Potret Jama'ah Haji Putri
Potret Jama'ah Haji Putri

Cerita Ibadah Haji: Sebuah Pengalaman Spiritual yang Luar Biasa

Diposting pada 22 views

Setiap musim haji tiba, ingatanku secara otomatis kembali ke puluhan tahun silam -tepatnya pada akhir tahun 2003. Pada tahun itu aku mendapat anugerah bisa menjalankan rukun Islam kelima bersama ibuk dan adik laki-lakiku.

Rombongan dari KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) yang kuikuti -kalau tidak salah ingat- berjumlah hampir seratus orang dan aku adalah perempuan termuda dalam rombongan. Mungkin karena paling muda, saat hendak berangkat ada beberapa orang yang ‘menitipkan’ orang tuanya padaku.
“Mbak Almas, nitip Bapak Ibu nggih? Mangke kulo SMS mboten napa-napa nggih?,” (Mbak almas, nitip Bapak Ibu ya? Nanti saya SMS nggak apa-apa ya?)
Nggih,” (Iya). Dalam hati aku membatin: “Tapi ampun sering-sering SMS nggih,” (Tapi jangan terlalu sering SMS ya)
Hihihi. Ya gimana ya. Tarif SMS roaming saat itu masih mahal banget. Kirim atau terima SMS kena tarifnya 6000 rupiah. Lumayan, kan? 😅
Ada juga yang berpesan; “Dek Almas, kalau ke masjid, Mbah digandeng ya”. Dan beberapa pesan lain yang senada.

Di satu sisi ada semacam beban karena harus menjaga orang-orang sepuh, tapi aku juga senang karena dipercaya banyak orang. Ada kebanggaan tersendiri dalam diriku. Rasa bangga itu ternyata melenakan. Ada sombong -meski samar- yang menyelinap dalam diri. Dan karena itulah aku kena batunya. Astaghfirullahaladhiim.

Ya, di sana aku mendapat musibah. Aku yang saat berangkat merasa percaya diri bisa menjaga jamaah lain, bisa diandalkan, pada akhirnya justru malah merepotkan banyak orang. Musibah itu kualami saat sedang duduk mengantre untuk lempar jumroh. Awalnya aman. Entah bagaimana ceritanya, di saat kami masih duduk anteng menunggu giliran, tiba-tiba ada beberapa orang Afrika (saya menebak mereka dari Afrika karena melihat warna kulitnya) yang lewat di tengah-tengah kami. Mereka jalan begitu saja melompati kami yang duduk. Kami langsung menegur mereka -tentu saja- dengan bahasa isyarat. Tapi mereka tampak tidak peduli. Tetap lewat seenaknya aja. Sampai akhirnya terjadilah insiden itu. Salah satu dari mereka -yang badannya tiga kali badanku- menginjak kakiku. Kaget dooong. Aku spontan teriak kenceng banget saking syoknya. Tangisku pecah. Mungkin karena syok berat aku jadi pucat dan lemes. Takut terjadi apa-apa, oleh ketua rombongan akhirnya aku dibawa ke ambulans. Setelah tenang dan dirasa sudah kuat jalan, oleh tenaga medis aku diijinkan keluar dari ambulans. Baru beberapa langkah, aku lemas lagi. Tiba- tiba aja rasanya jadi gelap semua. Akhirnya aku dimasukkan lagi ke ambulans (keluar dari satu ambulans, masuk ke ambulans lainnya).

Baca juga: Momentum Spiritual Tahunan: Relasi Antara Ibadah Haji, Puasa Arafah dan Iduladha

Pada saat ditandu untuk dibawa ke ambulans, aku sempat mendengar ada jamaah haji lain yang mengucap istirja’. “Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun”. Mendengar kalimat itu aku menjadi sangat ketakutan. Dalam kondisi yang tak berdaya, aku kuatkan untuk berdoa. Mohon-mohon pada Allah. “Jangan sekarang ya Allah. Aku ingin hidup ya Allah”.

Aku berada di ambulans kedua ini lebih lama dari yang pertama. Setelah yakin aku sudah benar-benar kuat, aku pun diperbolehkan keluar. Sampai di tempat rombongan lagi, aku disambut dengan prihatin. “Ya Allah saakene. Ya Allah sabar ya nduk”. Aku diberi tempat untuk berbaring. Ada yang memijitiku, ada yang ngolesin minyak angin, ada yang ngipasi juga ada yang nyuapin makan dan minum. Ya Tuhan, anak muda yang sok-sokan mau ngejagain jamaah malah dijagain rame-rame sama jamaah. Malu banget ya Allah. Mohon ampun. Mohon ampuuun..

Kejadian tersebut ‘sukses’ menamparku dengan keras. Hanya karena sombong yang tak seberapa -yang datang diam-diam menyaru dengan rasa bangga- aku jadi lupa. Lupa kalau aku ini bukan siapa-siapa. Lupa kalau aku ini nggak ada apa-apanya.
Hamba malu, hamba menyesal, hamba mohon ampun ya Allah…

 

Penulis: Ning Almas Mustofa

Lahir di Rembang, 22 Juli 1983. Ibu dua anak yang menyukai crafting, musik, buku dan lain-lain kecuali masak.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi