Dialog Sejarah Komplek Q

Dialog Sejarah: Napak Tilas Komplek Q

Diposting pada 36 views

Jumat (08/08/2025) telah sukses diselanggarakanya “Dialog Sejarah Komplek Q” sebagai salah satu dari beberapa rangkaian OSPEP 2025. Acara tersebut berlangsung dengan khidmat dan santri baru tampak semangat menyimak materi dari Bapak Dr. Moh. Thoifur sebagai narasumber dan Zuhaida Fathinatul Labibah sebagai moderator. Bapak Thoifur memperkenalkan sejarah Pondok Krapyak, Komplek Q khususnya yang berdiri pada tanggal 22 september 1989. Dengan harapan santri baru dapat mengenal tempatnya menimba pengetahuan sehingga lebih mudah dalam beradaptasi dan bertholabul ilmi.

 

Pondok Krapyak, Solusi Iman Mahasiswa Di Tengah Kebebasan Yogya

Bapak Thoifur menuturkan jika kota Jogja dikenal sebagai kota pelajar, bermacan perguruan tinggi dengan latar belakang berbeda, yang memiliki mahasiswa berbagai agama sehingga, mahasiswa muslim kerap kali di lema oleh hal tersebut, antara mempertahankan iman dengan toleransi perbedaan. Beruntungnya, di bumi Krapyak terdapat ulama kharismatik K.H. Ali maksum namanya. Beliau meminta Kyai Warson, santri sekaligus adik iparnya untuk mendirikan pesantren mahasiswa putri. Hal itu di amini oleh Kyai Warson  sampai berdirilah Komplek Q sebagai jawaban atas kerisauan mahasiswa dan arahan Kyai Ali.

Di sana berbagai fan ilmu diajarkan, kewajiban agama di jalankan, aqidah dan akhlaq ditanamkan, tempat berpulang mahasiswa selepas kuliah. Sehingga, mahasiswa tetap kokoh keimanannya dengan memiliki bekal ilmu agama yang mendalam di tengah gempuran kebebasan kota Jogja. Bapak Thoifur juga berpesan “di kampus dalam seminggu ada ngaji itu sudah bagus tetapi, kalau di pondok sehari saja meninggalkan mengaji itu namanya sudah nakal.”

 

Sepenggal Kisah Kyai Warson dan Karya Monumentalnya

Bapak Thoifur menjelaskan jika berbicara Komplek Q tentunya tak lepas dari pendirinya yaitu Kyai Warson, beliau sudah sepuh tetapi semakin kuat semangatnya dalam menyediakan tempat mencari ilmu untuk generasi setelahnya. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, akan tetapi juga mengamalkan ilmu pada setiap langkahnya untuk menjadi teladan bagi santrinya. Kyai Warson juga menuntaskan unsur pembentukan pesantren yaitu adanya Kyai, santri, masjid, pondok, dan kitab yang dipelajari. Lalu, seiring berjalanya waktu pesantren juga di makmurkan melalui kegiatan santri, manajemen, administrasi, kurikulum, penambahan unit, sampai pada tahap pengembangan hingga sekarang.

Selain itu, Kyai Warson juga mewariskan kamus Al-Munawwir yaitu kamus Arab-Indonesia terlengkap yang istiqomah dipelajari oleh pencari ilmu, berbagai pesantren, bahkan sampai mancanegara. Suatu ketika kamus tersebut hendak dibeli Negara Malaysia untuk diakui sebagai milikinya dengan harga sekian miliar  namun, keluarga ndalem menolak, karena wujud menjaga dan menghormati mahakarya penting Kyai Warson. Adanya kamus Al-Munawwir adalah bukti samudera ilmu Kyai Warson,  kamus tersebut selalu eksis padahal zaman terus berjalan, hal ini karena barokahnya Kyai Ali sang guru Kyai Warson dan kamus yang komprehensif. Demikian penuturan bapak Thoifur pada Dialog Sejarah Komplek Q.

Semoga kita semua dapat meneladani dan di akui santri Kyai Warson, Aamiin…

 

Redaktur: Ela Nur Hidayati

Editor: Fariha Fauziah

Arsip: Media Komplek Q