Halal Bihalal 1447 H
Halal Bihalal

Halal Bihalal 1447 H: Sucikan Niat, Kuatkan Silaturrahmi, Istiqomahkan Ngaji dan Ngabdi

Diposting pada 67 views

Pada hari Kamis, 09 April 2026 M atau bertepatan dengan tanggal 20 Syawal 1447 H Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q kembali mengadakan halal bihalal yang diikuti oleh para asatidz asatidzah dan seluruh santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q yang dilaksanakan di Musholla Barat.

Acara diawali dengan lantunan sholawat oleh Tsamrotul Muna, diiringi hujan yang mengguyur menambah syahdu suasana pada malam hari itu.

Usai pembacaan sholawat nabi yang sangat merdu, suara pelantunan ayat ayat suci Al Qur’an oleh Nila Fadla Salsabila mulai terdengar, begitu menangkan hati.  Tak lupa penyampaian sambutan. Sambutan pertama disampaikan ketua Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q Kholisotun Niswah dan sambutan kedua disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q Gus Muhammad Kholid Arif Rozaq, S.Hut., M.M. Melanjutkan acara ketiga yakni Pembacaan Maulid dziba yang dipimpin oleh K. Agus Najib, S. Ag.

Memasuki acara inti yakni Mauidzoh hasanah oleh Dr. K.H. Muhammad Nilzam Yahya, M. Ag. Beliau menyampaikan bahwa halal bihalal mempunyai perkara yang luar biasa, seharusnya orang yang meminta maaf itu tidak menunggu hari raya, tapi memang momentum itu perlu diciptakan.

KH. Muhammad Nilzam Yahya, M. Ag.
K.H. Muhammad Nilzam Yahya, M. Ag.

Halal bihalal pertama kali berasal dari kearifan lokal Kyai Wahab Hasbullah dimana pada tahun 1948 presiden Soekarno meminta nasehat kepada beliau mengenai banyaknya pihak atau masyarakat yang belum cocok dengan mentri-mentri dan petinggi bangsa. Kyai Wahab menyarankan untuk membuat acara halal halalan dalam istilah bahasa Jawa atau yang sekarang kita kenal dengan halal bihalal. Yang dimaksud Halal bihalal Kyai Wahab disini adalah saling meminta maaf kepada orang lain, terutama kadang dalam politik itu ada yang tidak cocok, tapi ketika hari raya menjadi cocok, karena saling memaafkan. Itulah kehebatan Kyai Wahab dalam pendekatan untuk memecahkan masalah.

Lebaran juga identik dengan memberi uang atau Tunjangan Hari Raya (THR) untuk saudara-saudara walaupun saudara kita kaya raya, tapi THR itu dianggap sebagai zakat untuk anak-anak kecil yang belum bisa “nyambut gawe” dalam artian bekerja.

K.H. Nilzam bercerita ” Sayyid Ali Zainal Abidin cicit Rasulullah SAW saat beliau wafat dan dimandikan, di punggung beliau ada atsar yang berwarna hitam, ternyata selama hidupnya ketika malam hari  beliau membawa gandum yang akan diberikan kepada orang- orang faqir Madinah, penduduk Madinah tidak  tahu yang memberikan itu adalah Sayyid Ali Zainal Abidin sampai ketika beliau wafat tidak ada lagi makanan di depan pintu orang orang faqir Madinah.”

K.H. Nilzam Yahya juga menyampaikan bahwa rahmat Allah itu bisa masuk pada orang- orang yang hatinya lembut sebagaimana firman Allah SWT QS. Ali Imron: 159

 …فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ 

” Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu….”

Baca juga: Fadhilah Al-Qur’an Tidak Hanya Membaca, Tetapi Juga Memahaminya

Ayat dasar halal bihalal QS. Ali imran:134

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ۝١٣٤

” yaitu orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Dari cerita Sayyid Ali Zainal Abidin yang suka berinfak dan bentuk beliau dalam pengamalan ayat diatas, K.H. Nilzam Yahya menambahkan cerita tentang K.H. Ahmad Warson Munawwir atau Bapak Warson yang suka mengajak ngopi, nyoto ( makan soto) beliau saat nyantri kepada Bapak Warson. Dari situlah K.H. Nilzam sangat banyak mengambil pelajaran.

Kemudian dalam ayat tersebut juga menjelaskan tentang menjaga amarah dan memaafkan orang lain. K.H.  Nilzam juga menyampaikan bahwa bapak Warson sangat bisa mengendalikan emosi dan mudah memaafkan. Beliau benar benar mengamalkan ayat tersebut.

Dalam suatu kesempatan saat KH Nilzam makan soto dengan bapak Warson, beliau bertanya kepada bapak Warson ” Njenengan kok bisa sepintar ini, sampai bisa mengarang kamus?” bapak Warson ngendikanyo belajar to zam, awet cilik aku wes ngapalke alfiyyah“.” Lah kok taseh saget sampek sakniki?” ” Yo muthola’ah, raono wong alim nek dunyo iki seng tetep alim tanpo muthola’ah” jawab beliau. Arti dawuh beliau diatas adalah “kalau mau pintar ya belajar, saya dari kecil sudah menghafal alfiyyah” “Kok masih bisa sampai sekarang?” ” Ya muthola’ah (mengulang ulang pelajaran), tidak ada orang alim di dunia ini yang tetap alim tanpa muthola’ah

Dan hasil dari kamus yang beliau buat itu, beliau gunakan untuk membangun pondok dan untuk kepentingan pondok. Semoga dengan adanya halal bihalal ini, semua santri, pengasuh, asatidz asatidzah bisa saling memaafkan.

Acara diakhiri dengan sesi mushofahah oleh seluruh santri Komplek Q beserta para asatidz asatidzah.

 

Pewarta: Wulan Aprilia

Editor: Zia Zahra Hudaya

Sumber Gambar: Media Komplek Q