Prinsip Dalihan Na Tolu dalam Kepemimpinan

Diposting pada 83 views

Dalihan Na Tolu merupakan filosofis atau wawasan kultural yang menyangkut masyarakat dan hukum budaya istiadat Batak. Istilah tersebut menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Secara etimologis Dalihan Na Tolu berasal dari bahasa Batak. Kata Dalihan berarti “tungku” yang terbuat dari batu, Na artinya “yang”, dan kata Tolu memiliki arti “tiga”.

Dalihan Na Tolu memiliki arti sebagai tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, tungku tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Berbeda dengan tungku berkaki lima, jika satu kakinya rusak maka tungku tersebut masih bisa berfungsi. Akan tetapi, dengan sedikit penyesuaian penempatan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat.

Pada masyarakat Batak, Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi nilai budaya yang terwujud dari hubungan kekerabatan yang sangat kental berdasarkan ikatan darah (genologis) dan juga berdasarkan perkawinan yang berlaku secara turun-temurun.

Baca juga Sejarah Perang Ghathafan

Pada pemerintahan Siraja Batak berhasil mempersatukan pemerintahannya dengan menanamkan prinsip Dalihan Na Tolu sebagai pandangan kepercayaan Batak terhadap Mula Jadi Nabolon. Dalihan Na Tolu kemudian menjadi Mulajadi Na Bolon kepada Siraja Batak (Nenek moyang semua orang batak) yang merupakan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, pemimpin keagamaan dan Raja Adat.

Semua nilai-nilai yang terdapat dalam falsafah tersebut di atas sangat sesuai dengan aspek ajaran-ajaran muamalah dalam Islam, yaitu Hablun min an-Nanās. Adapun dalam aspek Hablun min Allah berbeda, sebab masyarakat suku batak mayoritas menganut agama Kristen, sehingga dalam urusan ibadah tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam. Akan tetapi, pada prinsip-prinsipnya berpegang teguh pada sikap amanah, mengingat tradisi budaya suku Batak sangat tidak suka dengan penghianatan. Demikian juga ketika ingin memutuskan suatu permasalahan harus sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan menjamin kebebasan anggota/warga negaranya. Selain itu, harus menegakkan keadilan dalam kepemimpinan dan menjamin terciptanya keputusan yang bermaslahah bagi semua pihak. Tradisi batak sangat kental dalam kekeluargaan sehingga segala keputusan akan mempertimbangkan kemaslahatan untuk masyarakatnya.

Oleh karena itu, jika seorang pemimpin sudah berhasil menjadi teladan bagi masyarakatnya, perlahan masyarakat  akan mengikuti dengan sadar. Pada akhirnya prinsip-prinsip tersebut dapat tersampaikan. Prinsip-prinsip yang ada pada Dalihan Na Tolu antara lain :

  1. Somba Marhula-hula

Ia memiliki arti “setiap orang itu layak dihormati tanpa meilihat fisik, materi dan status pekerjaannya”. Yang perlu dilandasi dari prinsip ini adalah sebuah pemikiran bahwa “hiduplah dengan sederhana, sebab kehidupan ini seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah”. Oleh karena itu, suatu saat orang yang berada di bawah kita akan berada di atas kita. begitu pula orang yang lebih lemah dari kita  akan menjadi lebih kuat dari kita.

  1. Elek Marboru

Seorang pemimpin harus merata dalam memberikan hak-hak dan kenyaman kepada masayarakatnya, karena prinsip ini bermakna “setiap orang harus berlaku lembut kepada sesama”. Apabila seorang pemimpin tersebut ramah kepada sesama, secara otomatis masyaraktnya akan senang juga ramah kepadanya.

  1. Manat Mardongan Tubu

Prinsip ini mengajarkan cara menjadi sorang pemimpin yang dapat  menjadi teman, nilai dari Manat Mardongan Tubu memiliki arti “toleransi dan mau belajar”, dan hal itulah yang harus ada pada jiwa pemimpin.

Oleh karena itu, prinsip tersebut efektif dipraktekan. Selain membentuk perilaku dan etika ia juga menjadikan seorang pemimpin bisa memimpin dengan ikhlas dan amanah.

Oleh      : Ibnu Amin dan Mawar Lanna Oktavia

Gambar: www.lawyersclubs.com

Sumber :

Armaidy Armawi, Kearifan Lokal Batak Toba Dalihan Na Tolu Dan Good Governance Dalam Birokrasi Publik, Jurnal Filsafat Vol.18, Nomor 2, Agustus 2008.

Defri Elias Simatupang, Kearifan Lokal Dahilan Natolu Sebagai Bingkai Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Danau Toba. Jurnal Kebudayaan, Volume 12, Nomor 2, Desember 2017.

Simatupang, Defri Elias, Kearifan Lokal Dalihan Na Tolu Sebagai Bingkai Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Danau Toba. Jurnal Kebudayaan, Volume 12, Nomor 2, Desember 2017.