SEPASANG SEPATU

Posted on 2 views

Bermula dari ruang yang disinar-i cemprong (lampu minyak yang dikenal pada zamannya), sekarang sudah zaman modern tapi dirumah masih menggunakannya. Tetap harus disyukur-i karena masih dapat melihat dengan cahaya yang ada. Seperti biasa kegiatan dirumah berjalan pada umumnya, Bapak berangkat bekerja ke pasar dari sebelum fajar muncul, Mamak keliling rumah sebagai buruh cuci, aku dan kedua adikku bertugas sebagai anak yang membantu kedua orang tua untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Waktu berganti dengan begitu cepat, seakan tidak ada yang berubah dari kehidupan keluargaku. Tidak ada hal spsesial yang merubah kehidupanku menjadi lebih baik. Hari terus berganti, keluarga tetap mensyukur-i atas apa yang telah diberikan Sang Pencipta.

Masyarakat sekitar akrab memanggilku  Tole (sebutan orang jawa kepada anak laki-laki) dan aku anak pertama dari 3 bersaudara. Tahun ini aku duduk dibangku SMP kelas 9, adik keduaku tahun ini kelas 6 SD, dan si bungsu tahun ini TK besar. Tinggal menghitung beberapa bulan lagi kenaikan kelas dan pasti mengeluarkan banyak biaya untuk seragam sekolah dan lain sebagainya. Jadi, aku harus pintar mengelola uang jajanku agar bisa di tabung dan membeli kebutuhan maupun keinginin dengan uang sendiri, agar tidak memberatkan Bapak dan Mamak.

Kabut pagi yang mengiringi langkah pertama perjuanganku bersama sepeda tua milik keluarga. Mengayuh perlahan menuju rumah Bibi (tetangga berjarak 50 meter dari rumah), Bibi mengizinkanku membantunya membawa tiga kotak rezeki yang berisi donat, untuk diantarkan ke warung langganannya. Oh iya, biasanya Bibisendiri yang mengantarkan kotak-kotak donat itu ke warung langganannya. Tapi, karena aku berniat membantu orang tuaku, jadi aku berinisiatif untuk mencari upah dari tempat Bibi.  Beberapa menit kemudian sampai di warung pertama langganan Bibi.

“Tok…tok…tok, Assalamu’alaikum”, ucap salam dariku sambal menunggu pintu dibuka.

“Wa’alaikumussalam, eh Tole pagi-pagi sekali datang kemari”, ucap pemilik rumah.

“Hehe iya nih Bude, biar nanti gak telat sampai sekolahnya”, ucapku.

“Yasudah langsung taruh di tempat biasanya ya Tole”, ucap Bude

“Iya Bude, Tole langsung pamit ya Bude, Assalamu’alaikum”, ucapku sambil bersalaman.

“Wa’alaikumussalam, hati-hati dijalan ya Tole”, ucap Bude.

Melanjutkan perjalanan ke warung kedua, karena tidak boleh telat lagi ke sekolah. Aku beruasaha secepat mungkin mengayuh sepeda yang sudah cukup tua, kalau tidak pasti aku akan kena hukum lagi. Dua menit kemudian, sampailah di warung kedua langgganan Bibi.

“Assalamu’alaikum, Paklek”, ucapku memanggil beliau.

“Wa’alaikumussalam Tole, sudah lama tidak berjumpa”, ucap Paklek dengan senyuman.

“Kangen ya Paklek sama Tole?”, ucapku dengan tawa kecil.

“Lah iyo, Tole kan biasanya membawa keceriaan to”, ucap Paklek dengan kecerian.

“Hehe…, Paklek bisa saja, yaudah ini kotaknya Tole taruh sini, Tole gak bisa lama-lama Paklek, biar gak telat sampe sekolah, Assalamu’alaikum”, ucapku sambal bersalaman.

Terdengar suara lantang Paklek, ketika aku mulai mengayuh sepeda keluar dari warung beliau. Hatiku bahagia karena selalu ada aja yang memberiku semangat.

“Hati-hati dijalan Le, yang semangat belajarnya nggeh ben dadi wong berhasil”, ucap Paklek (dengan nada memberi semangat).

“Nggeh Paklek, maturnuwun pandongane”, ucapku dengan lantang (meng-aminkan dari lubuk hati yang paling dalam)

Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya sampai juga disekolah, tersisa satu kotak yang nanti saat istirahat aku jualkan ke teman-teman sekolah. Bersyukur Bibimengizinkanku untuk membantunya, walaupun sebenarnya Bibitidak tega jika memberikanku tugas itu. Tugasku mengantar dan mengambil kembali kotak-kotak donat itu keesokan harinya ketika mengantar kembali kotak donat yang baru. Biasanya Bibi memberiku upah 5 ribu rupiah, tapi jika satu kotak donat yang aku bawa terjual habis hari itu juga. Bibimemberiku bonus 5 ribu rupiah lagi, lumayan upahnya bisa ditabungkan sedikit demi sedikit menjadi bukit. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari bilik suara sekolah.

“Assalamu’alaikum, pagi anak-anak mohon perhatiannya, hari ini setelah jam istirahat diperbolehkan pulang karena ada rapat, persiapan ujian sekolah untuk kelas 9, terimakasih atas perhatiannya dan hati-hati dijalan saat pulang nanti, Wassalamu’alaikum”, ucap suara guru TU sekolah yang memberi pengumuman.

“Yeee…..”, teriak bahagia semua teman-teman ketika ada pengumuman pulang cepat.

Aku malah termenung memikirkan, mau dijual kemana donat-donat itu. Waktu berlalu hingga bebunyi bel yang menandakan pulang. Semua bergegas membereskan buku ke tas dan berlari keluar kelas bersorak gembira. Aku berjalan menuju sepedaku, menaiki dan mengayuh sambil berpikir harus kemana aku pergi menjualnya. Setengah perjalanan aku berhenti di pinggir jalan dekat  anak-anak SMA. “Sepertinya disini ramai, yasudah berjualan disini saja”, berbisik dalam hatiku.

Gerbang sekolah dibuka dan semua anak SMA satu persatu keluar dari gerbang, ada yang langsung pulang, ada juga yang berhenti dulu membeli jajanan disekitar sekolah.

“Donat-donat, dijamin lembut kak”, teriakku menawarkan donat (dengan senyum diwajahku).

“Donatnya kak, seribuan aja kak, monggo bisa dibeli kak”, ucapku kembali menawarkan donat.

Belum juga ada yang membeli (hati gelisah dan sedih), sampai sudah mulai sepi. Aku tetap berusaha menawarkan kepada kakak-kakak. Beberapa menit kemudian sudah sepi, tidak juga ada yang membeli. Akhirnya, aku mengikat kotaknya kembali ke sepeda dan bersiap untuk pulang karena sudah menjelang sore. Tiba-tiba ada seorang kakak laki-laki yang menghampiriku. 

“Adek jualan donat ya?”, tanya kakaknya. 

“Iya kak, mau beli berapa kak?”, ucapku dengan tersenyum.

“Sekotak itu aja dek”, ucap kakaknya. 

“Alhamdulillah, ini semua kak”, ucapku dengan mata berlinang, sambil membungkus dan memberikannya kepada si kakak lelaki itu.

“Ini kak, semuanya jadi 12 ribu rupiah”, ucapku. 

“Oh iya ini dek”, ucap kakaknya sambil memberikan uang bayarnya. 

Kakaknya membayar dengan uang 100 ribu rupiah sedangkan aku tidak ada kembalian. Akhirnya uang itu aku tukarkan dulu  di warung seberang jalan, karena kakaknya tidak ada uang yang pas.

“Tunggu sebentar ya kak saya tukarkan dulu untuk kembaliannya”, ucapku.  “Iya dek”, jawab kakaknya sambil tersenyum

Bersambung….

Karya: Hani Fadilah