Sosialisme Islam dalam Perspektif H.O.S Tjokroaminoto

Diposting pada 101 views

Bangkitnya Negara Indonesia untuk berjuang atas nama kemerdekaan tidak luput dari para tokoh-tokoh penggerak sosial di zamannya. Salah satunya adalah yang kerap kali kita kenal dengan sebutan nama H.O.S (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto. Beliau lahir di kota Ponorogo pada tanggal 16 Agustus 1883 dan wafat di usianya yang ke 51 tahun, merupakan pendiri partai Sarekat Islam yang sebelumnya bernamakan sarekat dagang islam. Partai tersebut menjadi organisasi pertama yang ada di Indonesia.

Triloginya yang sangat masyhur dalam usahanya membentuk semangat juang bangsa Indonesia yakni setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Istilah ini menggambarkan bagaimana beliau berjuang untuk membela negara melalui keyakinan aqidahnya. Beliau juga berpesan melalui tulisan di dalam bukunya yang berjudul “Memeriksai Alam Kebenaran: Sebuah Mahakarya Makrifat yang Terlupakan”.

Isi dari pesan tersebut menyinggung tentang bagaimana harusnya sesuatu dalam kebaikan agama itu lebih penting untuk dipikirkan agar dikenal dan diketahui daripada pendiriannya seorang pelajar yang mempergunakan setajam-tajam pikirannya. Dalam artian apa yang menjadi teori harus selaras dengan penerapan agama yang didalamnya terdapat banyak kebaikan-kebaikan dalam menentukan arah proses perjuangan kemerdekaan. Buku ini menjadi bagian dari memperkenalkan esensi ketauhidan dalam membela negara yang ditulis sendiri oleh maha guru HOS Tjokroaminoto.

Baca Juga:  Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Makna politik dalam sosialisme islam menurut perspektif  HOS Tjokroaminoto ialah politik sebuah usaha untuk mengatur  negara. Oleh karena itu praktek politik harus memiliki tujuan untuk merebut kekuasaan negara dari para kolonial Belanda. Dalam kaitan islam dan politik beliau menganut landasan Al-qur’an dan hadist sebagai bentuk motivasi atas semangat juang kemerdekaan. Beliau mendasarkan bahwa sumber dari segala kekuasaan ialah Allah SWT, namun wujud pelimpahan wewenang kekuasaan itu berada di tangan rakyat. Dengan begitu tujuan terhadap cita-cita kemerdekaan menjadi manifestasi dari amanah Tuhan dan amanah rakyat yang sama-sama harus di pertanggung jawabkan.

Dapat diambil kesimpulan bahwa semangat juang pahlawan ialah semangat ideologis nasionalis yang dibarengi dengan keimanan kepada Allah SWT, karna sumber pertolongan hakikat sejatinya terletak pada kuasanya Allah SWT, dibalik perjuangan jangan lupa untuk menyelipakan do’a sebagai bentuk penghambaan yang dibarengi dengan keyakinan iman.

 

Oleh: Diah Komalasari

Sumber:

Pictured by elshinta.com