Baitullah
Baitullah

Momentum Spiritual Tahunan: Relasi Antara Ibadah Haji, Puasa Arafah dan Iduladha

Diposting pada 36 views

Berkunjung dan beribadah ke Baitullah adalah impian setiap muslim, termasuk melaksanakan ibadah haji. Selain sebagai rukun Islam kelima, ibadah haji memiliki hikmah spiritual yang sangat besar, diantaranya adalah bentuk penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), penghambaan, dan taqarrub ilallah. Seringkali kita merasa sepi dan berusaha mencari kebahagiaan pada makhluk, mencari obat atas luka, kesedihan, penderitaan yang kita alami di dunia ini. Kita lupa bahwa ada Allah SWT, yang dekat dengan kita, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al- Baqarah ayat 186 yang berbunyi:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ۝١٨٦

Artinya:

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Dari ayat di atas dapat dikatakan bahwa obat dari segala penyakit, kesedihan, kegundahan yang kita alami adalah berdo’a dan taqarrub ilallah.

Dimanapun kita berada, kita bisa taqarrub ilallah, tapi di Baitullah kita akan lebih bisa merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Berdesakan dengan jutaan jama’ah haji disertai cuaca yang relatif panas akan menyadarkan kita atas status kita sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya. Selain itu, pahalanya 100.000 kali lipat lebih besar dari ibadah kita di rumah. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk pergi haji, hanya orang orang terpilih dan yang Allah kehendaki untuk datang ke rumah-Nya.

Puasa Arafah

Bagi umat Islam yang belum bisa berangkat haji, Allah SWT memberikan jalan keluar dengan menganjurkan puasa Arafah, puasa yang di laksanakan pada tanggal 9 dzulhijjah, bertepatan saat jama’ah haji wukuf di Arafah. Pahala puasa Arafah juga sangat luar biasa, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Waktu ini juga merupakan waktu mustajabnya do’a. Keutamaan-keutamaan puasa Arafah adalah  bukti kasih sayang dan penghiburan Allah SWT kepada hamba-Nya yang belum bisa melaksanakan ibadah haji. Puasa Arafah hukumnya sunnah bagi orang yang haji (sedang wukuf). Bagi orang yang wukuf hukumnya makruh. Orang yang wukuf dianjurkan memperbanyak dzikir, do’a dan mohon ampunan kepada Allah SWT.

Nama Arafah sendiri diambil dari kata عَرَفَ yang artinya mengetahui:
1.  Arafah merupakan nama gunung tempat bertemunya Nabi Adam dan ibu Hawa yang kemudian mereka saling mengetahui.
2. Hari Arafah adalah hari dimana Nabi Ibrahim AS mengetahui bahwa mimpi perintah menyembelih putranya adalah  benar dari Allah SWT.
3. Tempat Nabi Muhammad SAW menyeru di depan kaumnya untuk yang terakhir kali.
4. Tempat wukuf orang yang haji.

Iduladha

Setelah melalui proses tazkiyatun nafs, penghambaan, pengendalian nafsu dengan puasa, masuklah kita pada hari raya Iduladha, hari perayaan dan sukacita sekaligus sebuah panggung tauhid, dimana seorang hamba diajak untuk merenungkan kembali hakikat kepemilikan bahwa segala sesuatu yang melekat pada dirinya, termasuk hal-hal yang ia cintai, sejatinya adalah amanah Allah SWT, titipan yang harus senantiasa kita jaga dan siap kita kembalikan kapanpun. Kepemilikan kita bersifat semu atau fana’, sedangkan kepemilikan Allah bersifat abadi.

Baca juga: Fihi Ma fihi: Tentang Satu Hal yang Tak Patut Dilupakan

Selain memahami keesaan Allah SWT diatas, kita juga diajarkan tentang pengorbanan. Untuk menguji keimanan seseorang tidak cukup hanya dengan jawaban lisan, melainkan aktualisasi iman dalam tindakan nyata, seperti dalam surat  Al-Ankabut ayat 2:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ  ۝٢

Artimya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?.”

Allah akan menguji kita dengan hal-hal yang seringkali kita anggap milik kita, harta, jabatan, pasangan bahkan keluarga, sebagaimana kisah nabi Ibrahim AS yang ikhlas melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya dan keikhlasan itu terlihat dari Nabi Ibrahim yang menyiapkan proses penyembelihan itu sendiri.

Pada detik detik sebelum pisau mengenai leher Nabiyullah Ismail AS, Allah SWT menggantikannya dengan seekor domba, ini membuktikan bahwa Allah SWT tidak menginginkan kebinasaan hamba-Nya, karena tujuan dari ujian tersebut bukanlah pengorbanan itu sendiri, melainkan untuk meningkatkan kualitas dan derajat iman serta keikhlasan hati.

Keutamaan-keutamaan yang Allah limpahkan di waktu Arafah dan Iduladha itulah waktu keterikatan spiritual umat Islam di seluruh penjuru bumi, baik yang sedang berhaji ataupun tidak. Semuanya berlomba-lomba dalam waktu yang bersamaan membersihkan diri dan berseru mengagungkan kebesaran Allah SWT.

 

Penulis: Wulan Aprilia

Sumber Gambar: Pinterest

Sumber Informasi:

Ibadah Haji Ditinjau Dari Berbagai Aspek

Idul Adha Mengorbankan Dunia Menjemput Surga

Pandangan Abdul Hakim Bin Amir Abdat Terkait Pelaksanaan Puasa Arafah Dalam Perspektif Fiqh dan Astronomi