Tumpukan sampah dimana-mana. Di pinggir jalan, di atas flyover, di dekat stasiun dan fasilitas umum, di dekat stadion, di dekat pusat kuliner, bahkan di dekat destinasi wisata yang notabene adalah kebanggaan Kota Yogyakarta. Sungguh suatu pemandangan yang memprihatinkan. Belum lagi bau tidak sedap yang ditimbulkan. Semboyan “Yogyakarta Berhati Nyaman” yang selama ini melekat pada Kota Yogyakarta seolah kehilangan nilainya.

Sebagai tindak lanjut atas permasalahan tersebut telah dibangun suatu fasilitas pengolahan sampah yaitu Intermediate Treatment Facility (ITF) pusat karbonasi yang berada di Bawuran, Pleret, Bantul. Fasilitas ini saat ini telah masuk dalam masa uji coba pada Selasa (11/03/2025) dengan kapasitas 50 ton per hari. Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyatakan bahwa, “ITF Bawuran mendapat izin dari Dinas Lingkungan Hidup untuk menginsinerasi 50 ton sampah residu per hari, sementara untuk total kapasitasnya ITF Bawuran dapat menangani sampah hingga 300 ton per hari. Sehingga, sisa kapasitas dari fasilitas ini akan dioptimalkan melalui kerja sama dengan Kabupaten/Kota di DIY” (bantulkab.go.id 11/03/2025).

Kabar pengadaan fasilitas pengolahan sampah tersebut tentu menjadi kabar baik bagi seluruh warga Yogyakarta. Namun perlu diperhatikan bahwa fasilitas pengolahan tersebut tetap memiliki keterbatasan kapasitas pengolahan sementara jumlah volume sampah yang dihasilkan semakin bertambah. Oleh karena itu diperlukan partisipasi dari masyarakat sejak dini dalam pengelolaan sampah.

Saat ini pengelolaan sampah banyak berfokus hanya pada mengumpulkan, memilah, lalu membuang secara terpisah. Bahkan banyak orang menggunakan cara pembakaran untuk menghilangkan sampah tersebut. Hal itu sebenarnya cukup efektif untuk menanggulangi sampah yang menumpuk, akan tetapi dampak negatif seperti asap pembakaran, residu bakar, dan lainnya tentu kurang baik untuk lingkungan kedepannya. Lantas bagaimana pengelolaan sampah yang baik dan bijak?

 

METODE PENGELOLAAN SAMPAH 6R

Metode pengelolaan sampah 6R merupakan metode untuk menanggulangi masalah sampah. Metode 6R yaitu Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Repair, dan Recycle.

  1. Rethink ( Memikirkan Ulang )

Pengelolaan masalah persampahan hendaknya dilihat dari dua sisi yaitu penyebab sampah dan pemanfaatan akhir sampah. Pemanfaatan sampah sebaik apapun tidak akan berjalan baik kalau volume sampah yang dihasilkan terlalu berlebih. Oleh karena itu sebaiknya kita lebih bijak dalam memberi barang. Pikirkan ulang apakah barang tersebut benar-benar berguna sebelum membelinya. Pikirkan juga apakah barang tersebut sekali pakai langsung buang, atau bisa kita manfaatkan kembali. Semakin sedikit barang yang dibeli maka semakin sedikit sampah yang dihasilkan.

  1. Refuse ( Menolak )

Hal ini senada dengan poin pertama. Setelah berfikir ulang kita berhak menolak menggunakan barang atau bahan-bahan banyak menimbulkan sampah. Contohnya adalah penggunaan plastik sekali pakai. Yogyakarta sebagai kota wisata dan belanja tentunya banyak menggunakan kantong plastik sebagai pembungkus. Sudah saatnya para usahawan di Yogyakarta menolak penggunaan bahan plastik tersebut dan menggantinya dengan bahan yang lebih ramah lingkungan.

  1. Reduce ( Mengurangi )

Reduce berarti mengurangi penggunaan barang-barang yang berpotensi menimbulkan sampah. Sebagai contoh adalah menggunakan barang yang bukan barang sekali pakai. Contoh sederhana adalah menggunakah kotak bekal makanan sendiri pada saat membeli makan daripada menggunakan kantong sekali pakai, mengurangi penggunaan botol air mineral dan menggantinya dengan membawa botol air minum yang bisa digunakan berkali-kali,  membeli produk dengan kemasan besar daripada sachet-an. Salah satu alternatif  yang bisa dilakulan oleh usahawan di Yogyakarta adalah mengurangi penggunaan sedotan plastik.

  1. Reuse ( Menggunakan Kembali )

Seringkali barang atau bungkus yang kita pakai hanya sekali dipakai lalu dibuang ke tempat sampah. Padahal kita masih bisa memanfaatkannya untuk hal lain. Contohnya adalah menggunakan botol, galon air, atau kaleng bekas sebagai pot tanaman.

  1. Repair ( Memperbaiki )

Barang atau alat yang kita beli suatu saat pasti akan mengalami kerusakan. Dari mulai mainan, elektronik, pakaian, furniture, dan lainnya. Alih-alih membuangnya sebenarnya kita bisa memperbaikinya agar tetap bisa digunakan. Bisa juga kita modifikasi sehingga menghasilkan barang yang sama tetapi dengan tampilan berbeda. Contohnya apabila mainan anak rusak bisa kita perbaiki bersama dengan anak dengan cara di lem, atau dimodifikasi agar bisa digunakan kembali. Jika pakaian kita ada robek, kita bisa memodifikasinya dengan menambahkan kain atau dengan menambah bordir. Selain bisa menghemat biaya untuk membeli yang baru, proses perbaikan atau modifikasi ini juga bisa cukup mengasyikkan dan melatih keterampilan kita maupun anak-anak kita.

  1. Recycle (Mendaur Ulang)

Proses terakhir adalah mendaur ulang. Apabila barang yang kita gunakan memang sudah tidak bisa dipakai lagi, untuk diperbaiki juga sudah tidak memungkinkan, maka solusi terakhir adalah didaur ulang. Mendaur ulang ini selain mengurangi sampah juga memberikan nilai ekonomis pada barang yang sebelumya tidak terpakai. Sebagai contoh adalah pakaian bekas yang tidak terpakai, kainnya bisa kita manfaatkan untuk membuat tas selempang. Bahan- bahan seperti plastik, besi, dan kertas bisa didaur ulang menjadi barang baru.

Baca juga: Cara Menghentikan Kebiasaan Procrastination

 

BIOPORI

Pengelolaan sampah harus kita mulai dari lingkup rumah tangga. Selain pengelolaan sampah diatas, untuk sampah organik rumah tangga seperti makanan-makanan sisa, buah-buahan busuk, dedaunan bisa kita manfaatkan menjadi pupuk kompos yang baik untuk lingkungan. Pengelolaan sampah organik rumah tangga bisa dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan lubang biopori. Lubang biopori merupakan lubang silindris yang dibuat secara vertikal kedalam tanah dengan kedalaman 50 cm sampai 1 m. Bisa dibuat dengan menggunakan pipa pralon PVC ukuran besar yang dilubangi samping-sampingnya lalu dimasukkan kedalam tanah dan ditutup dengan tutup yang berlubang. Lubang tersebut bisa kita gunakan untuk membuang sisa-sisa sampah organik seperti sisa nasi, sayur, dedaunan, dll. Tambahkan sedikit tanah diatasnya lalu tutup. Dalam 2 bulan kita bisa memanennya sebagai kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk untuk menanam sayuran atau buah-buahan di rumah. Setelah dipanen, lubang ini bisa digunakan kembali untuk mengolah sampah organik selanjutnya. Lubang biopori selain digunakan untuk mengolah sampah organik juga dapat berfungsi sebagai resapan air hujan untuk mencegah banjir. Dalam satu rumah tangga bisa dibuat beberapa lubang biopori yang diletakkan disekitar rumah agar dapat menampung semua sampah organik yang dihasilkan.

Pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan sendiri. Pengelolaan yang baik dan bijak tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat kepada lingkungan, alam sekitar dan menjaga.

 

 

Penulis: Rahman Hakim Satria

Sumber Gambar: Pinterest