Lahirnya Perempuan Berkelas Surga

Diposting pada 516 views

Lima tahun sebelum kenabian tepatnya tanggal 20 Jumadil Akhir lahirlah seorang bayi perempuan yang memancarkan sinar dari rahim Sayyidah Khadijah. Ya, dia adalah Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri dari pernikahan baginda Nabi Muhammad saw. dengan Sayyidah Khadijah al-Kubra.  Kitab Dzakhair al-‘Uqba fi Manaqib Dzawi al-Qurba menceritakan bahwa banyak wanita mulia yang hadir pada saat kelahiran Sayyidah Fatimah,  seperti Sayyidah Sarah (istri Nabi Ibrahim); Sayyidah Asiyah binti Muzahim; Sayyidah Maryam binti Imran; dan Sayyidah Syafuriya binti Syu’aib. Mereka membantu Sayyidah Khadijah melahirkan putrinya. Berdasarkan riwayat, Sayyidah Khadijah berkata, “Kemudian, aku melahirkan Fatimah, dan bayi itu bersujud di atas tanah, seraya mengangkat jemarinya.”

Telah kita ketahui bahwa julukan dari Sayyidah Fatimah adalah “az-Zahra” yang berarti bunga, yang  secara luas memiliki arti keindahan; yang bersinar; yang semerbak; dan yang cemerlang, namun tahukah kalian? Julukan yang Nabi berikan kepada putrinya tersebut ternyata memiliki makna tersendiri. Nama “az-Zahra” pada Sayyidah Fatimah merupakan penghormatan malaikat kepada putri kesayangan Baginda Nabi.

Semasa hidupnya, Sayyidah Fatimah senantiasa selalu beribadah, berdzikir,  berperilaku mulia dan sederhana, dan mengisi hidupnya  dengan ketaatan. Menurut riwayat, malaikat dapat mencium wanginya ketaatan dan busuknya maksiat, dan ketaatan ibadah Sayyidah Fatimah sangat semerbak hingga tercium oleh malaikat. Sayyidah Fatimah akhirnya mendapat julukan “Az-Zahra” (yang semerbak).

Baca juga Sebab Manusia Diangkat Derajatnya Oleh Allah

Sayyidah Fatimah merupakan wanita yang tidak pernah datang haid dan nifas setelah datang haid yang pertama kalinya sebagai tanda balighnya beliau, sehingga ibadahnya tidak pernah putus. Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya putriku Fatimah adalah seorang bidadari, karena dia tidak pernah mengalami haid. Dia dinamakan Fatimah karena Allah Ta’ala menghindarkan dirinya dari para pencintanya dari api neraka”.
Sayyidah Fatimah kecil merupakan putri kesayangan Nabi dan hiburan beliau kala itu. Segala penderitaan yang Nabi hadapi seakan terobati dengan kehadiran putri kesayangannya. Dari sekian banyak putri Nabi hanya Sayyidah Fatimah lah yang dapat menghibur hati Nabi, karena putri Nabi selain Sayyidah Fatimah telah menikah kala itu.

Baca Juga:  Sang Pionir Kamus Al-Munawwir, KH. Ahmad Warson Munawwir

Diriwayatkan suatu ketika Nabi Muhammad diperlakukan sangat buruk oleh kaum Kafir Quraisy. Kebencian mereka terhadap Baginda Nabi telah memuncak. Mereka menyiapkan kotoran unta yang merupakan kotoran dari perut bangkai unta yang telah mati beberapa hari sebelumnya. Mereka hendak melumuri kotoran unta tersebut ke badan Baginda Nabi ketika Nabi melakukan thawaf dan melaksanakan salat di depan Ka’bah.

Tibalah Nabi di hadapan Ka’bah dan melaksanakan salat. Ketika nabi sedang sujud seketika Abu Jahal langsung menjatuhkan kotoran unta tersebut ke atas punggung Nabi hingga berlumurlah kotoran di atas punggung Nabi. Seorang budak perempuan yang melihat kejadian tersebut langsung pergi menuju rumah Baginda Nabi dan memberitahu kejadian tersebut kepada Sayyidah Fatimah. Mendengar hal tersebut Sayyidah Fatimah yang saat itu masih berumur 8-9 tahun langsung bergegas menemui ayahandanya.

Baca juga Wafatnya Panglima Hebat Kesayangan Rasulullah Zaid bin Haritsah

Sesampainya di depan Ka’bah Sayyidah Fatimah melihat ayahandanya yang masih sujud telah berlumuran kotoran. Sayyidah Fatimah mendekati ayahnya tanpa memperdulikan bau busuk yang ada, dengan tangan kanannya ia bersihkan kotoran yang ada dibadan ayahnya sementara tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap air matanya sendiri yang terus mengalir. Saat itu belum ada perintah untuk keluar dari salat ketika ada najis maka Nabi menyelesaikan salatnya hingga salam.

Seusai salam Nabi sangat bersedih, bukan karena perilaku kaum kafir Quraisy terhadapnya, namun beliau sedih karena melihat putri kesayangannya menangis. Telapak tangan Baginda Nabi yang masih bersih (tidak terkena kotoran karena tertutup ketika sujud)  mengusap air mata putri kesayangannya yang terus mengalir deras, sementara putrinya terus membersihkan kotoran yang ada di tubuh Baginda Nabi. Begitu eratnya jalinan cinta seorang ayah dengan putrinya, saling menguatkan satu sama lain.

Baca Juga:  Merekam Jejak Sang Penguasa Perjalanan

 

Oleh: Syarifah Rufaida

Sumber :

Photo by Mohamed Nohassi on Unsplash