Rambut laki-laki itu terus memutih, sementara istrinya mandul dan Tuhan belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan pada sang istri sejak awal pernikahan. Walaupun demikian, menyerah bukanlah pilihan. Bertahun-tahun doa selalu dipanjatkan agar Tuhan memberikan keturunan.

Zakaria adalah nama lelaki tersebut. Suatu hari ia menemui Maryam dalam mihrab. Ia temukan buah-buah dalam mihrab tersebut. Hal ini bukan yang pertama kalinya, Zakaria menemukan buah-buahan dalam mihrab Maryam. Tentu saja hal itu cukup mengherankan, Maryam tidak pernah keluar ke manapun, lantas dari mana datangnya buah-buahan ini?

“Wahai Maryam dari mana engkau memperolehnya?” tanya Zakaria.

Maryam menjawab, “Huwa min ‘indillah (itu dari Allah)”

Zakaria merasa bahwa tempat yang ditempati Maryam adalah tempat yang mustajab. Kemudian masuklah dia ke dalam mihrab tersebut dan berdoa kepada Allah untuk meminta keturunan. 

Datanglah malaikat kepadanya ketika berdoa dalam mihrab. Sebuah berita gembira disampaikan malaikat kepada Zakaria bahwa Allah akan segera memberinya keturunan. Bahkan keturunan yang akan diberikan kepadanya adalah calon nabi dari golongan orang-orang saleh (wa nabiyyan min as sholihiin).

Berita gembira itu tidak serta-merta ia percayai. Ia kembali menanyakan kebenarannya kepada Allah. Bagaimana bisa dirinya yang sudah sangat tua (al kibaru) dan istrinya adalah seorang yang mandul (imroatun aaqirun). Kemudian Allah berfirman, “Demikianlah Allah berbuat apa yang dia kehendaki.”

Kisah Nabi Zakaria memberikan pelajaran tentang keistiqomahan berdoa meskipun Allah tak kunjung mengabulkannya. Imam Ibnu Atha’illah as-Sakandari mengatakan dalam kitab fenomenalnya, Al-Hikam, “Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang  doamu, membuatmu putus asa.” Hal ini telah dicontohkan oleh Zakaria.

Lanjutan dari perkataan dalam Al-Hikam, “Karena dia menjamin pengabulan doa sesuai dengan pilihan-Nya, bukan sesuai dengan pilihanmu dan pada waktu yang diinginkannya bukan pada waktu yang kau inginkan.”

Penundaan terhadap doa yang kita panjatkan bisa jadi lebih baik dari pada doa yang segera dikabulkan. Terkadang di sini godaan datang dengan mengatakan, “Jika tekadmu kuat, Tuhan  sudah pasti akan mengabulkan doamu.” sehingga kita bisa merasa bahwa sudah saatnya doa ini diakhiri karena sudah pasti tidak dikabulkan.

Ada beberapa faktor kenapa doa tidak kunjung dikabulkan. Ada kalanya hal tersebut disebabkan karena masih adanya sifat buruk yang tidak bisa dihilangkan dalam waktu dekat, dalam arti sifat tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk hilang dari diri seorang pendoa.

Hal yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah seberapa kuat keyakinan kita terhadap pengabulan doa tersebut. Imam Ibnu Atha’illah menjelaskan bahwa janji yang tak dipenuhi oleh Tuhan hendaknya tidak merobohkan keyakinan kita kepada-Nya. Keraguan yang ada akan menyebabkan padamnya cahaya kalbu.

Keraguan, hati yang gundah serta gelapnya pandangan imam akan menyebabkan ia semakin tidak mengenal Tuhan. 

Keyakinan doa di masa pandemi

Dalam masa pandemi ini, sudah banyak ijazah-ijazah doa yang dibagikan oleh ulama kepada umat untuk diamalkan. Setengah tahun berjalan belum ada tanda-tanda melandainya kurva jumlah pasien Covid-19. Dalam keadaan seperti ini, hendaklah kita tidak menyerah. Terus memanjatkan doa yang disertai dengan usaha atau ikhtiar.

Tidak mengherankan apabila para ulama senantiasa mengimbau dengan ucapan, “Diakehi olehe sholawatan, olehe dungo. Tawakkal iki wajib tapi ikhtiyar yo wenang.”  

Tugas untuk menanggulangi virus corona ini sebenarnya bukan hanya tugas dokter dan tenaga kesehatan. Dibutuhkan masyarakat yang kuat dan sadar akan perannya masing-masing. Apabila dokter dan tenaga kesehatan memiliki peran menjaga pasien, pemerintah menyiapkan regulasinya, peneliti berperan dalam menemukan obat dan vaksin, maka kita sebagai masyarakat berperan dalam menjaga dan mematuhi protokol kesehatan.

Mengutip perkataan Gus Mus, “Kita bersama yang tidak bisa apa-apa, ya berdoa, masa berdoa tidak bisa. Tapi yang bisa apa-apa, kenapa tidak melakukan apa-apa?” Di samping terus mematuhi protokol kesehatan, kita yang hanya bisa urun dungo ini hendaknya tidak meremehkan dan berhenti berdoa. 

Oleh: Hafidhoh Ma’rufah

Photo by lemonsoup14 on freepik.com

Leave a Comment