Jika Indonesia punya Kartini sebagai perempuan penggerak emansipasi wanita, maka pesantren juga punya perempuan hebat penggerak berdirinya pondok pesantren putri pertama di Indonesia.
Siapakah perempuan hebat dibalik perjuangan ini?
Beliau adalah Nyai Hj. Nur Khodijah, sosok hebat yang menginisiasi berdirinya Pondok Pesantren Putri pertama di Indonesia. Berbekal izin dari sang suami K.H. Bisri Syansuri dan kakaknya K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang sama-sama menjadi pendiri dan penggerak Organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama’ (NU). Beliau melancarkan gagasannya dan berdirilah Asrama Induk Putri yang berada di kawasan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang
Biografi Singkat Nyai Hj. Nur Khodijah
Nyai Hj. Nur Khodijah lahir di Tambakberas pada tanggal 21 Ramadhan 1314 H (23 Februari 1897). Beliau adalah putri dari pasangan suami istri, K.H. Hasbullah Said dan Ibu Nyai Lathifah. Beliau juga mempunyai seorang kakak bernama K.H. Abdul Wahab Hasbullah, yang nantinya akan menjadi salah satu diantara tiga tokoh besar pendiri organisasi kemasyarakatan terbesar di dunia, yakni Nahdlatul Ulama’. Terlahir dari lingkungan pesantren, Nyai Khodijah telah terbiasa belajar lebih dalam tentang agama dan kepesantrenan. Beliau juga ulet dan memiliki kepribadian yang selalu istiqomah dalam tirakatan (melakukan amalan), sangat sabar, serta telaten.
Pertemuan Nyai Khodijah dengan K.H. Bishri Syansuri (Suaminya) bermula saat Nyai Khodijah remaja menunaikan ibadah haji bersama sang ibunda, yakni Nyai Hj. Lathifah. Di Makkah, beliau bertemu dengan kakaknya, yakni KH. Abdul Wahab Hasbullah yang juga sedang menimba ilmu bersama sahabatnya, KH. Bishri Syansuri. tidak lama kemudian Kiai Wahab menjodohkan adiknya tersebut dengan sahabatnya. Beliau berdua kemudian menikah pada tahun 1914. Dari pernikahan tersebut, Nyai Khodijah dan Kiai Bishri dikaruniai 6 orang putra-putri, yaitu Kiai Achmad Athoillah, Nyai Moeasshomah, Nyai Solichah, Nyai Musjarrofah, Kiai Moechamad Ali Aschab, dan Kiai Moechamad Sochib. Cucu mereka, Nyai Muhassonah, menggambarkan Nyai Khodijah sebagai sosok yang romantis dan hangat dalam rumah tangga, terlihat dari panggilan “mad” antara suami istri. Mereka juga saling melengkapi dalam mengelola dan mengasuh pesantren, serta menerapkan pola asuh langsung dan intensif terhadap anak‑anak mereka.
Awal Mula Berdirinya Pesantren Putri Pertama di Indonesia
Salah satu tanda kebangkitan masyarakat muslim Nusantara pada 1919 ialah diterimanya santri putri di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, yang sebelumnya belum lazim di lingkungan pesantren meski di kota-kota besar sudah banyak berdiri sekolah untuk perempuan. Pendidikan perempuan di Nusantara memang sudah ada dan dirintis sejak abad ke-18, tetapi lembaga pesantren khusus perempuan baru muncul dan berdiri atas inisiasi Nyai Nur Khodijah bersama sang suami Kiai Bishri Syansuri.
Setelah pindah dari Tambakberas pada 1917, Kiai Bishri dan Nyai Khodijah kemudian merintis pesantren putri di pinggiran Jombang. Pada 1919 Nyai Khodijah mulai membuka kelas khusus putri di kawasan Denanyar. Daerah yang dulunya dikenal sebagai “daerah hitam” karena cukup rawan dengan hal-hal yang berbau maksiat. Perjuangan beliau cukup sulit pada saat itu, selain mengajar santri putri beliau juga diberikan amanah untuk mengelola pesantren putri pertama tersebut.
Awalnya pesantren hanya membuka empat kelas perempuan, pesertanya tetangga dan anak‑anak di sekitar rumah, lalu semakin berkembang dengan jumlah santri putri yang terus bertambah. Pada awalnya, tujuan pesantren putri lebih menekankan pendidikan dasar dan pembentukan wanita yang siap menjadi ibu yang baik, dengan pengajaran kitab‑kitab adab dan persiapan berumah tangga. Standar kemampuan saat itu masih terbatas pada membaca, berhitung, dan adab, meski bagi kalangan desa itu sudah menjadi hak istimewa. Seiring berjalannya waktu, kelas putri bertahan dan makin diminati, sehingga menjadi pelopor pendidikan perempuan di pesantren dan satu‑satunya pesantren putri di Jawa pada masa itu. Pendirian Pondok Putri Mamba’ul Ma’arif oleh Kiai Bisri dan Nyai Khodijah dianggap sebagai langkah awal pemberian pendidikan sistematis bagi perempuan Muslim di lingkungan pesantren, sekaligus bentuk perjuangan bagi kesetaraan gender dalam pendidikan keagamaan.
Baca juga: Mengenal Sosok Sayyidah Zainab Al-Kubro
Perkembangan dan Kontribusi Pesantren Putri di Nusantara
Pondok Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif saat ini sudah sangat maju, kitab-kitab yang diajarkan setara dengan kitab yang diajarkan di pesantren laki laki seperti kitab Fathul Mu’in, Tafsir Jalalain, Bulughul Maram, Al Hushun Al Hamidiyah, fiqih keputrian dan lain sebagainya. Selain itu, banyak santri Putri didikan Nyai Nur Khodijah yang sukses menjadi pemimpin di masyarakat dan banyak pula yang menjadi bu Nyai yang alim di masyarakat diantaranya Ibu Nyai Azzah (pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri Kediri), Ibu Nyai Adlan Aly Cukir, dan Ibu Nyai Munjidah Wahab (pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas).
Sejumlah peninggalan Nyai Nur Khodijah masih lestari hingga saat ini. Salah satunya adalah pengajian majelis Mujahadah Ratibul Atthos yang diikuti oleh masyarakat Jombang. Majelis ini diadakan setiap hari rabu untuk jama’ah perempuan dan kini majelis ini dikelola oleh Nyai Muhassonah Iskandar.
Nyai Khodijah menjadi salah satu contoh perempuan tangguh yang tak gentar akan tujuannya membangun kesetaraan dalam akses pendidikan utamanya keagamaan bagi perempuan pada masa itu. Perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak hanya menjadi simbol emansipasi perempuan di tanah Jawa, tetapi juga menginspirasi lahirnya tokoh-tokoh perempuan lain yang bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan, termasuk Nyai Nur Khodijah. Di Sisi lain, Kartini melalui pemikiran dan surat-suratnya yang kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, menegaskan pentingnya pendidikan bagi perempuan agar mereka tidak terbelenggu oleh tradisi yang membatasi ruang gerak dan potensi diri.
Semangat inilah yang seolah menemukan bentuk nyata dalam perjuangan Nyai Nur Khodijah. Jika Kartini bergerak melalui gagasan dan kritik sosial terhadap sistem feodal yang mengekang perempuan, maka Nyai Nur Khadijah melanjutkan perjuangan tersebut dalam ranah praksis, khususnya melalui pendidikan berbasis nilai-nilai Islam. Ia berupaya membuka akses bagi perempuan untuk memperoleh ilmu agama dan pengetahuan umum, sehingga mereka tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam pembangunan masyarakat.
Baca juga: Sayyidah Khadijah: Wanita Berjuluk Ratu Quraisy
Keduanya memiliki benang merah yang kuat, yakni keyakinan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar dan berkembang. Perbedaannya terletak pada konteks dan pendekatan. Kartini hidup di bawah tekanan kolonial dan adat yang kaku, sehingga perjuangannya lebih bersifat konseptual dan reflektif. Sementara itu, Nyai Nur Khodijah hadir di lingkungan pesantren dan masyarakat religius, sehingga gerakannya lebih aplikatif melalui pengajaran, pembinaan, dan keteladanan.
Dengan demikian, perjuangan Nyai Nur Khodijah dapat dipandang sebagai kelanjutan dari cita-cita Kartini dalam konteks yang lebih religius dan kultural. Jika Kartini menyalakan api kesadaran, maka Nyai Nur Khodijah menjaga dan mengembangkan nyala tersebut agar tetap hidup dalam kehidupan perempuan Indonesia, khususnya dalam memadukan antara pendidikan, moralitas, dan peran sosial.
Dalam rangka hari Kartini ini, perempuan harus lebih bisa berdaya, bukan untuk mengais validasi melainkan memberi ruang bagi diri sendiri, jika dulu perjuangan perempuan sudah terlihat walaupun memiliki akses yang terbatas, maka perempuan hari ini harus bisa lebih percaya diri dan bergerak lebih maju lagi. Tidak hanya perempuan, berbagai lini disekitarnya juga harus mendukung perjuangan ini.
Penulis: Nilnarohmah & Wulan Aprilia
Sumber Informasi: Peran Nyai Nur Khodijah Terhadap Pendidikan Pesantren Perempuan di Indonesia
Sumber Gambar: Nu Online



