Bulan sabit memancarkan sinarnya malu-malu. Hilal sudah terlihat meskipun tertutup mendung tipis-tipis, menandakan bergantinya bulan menurut perhitungan Qomariyah. Seluruh umat muslim berbahagia. Bagaimana tidak, pada hari ini, tepatnya mulai tadi malam kita telah memasuki bulan Rabi’ul Awwal.

Meskipun bukan termasuk dalam kategori bulan-bulan yang dimuliakan dalam syari’at seperti bulan Muharram, Rajab, dan lainnya, bulan Rabi’ul Awwal merupakan bulan yang mulia karena mengandung sejarah yang agung. Bulan ini tepat di mana manusia paling mulia, Sang kekasih Allah lahir dari rahim seorang wanita dari suku Quraisy bernama Aminah. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Muhammad ibn Alawi Al Maliki dalam kitabnya adz-Dzakhâir al-Muhammadiyyah, bahwa masa atau waktu tidak menjadikan Nabi Muhammad mulia. Namun justru masa atau waktu itulah yang menjadi mulia sebab Nabi Muhammad lahir. Dengan kata lain, Nabi-lah yang mengangkat derajat bulan tersebut, bukan sebaliknya.

Di pondok-pondok pesantren, para santri berkumpul di aula atau musala. Mereka membaca Maulid Ad-dziba’, mengimla’ kisah hidup sang kekasih Allah, tak lupa shalawat dan sya’ir-sya’ir berisi pujian kepada Baginda Nabi dilantunkan. Iringan musik dari alat-alat terbang turut meramaikan suasana, iramanya berpadu indah meski sesekali agak ngalor-ngidul tak tau arah.

Di dusun-dusun, suasana tak kalah riuh meski penerangan agak redup. Masjid-masjid dan langgar-langgar kecil terdengar bising oleh nada-nada indah perpaduan lantunan sholawat dan iringan genjring sederhana. Anak-anak dan muda-mudi tampak riang gembira bersama kawannya, bapak-bapak terlihat semangat namun tetap khidmat melafalkan Maulid Al-barzanji¸ sementara kaum ibu-ibu dengan agak terburu-buru datang menyusul dengan membawa seceret minuman hangat dan senampan jajanan tradisional untuk dinikmati bersama setelah acara yang biasa disebut srakalan itu usai. Kegiatan ini akan berlangsung setiap malam selama dua belas hari ke depan, tepat sampai tanggal kelahiran Baginda Nabi, dengan ceramah keagamaan bahkan menggelar acara pengajian akbar yang isinya mengisahkan perjalanan hidup Baginda Rasul sebagai penutupnya.

Selain acara srakalan yang diadakan setiap malam, beberapa daerah juga mempunyai tradisinya masing-masing dalam memperingati kelahiran Nabi. Kegiatan-kegiatan ini ada yang dilakukan menjelang bulan Maulid seperti ziarah, ataupun ketika bulan Maulid itu sendiri seperti Grebeg Maulid, Sekaten, pertunjukan wayang, dan lain sebagainya.

Sayangnya, pandemi Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda akan usai sehingga kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas nampaknya harus ditiadakan untuk sementara, mengingat dalam pelaksanaannya harus melibatkan banyak elemen dan menimbulkan kerumunan orang—sesuatu yang dilarang saat ini. Para panitia pengajian akbar dan panitia kegiatan Maulidan yang lain terpaksa membatalkan seluruh agenda yang telah jauh-jauh hari dicanangkan. Warga muslim tampak kecewa sekaligus dilemma karena mereka ingin tetap menyelenggarakan kegiatan rutin mereka namun peraturan dari pemerintah melarangnya.
Di sisi lain, ada sebagian golongan yang tetap bersikukuh menggelar acara maulidurrasul di tengah kondisi ini, namun dengan protokol kesehatan yang ketat seperti ruang lingkup yang terbatas dan waktu yang singkat. Di saat ini, peran pemerintah diperlukan agar tidak terjadi penggorengan isu oleh oknum tertentu. Kesadaran masyarakat juga penting, mereka harus sadar bahwa perayaan Maulidan tak selamanya harus dalam kapasitas besar, apalagi dalam situasi seperti ini. Perayaan Maulid tetap bisa dilaksanakan dalam lingkup sederhana dengan berbagai pertimbangan, tanpa mengurangi esensi dari Maulidan itu sendiri, yakni meneladani Nabi Muhammad SAW.

Sumber:

Oleh: Nur Kholifah

Foto: Dokumentasi Komplek Q

Leave a Comment