Puasa Tasu’a dan Asyura: Makna, Sejarah, dan Keutamaan

Diposting pada 93 views

Mengawali tahun baru Islam tepatnya di bulan Muharram, kita akan menjumpai salah satu ibadah sunnah yakni puasa Tasu’a dan Asyura. Dimana puasa ini merupakan puasa yang dikerjakan Rasulullah SAW dan diperintahkan pula untuk dapat dikerjakan oleh umat Islam.

Makna Puasa Tasu’a dan Asyura

Tasu’a berasal dari kata bahasa Arab tis’a yang artinya sembilan. Puasa tasu’a dikerjakan pada tanggal 9 Muharram. Sedangkan asyura berasal dari kata bahasa Arab ‘asyara yang artinya sepuluh. Puasa asyura dikerjakan pada tanggal 10 Muharram.

Puasa tasu’a dan asyura adalah puasa sunnah yang dikerjakan saat memasuki tahun baru Islam di bulan Muharram. Yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala, bahkan puasa ini memiliki keistimewaan tersendiri yakni dihapus dosa satu tahun yang lalu. Tetapi apabila tidak dikerjakan tidak akan berdosa.

Baca Juga:  Kisah Tragis: Terbunuhnya Husein, Cucu Nabi pada 10 Muharram

Sejarah Puasa Tasu’a dan Asyura

Sejarah puasa asyura berawal dari ketika Rasullah SAW melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram. Kemudian beliau pun bertanya kepada orang-orang Yahudi tersebut, “Puasa apa yang sedang kau kerjakan?”

Lantas mereka (orang-orang Yahudi) pun menjawab: “Ini adalah hari penting. Hari dimana Musa dan kaumnya diselamatkan oleh Allah dari Fir’aun bahkan Allah menenggelamkan Fir’aun. Maka Musa berpuasa di hari ini sebagai rasa syukur, dan kami pun mengikutinya.”

Lalu Rasullullah SAW pun bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi). Maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk penghormatan kami terhadap hari tersebut”. Maka Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkannya kepada umat Islam.

Selain itu, juga ditegaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitabnya al-Um dan al-Imla’ bahwa disunnahkan puasa pada 3 hari yakni di hari kesembilan (tasu’a), kesepuluh (asyura), dan kesebelas pada bulan Muharram. Hal tersebut juga sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW terutama puasa tasu’a yakni untuk membedakan antara puasa nya umat Islam dengan kaum Yahudi.

Baca Juga:  Muharram dan Kelapangan Hati

Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّم وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).

Utamanya puasa tasu’a dan asyura yakni puasa yang menjadi puasa paling utama setelah puasa Ramadan. Puasa yang menjadi ibadah awal menyambut tahun baru Islam di bulan Muharram. Dan diriwayatkan pula bahwa Rasulullah SAW bersabda, puasa asyura tidak hanya pahala saja yang didapat, namun juga dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu.

 

Penulis: Zia Zahra Hudaya

Pictured by Detik.com

Sumber on NU Online