Gus Baha : Berbuat Baik Tanpa Takut Dikomentari

Diposting pada 52 views

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang biasa disapa Gus Baha menjelaskan tentang “Melakukan Hal Baik Tanpa Perlu Takut Untuk Dikomentari”.

Berikut penjelasan Gus Baha:

Imam Syafi’I berkata,

مِنْ مَكَايِدِ الشَّيْطَانِ تَرْكُ العَمَلِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَقُوْلَ النَّاسُ إِنَّهُ لَمُرَاءٍ

Termasuk tipu daya setan salah satunya adalah meninggalkan amal karena khawatir adanya komentar dari manusia. Ketika ada orang tidak beramal karena takut dikomentari itu اِنَّهُ لَمُرَاءٍ ,sesungguhnya dia sedang pamer atau riya. Mensucikan amal dari pengaruh buruk setan secara keseluruhan itu sulit. Ketika menuntut atau mensyaratkan suatu ibadah itu harus sempurna maka akan kesulitan dalam menyibukkan diri dengan ibadah, kesulitan itulah yang menyebabkan kekosongan amal dan ketika kosongnya amal itulah puncak dari tujuan atau cita-cita setan. Oleh karena itu, para ulama berkata :

سِيْرُوْا اِلَى اللهِ عُرْجًا وَمَكَاسِرَ

Berjalanlah kepada Allah meskipun dalam keadaan pincang atau kita artikan tetaplah menuju kepada Allah meskipun dalam keadaan salah, hancur sekalipun.

Baca Juga:  Gus Baha : Meskipun Ngesot yang Penting Kita Menuju Allah
Ceramah Gus Baha

Dalam ceramah ini Gus Baha memaparkan khasnya tarekat syadziliyah itu tidak pernah menganggap kesalahan (tidak maksiat) itu sebagai kesalahan. Misalnya, saat kamu shalat dan sudah melakukan takbir, membaca al-fatihah, dan sudah membaca surat namun masih saja mengingat tentang uang saja, atau misal ketika kita menjadi imam, kita berfikir makmum setuju atau tidak dengan bacaan yang dibaca oleh kita, hal itu tidak dianggap salah oleh madzhab syadziliyah. Menurut Gus Baha alasan madzhab syadziliyah itu masuk akal.

قَلِيْلُ العَمَلِ مَعَ شُهُودِ المِنَّةِ مِنَ اللهِ خَيرٌ مِنْ كَثْيرِ العَمَلِ مَعَ شُهُودِ التَقْصِيرٍ

Jadi, amal yang sedikit namun kita sangat berterimakasih kepada Allah karena ditakdirkan melakukan amal tersebut itu lebih baik daripada amalmu banyak tapi selalu merasa salah. Alasan ini masuk akal karena ketika kamu ditakdirkan melakukan shalat itu sudah luar biasa di saat orang lain tidak ditakdirkan untuk shalat. Kamu membaca Al-Qur’an itu luar biasa ketika orang lain sedang menikmati perempuan yang haram, dugem, narkoba. Lalu, setelah kamu selesai shalat atau baca Al-Qur’an itu khatam tapi teringat hal yang saya lakukan itu diterima atau tidak oleh Allah SWT, berarti masih menganggap ibadah itu sebagai problem dan hal itu merupakan cita-cita setan yaitu menganggap ibadah sebagai problem atau masalah. Maka madzhab syadziliyah itu menganggap yang penting melakukan ibadah, itu lebih baik daripada memaksakan diri sempurna.

Oleh : Atani Salma

Sumber : Kanal Youtube

Photo by unsplash.com